Deklarasi Nasional-Rakernas, GPPN Satukan Kekuatan Pemuda Jaga Demokrasi dan Kebinekaan
Generasi Pemuda Presisi Nusantara (GPPN) menggelar Deklarasi Nasional dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Park Hotel, Jakarta, Rabu, 30 September 2026. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 500 pengurus dan perwakilan wilayah.
Deklarasi dan Rakernas menjadi momentum awal untuk memperkuat peran generasi muda Indonesia dalam menjaga persatuan, kebhinekaan, demokrasi, kepedulian sosial, sekaligus mendorong kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Mengusung tema “Pemuda Bergerak, Presisi Mengabdi, Bersatu Jaga Nusantara,” GPPN hadir sebagai wadah kolaborasi generasi muda Indonesia dari berbagai latar belakang untuk mengembangkan kegiatan edukatif, sosial, konstruktif, inklusif, profesional, dan kolaboratif.
Baca juga: Refleksi Sumpah Pemuda, Melodi Nusantara Serukan Kebangkitan Karya Pemuda Indonesia
Koordinator Nasional GPPN Nasky Putra Tandjung mengatakan, pemuda bukan hanya generasi penerus, tetapi juga bagian dari kekuatan sosial bangsa yang memiliki ruang dan tanggung jawab untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
“Generasi Pemuda Presisi Nusantara ingin membangun ruang bersama bagi pemuda untuk bergerak, belajar, berkolaborasi, dan mengabdi. Perbedaan suku, agama, ras, budaya, dan daerah harus menjadi kekuatan untuk memperkokoh persatuan, bukan menjadi alasan untuk terpecah,” ujar Nasky.
GPPN menjadikan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, demokrasi, nilai Presisi, dan semangat kebangsaan sebagai nilai penting dalam membangun gerakan kepemudaan yang menghargai keberagaman sekaligus mendorong partisipasi sosial yang konstruktif.Pihaknya mendorong sejumlah agenda kepemudaan yang berorientasi pada penguatan karakter, pengabdian masyarakat, literasi demokrasi dan kebangsaan, pengembangan kepemimpinan, literasi digital, pemberdayaan pemuda, serta kolaborasi lintas elemen masyarakat.
Pembangunan karakter diarahkan untuk membentuk generasi muda yang memiliki integritas, disiplin, tanggung jawab, kepedulian sosial, kemampuan kepemimpinan, serta kesadaran terhadap kehidupan demokrasi dan kebangsaan.
“Kami ingin gerakan pemuda tidak berhenti pada deklarasi atau seremoni. Semangat deklarasi harus diterjemahkan menjadi kerja nyata melalui kegiatan sosial, edukasi, literasi, pengembangan kapasitas, pemberdayaan, dan kolaborasi,” katanya.
Dalam bidang literasi publik, GPPN mendorong peningkatan pemahaman generasi muda mengenai kebangsaan, demokrasi, hukum, sosial, kepemudaan, dan literasi digital.
GPPN juga memandang ruang digital sebagai bagian penting dari kehidupan generasi muda. Karena itu, teknologi dan media sosial didorong untuk dimanfaatkan secara bertanggung jawab sebagai sarana edukasi, kreativitas, produktivitas, dokumentasi, komunikasi publik, serta penyebaran informasi yang positif dan konstruktif.
“Pemuda harus memiliki kemampuan memilah informasi, menghargai perbedaan pandangan, mengedepankan dialog, dan menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab. Literasi menjadi bagian penting dalam penguatan kualitas generasi muda,” ujar Nasky.Sebagai bagian dari pengembangan organisasi, GPPN mendorong terbentuknya jejaring kepemudaan yang berkelanjutan di berbagai wilayah Indonesia melalui semangat GPPN Satu Nusantara.
RUU Perampasan Aset Bakal Disahkan Desember, Pengamat: Harus Miliki Roh Pemberantasan Korupsi
Pengembangan jejaring diarahkan secara bertahap melalui GPPN Nasional, GPPN Provinsi, GPPN Kabupaten/Kota, hingga GPPN Kecamatan/Komunitas, dengan tetap memperhatikan ketentuan hukum, tata kelola organisasi, serta kesiapan sumber daya di masing-masing wilayah.
Menurut Nasky, pembangunan jejaring tersebut bukan sekadar memperluas struktur organisasi, tetapi juga membuka ruang bagi pemuda di berbagai daerah untuk saling terhubung, bertukar gagasan, berkolaborasi, dan mengembangkan kegiatan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.
Untuk memperjelas arah gerakan, GPPN mengembangkan empat ruang utama program kepemudaan.
Pertama, PEMUDA BERGERAK, sebagai ruang gerakan sosial, kepemudaan, kerelawanan, kreativitas, dan partisipasi generasi muda dalam berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kedua, PRESISI MENGABDI, sebagai semangat pengabdian masyarakat yang mengedepankan nilai Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan, serta integritas, profesionalisme, gotong royong, dan kepedulian sosial.Ketiga, LITERASI NUSANTARA, sebagai ruang pendidikan dan literasi mengenai kebangsaan, demokrasi, hukum, sosial, digital, budaya, dan kepemudaan.
Keempat, PEMUDA BERSATU JAGA NUSANTARA, yang diarahkan untuk memperkuat kebinekaan, dialog lintas komunitas, pelestarian budaya, kewirausahaan, ekonomi kreatif, peningkatan keterampilan, serta pemberdayaan pemuda.
GPPN juga menjadikan nilai Presisi—Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan— sebagai salah satu inspirasi dalam membangun budaya organisasi dan pengabdian. Nilai tersebut dimaknai sebagai dorongan bagi generasi muda untuk mampu membaca berbagai persoalan, bersikap responsif dan bertanggung jawab terhadap kebutuhan masyarakat, serta mengedepankan transparansi, akuntabilitas, dan keadilan dalam menjalankan kegiatan organisasi.
Sebagai penulis buku “Polri Presisi: Visi, Kerja Nyata, dan Dedikasi untuk Masyarakat,” Nasky mengatakan nilai-nilai tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam membangun budaya pengabdian yang berintegritas dan bertanggung jawab.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, GPPN juga menyampaikan perhatian terhadap pentingnya keberlanjutan pelayanan publik, keamanan, ketertiban masyarakat, dan penguatan kepercayaan publik melalui kerja kelembagaan yang profesional serta bertanggung jawab.
Nasky menuturkan semangat tersebut menjadi bagian dari refleksi GPPN dalam mengembangkan gerakan kepemudaan yang konstruktif. “Kami berharap semangat Presisi dapat terus menjadi inspirasi dalam membangun budaya pelayanan, tanggung jawab, profesionalisme, dan kepedulian kepada masyarakat. Pemuda juga memiliki peran untuk ikut menjaga ruang sosial agar tetap kondusif, produktif, dan persatuan tetap terawat,” ujarnya.Nasky yang juga Analis Kebijakan Publik dan Sosial-Politik Nasional serta alumnus INDEF School of Political Economy Jakarta menilai penguatan kualitas generasi muda merupakan bagian penting dalam mempersiapkan Indonesia menuju 2045.
Menurut dia, generasi muda perlu memiliki karakter kebangsaan sekaligus kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan sosial, ekonomi, teknologi, dan lingkungan strategis yang terus berkembang.
GPPN membuka ruang kolaborasi dengan berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menjalankan program yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil (civil society), Deklarasi Nasional dan Rakernas GPPN bukan merupakan tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk membangun gerakan kepemudaan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Seluruh rangkaian kegiatan akan menjadi bagian dari proses konsolidasi organisasi, penyusunan program kerja, penguatan jejaring, serta pengembangan agenda kepemudaan di berbagai wilayah.
“Kami ingin Deklarasi Nasional dan Rapat Kerja Nasional GPPN menjadi titik awal dari gerakan nyata. Pemuda harus mampu hadir di tengah masyarakat, menjaga persatuan, menghormati demokrasi, merawat kebhinekaan, dan memberikan kontribusi sesuai kapasitas masing-masing,” ujarnya.










