Hadapi Era AI, Generasi Muda Perlu Perkuat Kompetensi, Adaptasi, dan Empati

Hadapi Era AI, Generasi Muda Perlu Perkuat Kompetensi, Adaptasi, dan Empati

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 29 September 2026 - 20:10
share

Kemampuan beradaptasi, kompetensi, empati, dan kemanusiaan dinilai penting di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI). Tantangan generasi muda bukan sekadar menghadapi AI, melainkan memastikan kompetensi mereka tetap relevan.

Hal tersebut disampaikan Komisaris Independen PT KAI Endang Tirtana dalam orasi ilmiah pada Wisuda Program Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Periode 123 Tahun 2026.

Dalam orasinya bertajuk “Menyiapkan Generasi Transformatif yang Kompeten, Adaptif, dan Berdampak di Era Artificial Intelligence”, Endang mengangkat perjalanan transformasi PT KAI sebagai contoh perubahan organisasi di era digital.

Baca juga: Kolaborasi Teknologi AI dan Keamanan Siber Ciptakan Lapangan Kerja

Endang berpendapat, transformasi KAI tidak hanya ditandai oleh digitalisasi layanan, tetapi juga perubahan cara perusahaan melayani pelanggan. Ia memberikan contoh penggunaan aplikasi Access by KAI yang pada Semester I 2026 mencatat 17 juta transaksi penjualan tiket KA Jarak Jauh dan KA Lokal.

“Semua perubahan ini bagian dari transformasi KAI yang kita lihat bersama hari ini. Dari sekadar menjalankan kereta, KAI berkembang menjadi perusahaan yang semakin berorientasi pada pengalaman pelanggan dan membangun ekosistem transportasi terintegrasi yang menghubungkan kereta api, commuter line, LRT, MRT, kereta cepat, kerata logistik, kerata bandara, layanan digital, hingga berbagai moda dan layanan pendukung lainnya,” katanya, Selasa (29/9/2026).

Namun, Endang menegaskan bahwa teknologi tidak boleh menggeser manusia sebagai pusat pelayanan. “Cara membeli tiket berubah, cara memperoleh informasi berubah, cara berinteraksi dengan pelanggan berubah. Tetapi di tengah seluruh perubahan itu, ada satu hal yang tidak boleh berubah yaitu manusia. Sebab, secanggih apa pun teknologi dan sebaik apa pun sistem yang kita bangun, pada akhirnya manusialah yang menentukan kualitas pelayanan,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa ukuran keberhasilan transformasi bukan semata kecanggihan teknologi. Pada Semester I 2026, Customer Satisfaction Index KAI mencapai 4,53 dari skala 5, dengan lebih dari 2,2 juta interaksi pelanggan melalui berbagai kanal pelayanan.

“Karena itu, bagi saya, pelayanan bukan sekadar prosedur. Pelayanan adalah bagaimana kita menanusiakan manusia,” ujarnya.Dalam orasinya, Endang juga mengingatkan para wisudawan, AI telah memasuki kehidupan dan dunia kerja. Ia mengutip data Goldman Sachs Research pada April 2026 yang memperkirakan AI telah mengurangi pertumbuhan payroll Amerika Serikat sekitar 16.000 pekerjaan per bulan selama satu tahun terakhir.

Sementara itu, World Economic Forum melalui Future of Jobs Report 2025 memperkirakan hingga 2030 akan muncul sekitar 170 juta pekerjaan baru dan sekitar 92 juta pekerjaan terdampak displacement.

Karena itu, menurut Endang, tantangan generasi muda bukan sekadar menghadapi AI, melainkan memastikan kompetensi mereka tetap relevan. “Dunia kerja berubah, dan karena itu kita harus berubah bersamanya,” tegasnya.

Menurut dia, kemampuan manusia yang berkaitan dengan kreativitas, komunikasi, kerja sama, pengambilan keputusan, empati, serta kemampuan memahami konteks akan semakin penting ketika pekerjaan rutin semakin banyak dibantu teknologi. “Semakin AI mengambil pekerjaan yang rutin, semakin penting kemampuan manusia untuk memahami manusia,” ungkapnya.

Dia pun mengajak para wisudawan untuk tidak melihat AI semata sebagai ancaman. Menurut dia, teknologi harus dikuasai dan dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan manusia tanpa kehilangan rasa, empati, iman, dan kemanusiaan. “Semakin pintar teknologi, manusia harus semakin bijaksana,” katanya.

Menutup orasinya, Endang berpesan agar para lulusan tidak berhenti belajar setelah memperoleh ijazah. Ia mengajak mereka menjadi generasi yang “Ready to Work, Ready to Solve, dan Ready to Serve”—siap bekerja, menyelesaikan persoalan, dan melayani.

“Karena pada akhirnya, nilai seseorang bukan hanya ditentukan oleh seberapa tinggi pendidikannya, seberapa tinggi jabatannya, atau seberapa canggih teknologi yang dikuasainya, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan kepada manusia,” pungkasnya.

Topik Menarik