Kebijakan Tarif Gagal, Defisit Dagang AS Tembus Level Tertinggi dalam 17 Bulan
Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) melonjak 13,7 pada Agustus 2026 menjadi USD105,6 miliar atau mencapai level tertinggi dalam 17 bulan, meski pemerintahan Presiden Donald Trump telah memberlakukan tarif untuk menekan impor. Kenaikan tersebut menunjukkan kebijakan tarif belum mampu mengurangi ketergantungan AS terhadap barang impor, sekaligus berpotensi membebani pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2026.
"Tidak ada alternatif yang baik selain impor dari luar negeri," kata Kepala Ekonom FWDBONDS Christopher Rupkey, seperti dikutip dari New York Times, Kamis (8/10/2026).
Baca Juga:Hadapi Sanksi AS, Kepala Bank Sentral: Iran Tidak Kesulitan Sediakan Mata Uang Asing
Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan kenaikan defisit pada Agustus terutama dipicu lonjakan impor minyak bumi, emas, serta cip yang digunakan untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI). Nilai impor mencapai rekor USD420,8 miliar, naik 4,3 dibandingkan Juli, sedangkan ekspor hanya meningkat 1,4 menjadi USD315,2 miliar.
Rupkey menilai tingginya biaya tenaga kerja di AS membuat sejumlah barang sulit diproduksi secara kompetitif di dalam negeri. Selain itu, kapasitas manufaktur baru juga tidak dapat dibangun dalam waktu singkat untuk menggantikan pasokan dari luar negeri."Terlepas dari kebijakan ekonomi pemerintah yang telah meningkatkan biaya terkait tarif untuk banyak barang impor, Amerika masih sama bergantungnya terhadap barang yang diproduksi di luar negeri," ujarnya.
Pemerintahan Trump selama ini menjadikan defisit perdagangan sebagai salah satu indikator kelemahan sektor manufaktur AS dan berupaya menekannya melalui pengenaan tarif terhadap berbagai produk impor, mulai dari mainan dan baja hingga drone serta suku cadang kendaraan. Pemerintah juga berencana menerapkan putaran tarif baru yang dapat mencakup lebih dari 40 negara.
Sejak Trump kembali menjabat untuk periode kedua, rata-rata defisit perdagangan bulanan AS mencapai USD74,5 miliar, sedikit di atas rata-rata USD73,8 miliar pada tahun terakhir pemerintahan Presiden Joe Biden. Namun, perubahan kebijakan tarif yang drastis membuat defisit perdagangan berfluktuasi tajam selama periode tersebut.Setelah Trump terpilih, importir AS mempercepat pengadaan persediaan sebelum tarif diberlakukan sehingga defisit perdagangan melonjak pada bulan-bulan awal pemerintahannya. Setelah tarif global yang disebut Trump sebagai "Liberation Day" diberlakukan pada April 2025, impor dan defisit perdagangan kemudian kembali menurun.
Baca Juga:Trump Salahkan Demokrat dan Ukraina atas Lonjakan Harga BBM, Bukan Perang Iran
Ekonom AS dari Oxford Economics Grace Zwemmer mengatakan data perdagangan terbaru berpotensi memberikan tekanan cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III 2026. Menurut dia, impor diperkirakan tetap kuat dalam jangka pendek karena permintaan AI dan kebutuhan perusahaan untuk kembali mengisi persediaan, sementara ekspor minyak AS tidak akan memberikan kontribusi sebesar kuartal II dalam menekan defisit perdagangan.
Lonjakan defisit tersebut menjadi tantangan bagi Trump yang memasuki 20 bulan masa jabatan keduanya dan menghadapi pemilihan paruh waktu (midterm election). Ketika pemerintah berupaya menunjukkan keberhasilan kebijakan ekonomi melalui tarif dan penguatan manufaktur domestik, data terbaru justru menunjukkan impor AS masih meningkat lebih cepat dibandingkan ekspor.








