Dari Buruh Industri Jadi Streamer: Mengintip Cerita Sukses dan Sisi Lain Ekonomi Kreator di Daerah
Gaji pabrik yang selalu habis sebelum akhir bulan mendorong Ahmad Abdul Malik (24) mengambil jalan yang jarang ditempuh pemuda seusianya. Sejak 2020, warga Kota Subang, Jawa Barat, ini keluar dari pekerjaannya di sebuah perusahaan di kawasan industri Cikarang, pulang kampung, lalu menggantungkan penghasilan pada siaran langsung permainan gim di TikTok dan YouTube selama sekitar enam jam setiap hari.
Kisah Ahmad menggambarkan pergeseran cara anak muda daerah mencari nafkah di tengah tumbuhnya ekonomi kreator. Di balik peluang itu, pengalamannya juga memperlihatkan sisi rapuh profesi streamer, mulai dari pendapatan yang tidak menentu, minimnya ekosistem kreator di kota kecil, hingga kelelahan mental akibat harus tampil ramah di depan kamera berjam-jam.
Ahmad menegaskan, ia tidak berhenti bekerja karena terkena pemutusan hubungan kerja. Keputusan itu ia ambil setelah menghitung ulang sisa gaji yang dibawa pulang setiap bulan.
"Saya menyadari bahwa ini keputusan sadar saya sendiri karena gaji PT itu dapat bersihnya hanya sedikit, karena belum juga dipotong dengan biaya makan, kos, dan keperluan sehari-hari. Jadi saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan di PT, lalu saya mulai belajar bikin konten di Facebook, YouTube, dan TikTok sekalian sambil live streaming. Alhasil ada perkembangan jadi menghasilkan uang, dari sedikit yang didapat menjadi banyak yang didapat per bulannya," ujar Ahmad.
Enam tahun menekuni dunia siaran langsung, akun TikTok yang ia kelola kini diikuti sekitar 46.000 akun. Setiap sesi siaran rata-rata ditonton sekitar 100 orang, dengan lonjakan penonton pada akhir pekan. "Momen paling ramai adalah di hari Minggu, bisa tembus 500 penonton," katanya.Sumber pendapatan utamanya berasal dari dukungan langsung penonton, bukan dari iklan. "Penghasilan saya sebenarnya untuk saat ini dari gift TikTok plus Saweria, itu penghasilan paling besar, karena adsense dari YouTube baru saja monetisasi dan job fotografi itu jarang sekali ada job," ucapnya.
Kritik Ambang 5 Persen, Pakar Usulkan Parliamentary Threshold Dihapus atau Dipertahankan 1 Persen
Bertumpu pada satu sumber penghasilan membuat Ahmad sempat terguncang ketika pendapatannya turun drastis. Saat itu, ia bertahan dengan memanfaatkan peralatan kamera yang dibeli dari hasil siaran. "Saya mengatasinya saat itu dengan menjadi fotografi untuk anak-anak remaja, seperti menyewakan alat foto saya untuk mereka pakai, dan kadang saya diminta ikut untuk menjadi fotografi mereka saat liburan," ujarnya.
Dari situ, Ahmad mulai menekuni fotografi pernikahan dan pemotretan hasil rias pengantin. Ia mengakui kamera berfungsi sebagai jaring pengaman. "Ya betul, itu rencana cadangan buat saya tambah penghasilan, dan buat alat-alat kameranya saya beli dari hasil live streaming," katanya.
Klien pertamanya datang dari keluarga sendiri. "Saya mendapatkan klien foto pertama itu dari ibu saya sendiri, karena ibu saya adalah MUA," ujarnya.
Menjalani dua pekerjaan dengan ritme berlawanan bukan perkara mudah. Siaran langsung paling ramai berlangsung hingga larut malam, sedangkan rangkaian acara pernikahan dimulai sejak pagi. Ahmad pun menyesuaikan jadwal. "Saya live streaming durasinya perpendek karena besoknya ada acara pernikahan, jadi saya akan tidur lebih awal," kata dia.Ahmad, yang hingga kini masih tinggal bersama orangtuanya, menyebut tiga kendala utama menjadi kreator di daerah. "Tantangannya jadi kreator di kota kecil itu agak berat, karena tidak ada komunitas konten kreator maupun live streaming di sini, dan juga kendala sinyal yang sangat jelek buat di kota saya, dan tidak ada akses brand," ujarnya.
Di lingkungannya, Ahmad nyaris menempuh jalan ini sendirian. Menurut dia, tidak ada teman sebaya di Subang yang menggantungkan hidup dari siaran langsung. Sebagian besar memilih bekerja di pabrik, puskesmas, atau berdagang kaki lima.
Pilihan itu sempat mengundang tanda tanya warga sekitar. "Tetangga saya sampai heran kalau saya tidak kerja tapi bisa menghasilkan uang di rumah. Lalu saya tidak menjelaskan kepada mereka alasannya, karena anak-anak mereka yang menjelaskan bahwa hal itu pekerjaan sungguhan yang bisa menghasilkan uang," kata Ahmad.
Sebaliknya, kedua orangtuanya tidak pernah mempersoalkan keputusan tersebut. "Mereka percaya setiap jalan yang saya ambil," ujarnya.
Ahmad menilai cara pandang masyarakat terhadap streamer kini tengah berubah. "Pandangan masyarakat terhadap streamer saat ini berada dalam fase transisi, di mana streamer semakin diakui sebagai profesi sah, namun stigma 'pengangguran berkedok konten' masih membayangi, terutama di kalangan generasi tua," katanya.Tekanan profesi ini juga menyentuh sisi psikologis. Tampil ceria berjam-jam setiap hari kerap menyisakan rasa lelah dan sepi. "Tentu saja saya setiap hari mengalami hal itu, dan kadang solusinya adalah pergi ngopi bersama teman dan mengobrol dengannya, itu menghilangkan rasa kesepian itu," ujar Ahmad.
Di sisi lain, Ahmad justru sering menjadi tempat curhat bagi penonton yang belum pernah ia temui. Sejumlah penonton menuliskan persoalan pribadi di kolom komentar saat ia bermain. "Saya menyikapinya dengan memberikan nasihat yang positif kepada mereka. Ya, walau kita belum pernah ketemu, tapi tetap saya tanggapi, karena semua viewer saya sudah saya anggap sebagai teman saya," katanya.
Perasaan serupa muncul ketika ia memotret pasangan pengantin di pelaminan. "Yang saya rasakan adalah saat melihat mereka bahagia, saya juga turut bahagia, walaupun saya belum bisa seperti mereka," ujar Ahmad.
Menyadari profesi streamer memiliki batas usia, Ahmad sudah menyiapkan rencana keluar. Ia tidak berniat menjadikan fotografi sebagai pengganti utama. "Saya akan berhenti di mana usia saya tidak muda lagi, dan saya bakal membuka usaha saya sendiri seperti warung makan atau semacamnya untuk melanjutkan cari uang saat berhenti menjadi streamer. Dan buat fotografi tidak bisa ambil alih sepenuhnya, tetap akan menjadi cadangan," katanya.
Kepada anak muda yang tergiur meninggalkan sekolah demi menjadi streamer, Ahmad memberi peringatan tegas. "Saya tidak akan melarang mimpinya menjadi streamer, tetapi saya akan dengan tegas melarangnya untuk putus sekolah. Menjadi streamer sukses butuh kecerdasan, dan menyelesaikan apa yang sudah dimulai seperti sekolah adalah bukti pertama bahwa dia punya mentalitas seorang pemenang," ujarnya.









