Cerita Wisudawan Terbaik PTIK FT UNJ Manfaatkan AI untuk Petakan Kepakaran Dosen

Cerita Wisudawan Terbaik PTIK FT UNJ Manfaatkan AI untuk Petakan Kepakaran Dosen

Gaya Hidup | sindonews | Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:26
share

Bambang Setiawan Mauludin berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Program Studi Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer (PTIK), Fakultas Teknik (FT), Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ia menuntaskan studinya dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,93.

Saat mengetahui dirinya dinobatkan sebagai wisudawan terbaik, Bambang mengaku merasakan kebahagiaan sekaligus rasa tidak percaya.

“Bersyukur, senang, dan sedikit tidak menyangka. Ini bukan pencapaian saya seorang, tapi juga hasil doa orang tua, bimbingan dosen, dan dukungan teman-teman,” tuturnya, dikutip dari laman UNJ, Rabu (21/10/2026).

Baca juga: ITS Percepat Fasilitas Kampus Inklusif, Siap Terima Mahasiswa Disabilitas pada 2027

Bambang menjadi salah satu wisudawan yang mengikuti prosesi Wisuda Tahun Akademik 2025/2026 Sesi II, Selasa (20/10/2026).

Perjalanan Bambang meraih prestasi tersebut tidak lepas dari konsistensi belajar, kemampuan mengatur waktu, serta dukungan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah yang membantunya menyelesaikan pendidikan tinggi.

Berasal dari Indramayu, Jawa Barat, Bambang merupakan lulusan SMAN 1 Sliyeg. Ia diterima di UNJ melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), yang kini dikenal sebagai Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).Bagi Bambang, kesempatan menempuh pendidikan dengan bantuan KIP Kuliah memiliki arti penting, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi keluarga.

Baca juga: 10 Politeknik Paling Diminati di SNBT 2026, Ada Kampus Pilihanmu?

“Beasiswa ini sangat membantu saya dan keluarga, sekaligus jadi pengingat bahwa ada amanah yang harus saya jaga dengan belajar sungguh-sungguh,” ujarnya.

Memilih PTIK karena Tertarik pada Komputer dan Pendidikan

Ketertarikan terhadap dunia komputer menjadi titik awal Bambang memilih PTIK FT UNJ. Sebelum menentukan pilihan, ia sempat membandingkan tiga program studi di bidang komputer yang tersedia di UNJ.

Ia akhirnya memilih PTIK karena mempertimbangkan akreditasi program studi sekaligus kurikulumnya yang memadukan teknologi dan pendidikan. Menurutnya, kedua bidang tersebut merupakan kompetensi yang ingin ia pelajari secara bersamaan.

Namun, perjalanan kuliahnya tidak selalu berjalan mulus. Pada awal perkuliahan, kegiatan akademik terasa relatif ringan karena masih berlangsung secara daring. Memasuki pertengahan hingga akhir masa studi, aktivitasnya semakin padat, terlebih ketika ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Program Studi.

Tanggung jawab akademik dan organisasi yang berjalan beriringan sempat membuatnya mengalami kelelahan mental atau burnout.

“Saya sempat mengalami burnout karena harus membagi fokus antara akademik dan organisasi,” katanya.Pengalaman tersebut membuat Bambang belajar mengenali batas kemampuan diri dan menyusun prioritas. Ia mulai membiasakan diri membuat daftar tugas, menyusun jadwal mingguan, serta menyelesaikan pekerjaan kecil tanpa menundanya.

Baginya, menjaga produktivitas tidak cukup hanya dengan bekerja keras. Kondisi fisik dan energi juga perlu diperhatikan agar aktivitas akademik tetap berjalan dengan baik.

“Produktif itu juga butuh energi yang terjaga,” ujarnya.

Ingin Membanggakan Orang Tua, Bukan Sekadar Mengejar Predikat

Di balik keberhasilannya meraih IPK 3,93 dan predikat wisudawan terbaik PTIK FT UNJ, Bambang memiliki dua sumber motivasi. Pertama, dorongan dari dalam diri untuk menuntaskan setiap tanggung jawab dengan sebaik mungkin. Kedua, keinginan membanggakan kedua orang tuanya, Wakiman dan Cutin.

Ia menilai prestasi yang diraihnya bukanlah tujuan utama sejak awal kuliah. Predikat tersebut justru menjadi hasil dari upayanya menjaga konsistensi dalam menjalankan kewajiban.

“Prestasi ini bukan target utama, melainkan hasil dari usaha untuk konsisten menjalankan tanggung jawab,” jelasnya.

Pandangan tersebut juga tercermin dalam penelitian skripsinya yang berjudul Identifikasi Kepakaran Dosen Bidang Komputer di Universitas Negeri Jakarta Menggunakan Long Short-Term Memory dan Bidirectional Long Short-Term Memory.

Dalam penelitian itu, Bambang menggunakan pendekatan deep learning melalui model Long Short-Term Memory (LSTM) dan Bidirectional Long Short-Term Memory (BiLSTM). Kedua model tersebut dimanfaatkan untuk mengidentifikasi bidang kepakaran dosen komputer di UNJ secara otomatis berdasarkan informasi dari publikasi ilmiah.Data yang digunakan meliputi judul, abstrak, kata kunci, dan metode penelitian dalam publikasi dosen. Bambang kemudian membandingkan kinerja kedua model untuk mengetahui pendekatan yang lebih akurat dalam memetakan bidang keahlian.

Ia mengangkat topik tersebut karena melihat adanya kebutuhan terhadap informasi kepakaran dosen yang terdokumentasi secara sistematis. Informasi yang tersusun dengan baik dapat membantu mahasiswa menentukan dosen pembimbing yang sesuai dengan topik penelitian mereka.

“Harapannya, hasil penelitian ini bisa membantu mahasiswa menemukan dosen pembimbing yang tepat, sekaligus membantu universitas memetakan potensi dosen, misalnya untuk kolaborasi riset atau penempatan mata kuliah,” tuturnya.

Melalui penelitian tersebut, Bambang ingin menunjukkan bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya berguna untuk menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga dapat mendukung pengelolaan pendidikan tinggi.

Pengalaman Organisasi dan Magang Membentuk Kemampuan Adaptasi

Selain kegiatan perkuliahan dan penelitian, pengalaman Praktik Kerja Lapangan (PKL) di PUSTIKOM UNJ menjadi salah satu momen paling berkesan bagi Bambang selama menjadi mahasiswa.

Ia mendapatkan kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang tidak sepenuhnya diperoleh di ruang kelas, mulai dari bekerja dalam tim hingga menyelesaikan persoalan langsung di lapangan.

“Di situ saya belajar banyak hal yang tidak didapat di kelas, seperti bekerja dalam tim, menyelesaikan masalah di lapangan, dan bertanggung jawab atas keputusan bersama,” ujarnya.Dalam menyelesaikan skripsi, Bambang juga mengapresiasi bimbingan dosen pembimbingnya, Widodo dan Murien, serta arahan koordinator program studi, Ficky. Dukungan teman-teman PTIK dan rekan-rekannya di BEM Program Studi turut membantu dirinya melewati berbagai tantangan selama kuliah.

Menargetkan Karier sebagai Developer dan Data Scientist

Setelah lulus dari PTIK FT UNJ, Bambang berencana membangun karier di bidang teknologi informasi. Ia tertarik bekerja sebagai back-end developer atau full-stack developer, serta membuka peluang untuk berkarier di bidang data science dan pemrosesan bahasa alami atau natural language processing (NLP).

Bambang juga tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi apabila mendapatkan kesempatan yang sesuai.

Kepada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsi, ia berpesan agar tidak hanya berfokus pada kecepatan, tetapi juga menjaga konsistensi dan kesehatan diri.

Menurutnya, hambatan seperti kode program yang mengalami kesalahan atau penelitian yang menemui jalan buntu merupakan bagian dari proses belajar. Mahasiswa perlu memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat sebelum kembali mencari solusi.

“Kalau kodingan error atau riset sedang mandek, jangan dipaksa sampai burnout. Istirahat sebentar, lalu coba lagi. Konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar kecepatan,” tuturnya.

Bambang menggambarkan pengalaman kuliahnya di FT UNJ dengan satu kata, yakni “dinamis”. Ia menilai setiap tahapan perkuliahan menghadirkan tantangan baru yang menuntut mahasiswa untuk terus beradaptasi.

Topik Menarik