Denny JA Terima AMA Appreciation Award 2026 di Bali

Denny JA Terima AMA Appreciation Award 2026 di Bali

Nasional | sindonews | Jum'at, 2 Oktober 2026 - 21:41
share

Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Denny JA menerima penghargaan AMA Appreciation Award 2026 dalam ajang AMA Indonesia Conference 2026. Penghargaan tersebut berlangsung di Sanur, Bali.

Penghargaan dari Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) tersebut diberikan atas kontribusi Denny JA dalam memperluas wawasan strategis PHE, mendorong pengambilan keputusan yang profesional dan bertanggung jawab, serta memperkuat ekosistem pembelajaran di lingkungan korporasi.

Mengangkat tema “From Management to Wealth Creation,” ajang tahunan organisasi manajemen yang berdiri sejak 1989 ini menjadi momentum bagi Denny JA untuk mengajak para pelaku usaha merenungkan kembali esensi kepemimpinan di tengah perubahan zaman dan lompatan teknologi yang cepat.

"Wealth creation bukan pertama-tama soal kekayaan atau sekadar membuat perusahaan menjadi semakin besar. Ia dimulai ketika seseorang melihat kebutuhan yang belum terjawab, lalu mengubahnya menjadi nilai baru," ujarnya, , Jumat (2/10/2026).

Baca juga: Calon Guru UPH Belajar Puisi Esai untuk Menumbuhkan Kepekaan KemanusiaanMengambil contoh terobosan Elon Musk melalui SpaceX dan Starlink, Denny menyoroti bagaimana inovasi roket daur ulang (reusable rocket) berhasil meruntuhkan paradigma lama penerbangan ruang angkasa yang mahal menjadi peluang ekonomi baru. Menurutnya, penciptaan nilai (value creation) semacam itulah yang mendasari lahirnya kekayaan secara berkelanjutan.

Guna mencapai titik tersebut, ia menekankan pentingnya seorang pemimpin mengajukan defining question atau pertanyaan mendasar: "Apa yang paling dibutuhkan zaman, manusia, dan lingkungan saat ini yang dapat diberikan oleh organisasi yang dipimpin?" tuturnya.

Pertanyaan itu pula yang dibawanya saat dipercaya memimpin dewan komisaris PHE. Berbekal latar belakang lintas industri—mulai dari hospitality, konsultan politik, hingga pertambangan—Denny melihat dua jalur utama yang harus ditempuh PHE untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Jalur pertama adalah lompatan produksi melalui aspirasi 1M29 (satu juta barel minyak per hari pada 2029) yang didorong lewat optimasi lapangan eksisting, eksplorasi teknologi, serta langkah strategis ekspansi global (PHE Goes Global).

Lihat video: MBG Jadi Program Terbaik 100 Hari Prabowo-Gibran Versi LSI Denny JA

Sementara jalur kedua adalah penguatan tata kelola institusi. Denny menggarisbawahi tantangan yang sering dialami industri hulu migas, yakni ketakutan eksekutif dalam mengambil keputusan akibat risiko kriminalisasi atas kegagalan bisnis.Menurutnya, sifat dasar industri hulu migas berhadapan langsung dengan ketidakpastian. Kegagalan eksplorasi merupakan bagian dari proses bisnis dan tidak seharusnya otomatis dianggap sebagai tindak pidana jika keputusan diambil secara profesional, jujur, tanpa konflik kepentingan, serta sesuai aturan.

"Jika setiap kegagalan melahirkan ketakutan terhadap kriminalisasi, yang perlahan mati adalah keberanian mengambil keputusan. Pemimpin akhirnya terdorong memilih keputusan yang paling aman bagi dirinya, bukan yang paling bernilai bagi korporasi dan negara," tegasnya.

Untuk mengatasi persoalan ini, Denny mendorong penguatan ekosistem Business Judgment Rule (BJR) agar ada mekanisme yang kredibel dalam membedakan antara kerugian akibat korupsi dan kerugian akibat risiko bisnis yang sah. Bahkan, PHE bersama lembaga akademik mengambil inisiatif mengusulkan pembentukan Undang-Undang Dewan Business Judgment Rule.

Denny menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa korporasi besar membutuhkan integritas sekaligus keberanian. "Tanpa integritas, keberanian dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan. Namun tanpa keberanian, integritas hanya berakhir menjadi kehati-hatian yang tidak pernah menghasilkan lompatan," ucapnya.

Topik Menarik