Rusia Ketiban Durian Runtuh, Pendapatan Minyak Cetak Rekor Rp49 Triliun di Tengah Perang Teluk

Rusia Ketiban Durian Runtuh, Pendapatan Minyak Cetak Rekor Rp49 Triliun di Tengah Perang Teluk

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 2 Oktober 2026 - 11:36
share

Di tengah kecamuk perang di Timur Tengah yang melumpuhkan Selat Hormuz, Rusia justru memetik keuntungan finansial berlipat ganda. Pendapatan ekspor minyak mentah jalur laut (seaborne crude) milik Negeri Beruang Merah dilaporkan melonjak drastis menyentuh level mingguan tertinggi sejak dimulainya konflik Ukraina pada tahun 2022.

Berdasarkan laporan Bloomberg, nilai kotor (gross value) ekspor minyak mentah Rusia meroket hingga USD2,75 miliar (sekitar Rp49 triliun) hanya dalam satu pekan yang berakhir pada 27 September. Lonjakan fantastis ini dipicu oleh dua faktor utama.

Pertama yakni kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS-Israel melawan Iran dan peningkatan volume pengiriman. Lalu faktor kedua yaitu terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz memaksa pembeli global memburu pasokan alternatif dari produsen di luar Teluk Persia—terutama Rusia.

Baca Juga: Balas Eropa, Rusia Ancam Sita Kapal Kargo Barat di Mana Saja

Sanksi pembatasan harga (price cap) USD60 per barel yang diberlakukan negara-negara G7, Uni Eropa, dan Australia sejak akhir 2022 terbukti makin tumpul. Moskow berhasil mengalihkan arus utama minyaknya dari Eropa ke negara-negara Asia, khususnya China dan India.Dalam kurun empat pekan hingga 27 September, pengiriman minyak mentah Rusia ke para pelanggan di Asia melonjak hingga 3,61 juta barel per hari. Di balik rekor pendapatan minyak mentah tersebut, terdapat penyesuaian strategi darurat yang dilakukan Presiden Vladimir Putin.

Serangan drone Ukraina yang menghantam kilang-kilang minyak di dalam negeri membuat kapasitas pengolahan BBM Rusia menurun. Demi mengamankan kebutuhan bahan bakar domestik, Moskow menghentikan sementara ekspor diesel dan mengalihkan sisa minyak mentah yang tak terolah langsung ke pasar ekspor laut.

Baca Juga: AS Ancam Tarif 100 Bagi Pembeli Minyak Rusia, China Meradang dan Siapkan Pembalasan

Akibatnya, Rusia resmi merevisi proyeksi ekspornya untuk tahun 2026. Minyak Mentah dinaikkan sebesar 150.000 barel per hari. Sedangkan produk minyak olahan (BBM) dipangkas hingga 500.000 barel per hari.Ketergantungan terhadap energi Rusia juga terus memicu perpecahan internal di Eropa. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul mendesak Slovakia untuk segera memutus pasokan minyak dan gas dari Moskow.

Namun, Menteri Luar Negeri Slovakia, Juraj Blanar menolak keras tekanan tersebut dan memperingatkan dampak fatal bagi ekonominya.

"Infrastruktur energi kami dibangun di sekitar pasokan Rusia. Menghentikannya secara mendadak akan menimbulkan masalah besar, karena jalur alternatif saat ini tidak memiliki kapasitas yang cukup," tegas Blanar.

Topik Menarik