Bahlil Ajak Daerah Manfaatkan Lahan Tidur Produksi Etanol, Bakal Dibeli Pertamina

Bahlil Ajak Daerah Manfaatkan Lahan Tidur Produksi Etanol, Bakal Dibeli Pertamina

Ekonomi | sindonews | Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:07
share

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong pemerintah daerah memanfaatkan lahan tidur untuk mengembangkan tanaman penghasil bahan baku bioetanol, seperti jagung, singkong, dan tebu. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat industri energi berbasis sumber daya domestik sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

“Pak Bupati, bahan bakunya dari jagung, singkong, tebu. Pabrik Karawang ini masih ada lahan tidur, bisa diarahkan menanam hasil-hasil perkebunan yang berorientasi pada bahan baku,” kata Bahlil saat memberikan sambutan dalam peresmian operasi kilang di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026).

Baca Juga:Pemerintah Siapkan CNG Pengganti LPG, Bahlil: Harga Lebih Murah hingga 40

Bahlil yang juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi itu mengatakan pengembangan bahan baku bioetanol membutuhkan dukungan pemerintah daerah, terutama dalam pemanfaatan lahan yang belum produktif. Upaya tersebut dinilai dapat membuka peluang kegiatan ekonomi baru dengan menghubungkan sektor pertanian dan industri pengolahan energi.

Untuk menjamin penyerapan hasil produksi, pemerintah akan mendorong penerapan kebijakan mandatori atau kewajiban pencampuran etanol ke dalam bensin. Dalam skema tersebut, PT Pertamina disiapkan menjadi pembeli atau offtaker etanol yang diproduksi di dalam negeri.“Seluruh etanol yang akan diambil itu offtaker-nya Pertamina, karena kita akan bikin mandatori. Ini dalam rangka strategi untuk mengurangi impor BBM di negara kita,” ujar Bahlil.

Menurut dia, kepastian pasar melalui kebijakan penyerapan tersebut diharapkan mendorong investasi industri bioetanol sekaligus menciptakan peluang usaha bagi petani dan pelaku usaha pertanian sebagai pemasok bahan baku. Pengembangan industri ini juga berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan membuka lapangan kerja di daerah.

Bahlil menegaskan pengembangan bioetanol menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global dan keterbatasan peningkatan produksi minyak dalam negeri. Selain mengembangkan etanol berbasis jagung, singkong, dan tebu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan biodiesel melalui program B50 berbasis minyak sawit.

Baca Juga:Harga Minyak Tembus USD100 per Barel, Beban Subsidi Energi Bengkak Nyaris Rp100 Triliun

Meski demikian, realisasi pengembangan bioetanol bergantung pada kesiapan lahan, ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan, kapasitas industri pengolahan, serta pelaksanaan kebijakan mandatori. Pemerintah berharap penguatan ekosistem tersebut dapat menekan kebutuhan impor BBM sekaligus memperkuat keterkaitan sektor pertanian dengan industri energi nasional.

Topik Menarik