IMF Wanti-wanti, AI, Krisis Energi dan Lonjakan Utang Ancam Ekonomi Global
Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan harga energi yang tetap tinggi, lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) yang tidak merata, dan rekor utang publik dapat mengancam pertumbuhan ekonomi global. IMF mendorong pemerintah memperkuat kebijakan fiskal dan moneter sebelum tekanan tersebut semakin memburuk.
"Perekonomian global menghadapi tekanan secara bersamaan dari dua kekuatan yang berlawanan, yakni keterbatasan pasokan energi yang membebani pertumbuhan dan gelombang belanja kecerdasan buatan yang mendorong permintaan," kata Managing Director IMF Kristalina Georgieva dalam pernyataan di Singapura, dikutip dari Quartz, Kamis (8/10/2026).
Baca Juga:Prancis Tembakkan Rudal Berkemampuan Nuklir, Rusia Siaga
Georgieva mengatakan harga minyak mentah masih berada di kisaran 100 dolar AS per barel, sementara keterbatasan kapasitas pengolahan telah mendorong margin produk bahan bakar seperti solar meningkat. Ketersediaan gas alam juga berada di bawah tekanan karena ancaman terhadap kapal pengangkut LNG yang melintasi Selat Hormuz membatasi pasokan bagi importir di Asia dan Eropa.
Menurut dia, tekanan harga energi berpotensi meningkat memasuki musim dingin di belahan bumi utara. Kontrak berjangka minyak Brent juga menunjukkan harga minyak masih berpotensi bertahan tinggi hingga 2027, sehingga dapat kembali menekan inflasi dan memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang yang telah mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade menunjukkan tekanan tersebut mulai tercermin di pasar keuangan. Georgieva menilai kebijakan moneter dengan kecenderungan hati-hati namun ketat masih diperlukan di banyak negara dan menyebut kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve AS, Bank Sentral Eropa, serta Bank of Japan sebagai langkah yang tepat.
Di sisi fiskal, IMF memperingatkan stok utang publik global telah mendekati level tertinggi setelah Perang Dunia II dan diperkirakan melampaui 100 dari produk domestik bruto (PDB) sebelum akhir dekade. Negara-negara maju menjadi kelompok dengan beban utang terbesar sehingga IMF meminta negara dengan utang tinggi menyiapkan konsolidasi fiskal jangka menengah yang kredibel, karena pertumbuhan ekonomi saja tidak lagi cukup untuk menekan rasio utang.Sementara itu, investasi AI menjadi kekuatan yang mendorong permintaan sekaligus menciptakan risiko baru. Produk perangkat keras dan teknologi terkait AI kini menyumbang lebih dari sepersepuluh perdagangan barang dunia, sedangkan aliran modal ke sektor AI terhadap PDB diperkirakan melampaui skala investasi pada pembangunan besar sebelumnya seperti jaringan kereta api, listrik, dan telekomunikasi.
Georgieva menilai ledakan investasi AI belum merata karena sebagian besar investasi terkonsentrasi di negara yang menjadi bagian dari rantai pasok perangkat keras AI. Ketimpangan tersebut berpotensi memperlebar kesenjangan ekonomi global, sementara penurunan kinerja perusahaan AI besar dapat memicu koreksi pasar yang lebih luas karena tingginya leverage perusahaan dan besarnya kepemilikan global terhadap saham Amerika Serikat.
Baca Juga:Trump Salahkan Demokrat dan Ukraina atas Lonjakan Harga BBM, Bukan Perang Iran
IMF pada Juli memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,0 dan menaikkan proyeksi inflasi global menjadi 4,7. Proyeksi tersebut menggunakan asumsi normalisasi pelayaran di Selat Hormuz mulai pertengahan Juli dan harga minyak rata-rata 89 dolar AS per barel pada 2026, sehingga IMF masih akan memperbarui proyeksinya dalam Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok pekan depan.
Meski memperingatkan berbagai risiko, Georgieva menilai AI tetap berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru apabila diterapkan secara efektif. Berdasarkan pemodelan IMF, pemanfaatan AI secara optimal dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi global tahunan hingga 0,5 poin persentase dan dalam satu dekade berpotensi menambah output ekonomi dunia setara dengan ukuran ekonomi negara-negara ASEAN.








