Jejak Lama, Harapan Baru: TEP UI Rajut Kemitraan Lestari Kakao Werianggi-Ransiki

Jejak Lama, Harapan Baru: TEP UI Rajut Kemitraan Lestari Kakao Werianggi-Ransiki

Nasional | sindonews | Jum'at, 16 Oktober 2026 - 12:56
share

Petani kakao di Kampung Werianggi, Kabupaten Teluk Wondama, mulai membuka peluang pengembangan usaha melalui penjajakan kemitraan dengan Koperasi Produsen Ebier Suth Cokran di Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Tim Ekspedisi Patriot 16 Universitas Indonesia (TEP 16 UI) memfasilitasi penjajakan tersebut untuk menghubungkan petani dengan pendampingan teknis dan peluang pemasaran, sekaligus memperkuat pengembangan kakao sebagai potensi ekonomi Kawasan Transmigrasi Werianggi–Werabur.

“Mimpi saya, kebun kakao ini bisa terus berkelanjutan sampai turun-temurun, untuk anak cucu. Harapan saya, kita dapat bersatu untuk bekerja dan berhasil, supaya hasil pengembangan kakao ini memberi manfaat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kampung Werianggi,” ujar Yudas Rudi Werianggi, Ketua Kelompok Tani Kakao Buoworoi 1, Sabtu (29/8/2026).

Upaya ini menjadi langkah awal untuk menghubungkan potensi kebun kakao Werianggi dengan dukungan teknis dan peluang pasar. Pada Agustus–September 2026, TEP 16 UI berkoordinasi dengan dinas pertanian kabupaten dan provinsi serta Balai Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan. Ketiga lembaga menyambut baik inisiatif tersebut dan membuka peluang dukungan sesuai tugas masing-masing.

Baca juga: Kementrans Dorong Kawasan Transmigrasi Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

Pada 22 September 2026, TEP 16 UI melanjutkan penjajakan melalui audiensi dengan Koperasi Produsen Ebier Suth Cokran di Ransiki. Pengurus koperasi, Obe Botto dan Elisa Wayoi, menyatakan kesiapan mendukung pengembangan kakao Werianggi. Elisa, yang juga menjabat Direktur Lapangan PT Ebier Suth Cokran, menyatakan kesiapan mendampingi petani dalam pengelolaan kebun hingga pascapanen.

Pihak Ebier Suth Cokran juga membuka peluang penyerapan hasil panen melalui unit perdagangan (trading) apabila produksi petani berkembang dan memenuhi standar mutu. Peluang ini menjadi pintu awal untuk menghubungkan pengembangan kebun dengan kebutuhan pasar, meskipun realisasi penyerapan hasil masih bergantung pada kesiapan produksi dan pemenuhan standar yang ditetapkan.

Menelusuri Jejak Kakao Werianggi-Ransiki

Dalam pemetaan kebun, TEP 16 UI mendokumentasikan pohon kakao tua yang menurut Yudas telah tumbuh sejak masa kolonial Belanda. Foto buah dan bijinya diperlihatkan kepada Obe Botto, yang menilai tanaman tersebut menunjukkan karakter kelompok kakao Criollo, Forastero, dan Trinitario. Identitas varietasnya masih perlu diverifikasi melalui pemeriksaan lebih lanjut.

Jejak kakao di kawasan ini juga memiliki konteks sejarah. Penelitian J. Ruinard berjudul Cocoa Research in West Irian (West New Guinea) yang terbit dalam Netherlands Journal of Agricultural Science pada 1964 mencatat bahwa pada akhir 1962, luas tanaman kakao di West Irian mencapai sekitar 1.350 hektare. Sekitar 20 persen di antaranya berada di kawasan Manokwari dan Ransiki. Catatan tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan kakao di wilayah tersebut, tetapi belum membuktikan hubungan langsung antara tanaman kakao tua di Werianggi dan perkakaoan Ransiki.

Hubungan Werianggi dengan perkakaoan Ransiki ternyata bukan cerita baru

“Werianggi ini bagi Cokran sebenarnya bukan hal baru,” ujar Obe Botto dalam audiensi di Ransiki (22/09/2026).Menurut Obe, Werianggi pernah direncanakan sebagai salah satu wilayah pengembangan kakao ketika PT Coklat Ransiki masih beroperasi. Rencana tersebut tidak sempat terwujud sebelum perusahaan berhenti beroperasi pada 2006.

Yudas sendiri pernah bekerja di PT Coklat Ransiki selama 24 tahun, yakni 1981–2005, sebelum kembali menanam kakao di Werianggi. PT Coklat Ransiki yang berhenti beroperasi pada 2006 berbeda dari PT Ebier Suth Cokran dan Koperasi Produsen Ebier Suth Cokran yang menjadi mitra penjajakan saat ini.

Pengalaman Yudas dan keberadaan tanaman kakao tua menjadi bagian penting dalam penelusuran potensi kakao Werianggi. Potensi tersebut kini diarahkan pada penguatan pengelolaan kebun, peningkatan mutu hasil, dan penjajakan hubungan usaha yang dapat mendukung keberlanjutan petani.

Memperkuat Kelompok Tani dan Keberlanjutan Kebun

Pengembangan kakao dilakukan melalui Kelompok Tani Buoworoi 1 yang diketuai Yudas dan Buoworoi 2 yang diketuai Melkianus Wetebossy. Dalam bahasa Wamesa dialek Windesi, buowo berarti buah dan roi berarti panjang. Nama Buoworoi merujuk pada cempedak berbentuk memanjang dan dimaknai sebagai “buah yang panjang manfaatnya”, sesuai harapan petani agar kebun kakao memberikan manfaat lintas generasi.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, TEP 16 UI menjalankan enam tahapan kegiatan, meliputi koordinasi dan pemetaan kebun, penguatan kelompok tani, penyusunan modul, pelatihan, pengembangan lahan percontohan (demonstration plot atau demplot), serta diskusi kelompok di tingkat kabupaten. Tim juga memetakan kebun menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS), mengambil sampel tanah, dan mengidentifikasi tanaman sebagai dasar penyesuaian pendampingan dengan kondisi lahan.Pendampingan turut mendorong penerapan dynamic agroforestry. Dalam pendekatan ini, kakao tumbuh bersama tanaman lain seperti pisang, pinang, kelapa, gamal, petai, lamtoro, cabai maupun kunyit yang bermanfaat bagi keluarga dan ekosistem kebun. Dengan cara tersebut, kebun diharapkan tetap memberikan beragam manfaat sepanjang pertumbuhan tanaman kakao.

Ketua TEP 16 UI, Dr. Mega Atria, M.Si., berharap upaya pengembangan kakao dapat terus berjalan meskipun masa tugas tim berakhir. “Kami ingin pengembangan kebun kakao masyarakat di Werianggi tidak berhenti pada pembentukan kelompok tani dan pembukaan lahan. Meski Tim Ekspedisi Patriot tidak lagi hadir, kami berharap petani kakao Werianggi tetap mandiri dan melanjutkan kemitraan yang kami fasilitasi,” ujar Dr. Mega Atria, M.Si. (22/9/2026).

Upaya ini sejalan dengan transformasi transmigrasi yang mendorong keterhubungan antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi kawasan. Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, dalam pernyataan yang dimuat Kementerian Transmigrasi pada 8 Juli 2026, menekankan bahwa perguruan tinggi berperan menghadirkan ilmu pengetahuan, dunia usaha membuka peluang investasi dan pasar, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan.

Melalui fasilitasi TEP 16 UI, petani kakao Werianggi kini memiliki peluang untuk memperkuat pendampingan teknis dan menjajaki hubungan pemasaran dengan calon mitra usaha. Tahap selanjutnya adalah memastikan peluang tersebut dapat ditindaklanjuti melalui peningkatan kapasitas petani, perbaikan mutu pascapanen, dan kesiapan produksi sesuai kebutuhan pasar.

Harapan itu tercermin dalam nama Buoworoi, “buah yang panjang manfaatnya”, serta semboyan kelompok, “Myareto!”, yang dimaknai masyarakat sebagai keyakinan: ya, kamu memang mampu!

Topik Menarik