OJK Peringatkan Buka Tabungan Massal 25 Juta Warga RI Jangan Berujung jadi Rekening Dormant

OJK Peringatkan Buka Tabungan Massal 25 Juta Warga RI Jangan Berujung jadi Rekening Dormant

Ekonomi | sindonews | Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:45
share

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi mewanti-wanti agar pembukaan rekening perbankan bagi masyarakat berusia di atas 17 tahun atau program Satu Rekening Satu Pelajar, tidak hanya mengejar target kepemilikan semata hingga berakhir menjadi rekening pasif atau dormant.

Regulator menaruh perhatian serius terhadap keaktifan rekening tersebut untuk mencegah kerentanan keamanan finansial yang berpotensi dimanfaatkan oleh sindikat kejahatan digital. Baca Juga: Buka Rekening Gratis 25 Juta Warga Desil 1-4, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp1,28 Triliun

Peningkatan rasio kepemilikan tabungan formal di kalangan generasi muda saat ini dinilai telah menunjukkan tren yang sangat positif di tingkat nasional. Meski demikian, Friderica menegaskan bahwa tantangan perlindungan konsumen justru muncul ketika akun perbankan tersebut dibiarkan tanpa transaksi dalam kurun waktu lama.

"Sekarang 88 persen total pelajar di Indonesia sudah punya rekening lewat produk SimPel (Simpan Pelajar). Namun masalah di konsumen ini jangan sampai jadi dormant, karena kalau kartunya lupa ditaruh atau PIN ketahuan orang lain, bisa disalahgunakan untuk pinjol," kata Friderica selepas forum Rapat Koordinasi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Risiko penyalahgunaan data dan pengambilalihan akun rekening pasif dinilai kian nyata seiring maraknya penipuan serta pinjaman daring ilegal yang memburu rekening menganggur. Untuk mengantisipasi kerawanan tersebut, otoritas perbankan bersama pelaku industri jasa keuangan terus menggencarkan edukasi dan literasi langsung ke sekolah-sekolah agar nasabah pemula memahami pentingnya menjaga keamanan informasi data perbankan pribadi.

Baca Juga: 25,1 Juta Warga Desil 1-4 Punya Rekening Bermodal Rp50 Ribu Mulai November 2026

Pendampingan literasi tersebut tidak berhenti pada jenjang pendidikan dasar dan menengah semata. OJK merancang kesinambungan instrumen tabungan agar nasabah muda tetap terbiasa mengelola uang secara mandiri seiring bertambahnya usia.

"Anak-anak ini nantinya bisa pindah dari SimPel ke SiMuda, yaitu Simpanan Pemuda. Tabungannya bisa disisihkan tergantung target mereka, misalnya untuk beli properti atau masuk ke reksa dana," ujar Friderica.

Melalui skema Simpanan Pemuda (SiMuda), para pelajar yang mulai menapaki usia dewasa diarahkan untuk mendiversifikasi simpanan mereka ke instrumen pasar modal maupun aset berwujud. Pola pendampingan berkelanjutan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan berinvestasi sejak dini, sekaligus menjaga agar akun perbankan nasabah tetap aktif berputar.Keberlanjutan ekosistem finansial sejak usia dini ini diproyeksikan menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan ekonomi generasi penerus. Friderica menggarisbawahi soal konsistensi bimbingan perbankan menjadi penentu agar fasilitas rekening ini benar-benar memberi manfaat nyata.

"Harapannya tabungan-tabungan ini bisa menemani anak-anak dari mulai sekolah sampai nanti mereka dewasa. Makanya nasabah harus terus dibimbing supaya rekeningnya tidak jadi dormant," urai Friderica.

Teranyar, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menekankan bahwa alokasi anggaran Rp1,28 triliun untuk program satu orang, satu rekening tidak sekadar ditujukan memacu inklusi finansial, melainkan dipersiapkan sebagai sarana utama penyaluran bantuan pemerintah serta penggerak kegiatan produktif.

Kebijakan kepemilikan rekening perorangan tersebut dirancang menyasar jutaan masyarakat berpenghasilan rendah melalui skema pemberian saldo awal perbankan. Airlangga memaparkan bahwa fasilitas rekening ini menjadi bantalan penting agar distribusi bantuan langsung tunai maupun aktivitas permodalan masyarakat berjalan efektif dan tepat sasaran.

"Setoran awal disiapkan Rp50.000 dan anggarannya Rp1,28 triliun untuk sekitar 25 juta warga desil 1–4 di usia di atas 17 tahun. Ini kami dorong untuk efektivitas penyaluran bantuan dan kegiatan produktif, jadi bukan hanya soal pembukaan rekening," kata Airlangga dalam forum rapat koordinasi TPAKD, Kamis (22/10).

Topik Menarik