Harga Minyak Dunia Naik Gila-gilaan: China Bekukan Ekspor BBM, Pasukan AS Bergerak
Pasar minyak mentah dunia kembali merangkak naik pada perdagangan, Jumat pagi di Asia. Investor dan pelaku pasar global kini dalam posisi siaga tinggi (standby) merespons kombinasi sinyal geopolitik yang kian panas.
Sinyal konfrontasi militer baru Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, hingga ancaman embargo diesel AS ke Eropa, serta langkah China membekukan ekspor BBM. Baca Juga: Harga Solar Menggila, AS Desak Eropa Lepas Cadangan Darurat 120 Juta Barel
Pada perdagangan Jumat (2/10/2026) pukul 00.22 GMT, harga minyak mentah acuan Brent naik 29 sen atau 0,28 menjadi USD102,60 per barel. Sementara itu minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 27 sen setara 0,29 ke level USD93,14 per barel.
Penguatan tipis harga minyak Jumat pagi merupakan kelanjutan dari lonjakan tajam pada penutupan perdagangan Kamis, di mana Brent melesat lebih dari USD4 per barel setelah laporan The Wall Street Journal membeberkan rencana militer AS.Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan tengah menyiapkan kapal induk ketiga dan hingga 10.000 prajurit tambahan ke Timur Tengah, mengindikasikan potensi serangan susulan ke Iran usai pemilu sela (midterm elections) AS. Baca Juga: Pasokan Minyak Iran Lenyap dari Pasar Dunia bikin China Kelabakan
"Sekarang saya harus membuat keputusan. Pilihannya hanya dua: mereka menandatangani perjanjian yang sangat adil, atau mereka tidak akan ada lagi (exist) sama sekali," ancam Trump di Gedung Putih.
Tak hanya menekan Iran, AS juga menggertak sekutu utamanya di Eropa. Tiga sumber internal membeberkan bahwa Washington telah melayangkan ultimatum kepada Jerman dan Prancis untuk segera mencairkan cadangan diesel darurat mereka demi meredam lonjakan harga global. Jika ditolak, AS mengancam akan memblokir ekspor diesel miliknya ke Benua Biru -julukan Eropa-.
China Bekukan Ekspor BBM Jelang Libur Panjang
Ketegangan pasar kian diperparah oleh kebijakan China yang membekukan izin ekspor BBM (diesel, gasoline, dan jet fuel) ke luar wilayah Hong Kong dan Macau untuk alokasi Oktober. Langkah ini diambil persis saat China memulai libur panjang nasional (Golden Week) mulai Kamis (1/10).Analis KCM Trade, Tim Waterer menyebut, pasar saat ini sedang mencoba mencerna sinyal simpang siur antara pasokan dan ancaman krisis logistik.
"Pasar sedang mencerna serangkaian sinyal yang sangat beragam minggu ini. Gambaran ekspor Arab Saudi yang membaik kini tertutupi oleh kabar pengerahan kapal induk AS ke Teluk serta keputusan China membatasi ekspor produk minyak olahan," ujar Waterer.
Di sisi lain, Chief Oil Analyst XAnalysts, Mukesh Sahdev menilai gertakan AS kepada negara-negara Uni Eropa untuk mencairkan cadangan minyak menjadi faktor yang menahan harga minyak agar tidak meledak lebih liar.








