Rupiah Turun ke Rp17.938 Tertekan Konflik Timur Tengah hingga Risiko Evaluasi MSCI

Rupiah Turun ke Rp17.938 Tertekan Konflik Timur Tengah hingga Risiko Evaluasi MSCI

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:54
share

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup turun 35 poin atau sekitar 0,20 persen ke level Rp17.938 per USD pada perdagangan Kamis (15/10/2026). 

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam jalur perdagangan energi global.

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian pasar adalah serangan kelompok Houthi terhadap kantor pusat Saudi Aramco. Selain itu, Iran disebut akan menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz guna menjaga harga minyak tetap tinggi.

“Pejabat maritim melaporkan pada hari Rabu bahwa sebuah kapal kontainer dan sebuah kapal kargo curah telah tenggelam di dekat selat tersebut dalam 24 jam terakhir, setelah terkena proyektil dalam insiden yang terpisah,” tulis Ibrahim dalam risetnya Kamis (15/10/2026).

Menurut Ibrahim, serangan di sekitar jalur perairan strategis tersebut meningkat tajam dalam 10 hari terakhir. Iran menyatakan, peningkatan serangan merupakan respons terhadap blokade Amerika Serikat atas pelabuhan-pelabuhan Iran serta pengetatan sanksi yang diberlakukan pada bulan sebelumnya.

Di tengah gangguan pelayaran dan lonjakan biaya pengangkutan yang disebut mencapai rekor tertinggi, pemerintahan Presiden AS Donald Trump juga dikabarkan mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal yang tergabung dalam shadow fleet atau armada bayangan. 

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi daripada perkiraan pasar. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS pada September 2026 naik 0,6 persen secara bulanan, meningkat dibandingkan kenaikan 0,4 persen pada Agustus.

Secara tahunan, inflasi utama AS mencapai 3,7 persen, naik dari 3,4 persen pada bulan sebelumnya dan melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6 persen.

Sementara itu, inflasi inti yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi meningkat 0,3 persen secara bulanan, lebih tinggi daripada perkiraan 0,2 persen dan menyamai laju pada Agustus.

Secara tahunan, inflasi inti naik menjadi 2,6 persen dari 2,4 persen pada bulan sebelumnya, juga melampaui ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen.

Kenaikan harga bensin, solar, dan pangan menjadi pendorong inflasi utama. Adapun inflasi inti dipengaruhi peningkatan biaya tempat tinggal, sewa setara pemilik (owner-equivalent rent), rekreasi, dan pendidikan, serta lonjakan harga mobil dan truk bekas.

Pasar selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi AS, termasuk Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI), penjualan ritel, klaim awal tunjangan pengangguran, serta pidato lanjutan dari sejumlah pejabat bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Data tersebut akan menjadi perhatian investor dalam menilai arah perekonomian AS dan prospek kebijakan moneter The Fed.

Evaluasi MSCI dan Risiko Fiskal Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti tekanan di pasar saham Indonesia menjelang evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November 2026.

Bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets diperkirakan hanya sekitar 0,43 persen pada akhir September. Investor juga mencermati risiko penurunan klasifikasi pasar, kelanjutan pembekuan saham, serta perkembangan reformasi pasar modal Indonesia.

Keputusan MSCI selanjutnya akan bergantung pada penilaian terhadap efektivitas reformasi pasar modal Indonesia, termasuk upaya meningkatkan transparansi dan kualitas pasar.

Selain itu, Ibrahim menyoroti implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Kedua program tersebut dinilai masih menghadapi tantangan dalam menunjukkan hasil yang sebanding dengan biaya dan risiko fiskal yang ditanggung negara.

Dalam program MBG, salah satu persoalan yang disoroti adalah belum tersedianya data publik yang memadai mengenai dampaknya terhadap penurunan angka stunting, yang menjadi salah satu tujuan program tersebut.

Evaluasi terhadap efektivitas program dinilai penting untuk memastikan bahwa anggaran yang dikeluarkan menghasilkan manfaat yang terukur. Tanpa data dampak yang transparan, pemerintah akan kesulitan menilai keberhasilan program dalam memperbaiki status gizi anak.

Ibrahim juga menyoroti perubahan alokasi anggaran MBG. Dalam pembahasan APBN 2026, anggaran program tersebut sempat disebut mencapai Rp335 triliun, terdiri atas Rp268 triliun untuk Badan Gizi Nasional (BGN) dan Rp67 triliun sebagai cadangan.

Namun, seiring keterbatasan fiskal, anggaran tersebut kemudian disebut turun menjadi Rp248 triliun dan kembali menyusut menjadi Rp218 triliun.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.930 hingga Rp17.990 per USD.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik