Satukan Ribuan UMKM Kerajinan agar Naik Kelas Jadi Target Pengurus Baru ASEPHI

Satukan Ribuan UMKM Kerajinan agar Naik Kelas Jadi Target Pengurus Baru ASEPHI

Ekonomi | sindonews | Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:57
share

Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) memasuki babak baru kepengurusan dengan terpilihnya Hatman sebagai Ketua Umum periode 2026-2029. Pergantian kepemimpinan ini tidak diarahkan untuk mengubah haluan organisasi, melainkan memperkuat program yang telah berjalan sekaligus membuka peluang lebih besar bagi ribuan pelaku UMKM kerajinan.

Hatman terpilih dalam Musyawarah Nasional untuk pergantian antarwaktu yang digelar di Hotel Mercure Jakarta pada 21 September 2026. Ia menggantikan, Muchsin Ridjan dan akan melanjutkan masa bakti kepengurusan 2024-2029.

Ditegaskan juga bahwa, kepengurusan baru tidak akan melakukan perubahan secara drastis terhadap program ASEPHI. Program yang telah ditetapkan sebelumnya tetap akan dijalankan karena merupakan keputusan organisasi sekaligus memiliki target pengembangan untuk beberapa tahun ke depan.

Menurut dia, tantangan utama ASEPHI saat ini adalah bagaimana menyatukan ribuan UMKM yang berada dalam ekosistem organisasi agar mampu memanfaatkan lebih banyak peluang usaha. Baca Juga: Berkat Pemberdayaan BRI, UMKM Kerajinan Asal Cianjur Ini Raih Peluang di Pasar Global"Memang kita membawahi ribuan UMKM. Oleh karenanya, kita hanya berpikir bagaimana menyatukan mereka agar kita membuka peluang-peluang mereka supaya lebih maju ke depan," ujar Hatman.

Salah satu langkah yang akan diperkuat adalah pengembangan struktur organisasi hingga daerah. Hatman menilai keberadaan Badan Pengurus Daerah (BPD) dan Badan Pengurus Cabang (BPC) bukan sekadar untuk memperbanyak struktur kepengurusan, tetapi juga menjadi sarana memetakan potensi produk kerajinan yang selama ini belum teridentifikasi dalam jaringan ASEPHI.

Dengan pemetaan tersebut, ASEPHI ingin mengetahui lebih jauh produk-produk unggulan daerah yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan diperluas pasarnya.

Tak Cukup Punya Produk

Kepengurusan baru ASEPHI juga menilai tantangan pelaku usaha kerajinan kini bukan hanya soal menghasilkan produk yang menarik. Ketika UMKM ingin masuk ke pasar yang lebih luas, berbagai persoalan administratif dan legalitas justru dapat menjadi penghambat.

Karena itu, fungsi organisasi dan advokasi akan mendapat penajaman. ASEPHI akan mengonsolidasikan anggota hingga tingkat daerah sekaligus membantu pelaku usaha menghadapi persoalan legalitas, hukum, serta pemahaman mengenai kewajiban perpajakan.

Baca Juga: Sambut HUT ke- 80, RI, BPD Asephi DKI Hadirkan Pameran JakCraft 2025Kebutuhan tersebut semakin penting ketika usaha mulai berkembang menuju pasar nasional maupun ekspor. Pelaku UMKM harus berhadapan dengan berbagai persyaratan, mulai dari legalitas usaha, dokumen perdagangan, perpajakan, hingga ketentuan ekspor.

ASEPHI melihat penguatan ekosistem menjadi bagian penting agar produk kerajinan tidak berhenti pada tahap produksi. Produk harus memiliki dukungan pengembangan, promosi, akses pasar, hingga kemampuan untuk dipasarkan secara berkelanjutan.

Karena itu, pergantian antarwaktu kepengurusan diharapkan menjadi momentum untuk menyempurnakan strategi tanpa meninggalkan program yang telah ditetapkan pada periode 2024-2029.

Susunan Pengurus ASEPHI 2026-2029

Dalam kepengurusan hasil pergantian antarwaktu tersebut, ASEPHI melakukan penyesuaian nomenklatur dan pembagian bidang kerja. Hatman dipercaya sebagai Ketua Umum dan didampingi Baby Jurmawati Djuri, sebagai Wakil Ketua Umum I Bidang Kerja Sama Antar Lembaga Regional dan Internasional.

Kemudian H. Muchamad Ali Jufry menjabat Wakil Ketua Umum II Bidang Digital dan Research Development, sedangkan Ernayani Nasution dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum III Bidang Organisasi dan Advokasi.

Posisi Wakil Ketua Umum IV Bidang Promosi dan Pengembangan Produk ditempati Emirita L.N. Pratiwi. Sementara itu, Subchi Subekti dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal ASEPHI.

Dengan susunan baru tersebut, ASEPHI membawa agenda memperluas basis organisasi sekaligus memperkuat fungsi asosiasi. Fokusnya bukan sekadar menemukan produk kerajinan yang berpotensi di pasar, tetapi membangun ekosistem yang memungkinkan produk tersebut tumbuh dari daerah hingga menembus pasar yang lebih luas.

Topik Menarik