Berapa Lama Jasad Manusia Dapat Bertahan dalam Air Laut? Ini Faktanya

Berapa Lama Jasad Manusia Dapat Bertahan dalam Air Laut? Ini Faktanya

Gaya Hidup | okezone | Selasa, 29 September 2026 - 21:05
share

APA yang terjadi pada tubuh manusia setelah meninggal di laut? Pertanyaan ini mungkin terdengar mengerikan, tetapi menjadi bagian penting dalam ilmu forensik, terutama ketika terjadi kecelakaan kapal atau pesawat di perairan terbuka.

Berbeda dengan jenazah yang berada di daratan, tubuh manusia yang berada di laut mengalami proses perubahan yang dipengaruhi beberapa faktor. Mulai dari suhu air, kedalaman, kondisi lingkungan, serta keberadaan organisme laut.

Karena itu, tidak ada satu jawaban pasti mengenai berapa lama jenazah dapat tetap utuh di laut. Dalam kondisi tertentu, tubuh dapat bertahan selama beberapa hari sebelum tanda-tanda pembusukan semakin jelas. Namun, pada lingkungan yang lebih hangat atau ketika tubuh menjadi sasaran hewan pemakan bangkai, proses tersebut dapat berlangsung jauh lebih cepat.

1. Suhu Air Menjadi Salah Satu Faktor Penting

Dilansir dari Scientific American, setelah kematian, bakteri dan mikroorganisme yang secara alami berada di dalam tubuh mulai memecah jaringan. Di daratan, proses ini dapat berlangsung relatif cepat karena tubuh terpapar lingkungan yang memungkinkan serangga dan hewan lain mengakses jaringan lunak.

Di laut, kondisinya berbeda. Air yang dingin dapat memperlambat aktivitas bakteri dan proses pembusukan.

Dalam kondisi perairan yang relatif dingin, jaringan tubuh dapat mengalami proses yang disebut adipocere. Adipocere sendiri merupakan perubahan lemak tubuh menjadi material menyerupai lilin akibat proses kimia dan biologis setelah kematian.

Proses tersebut dapat memperlambat penguraian jaringan tertentu. Namun, hal ini bukan berarti tubuh akan tetap utuh tanpa batas waktu. Perubahan fisik tetap berlangsung dan bagian tubuh tertentu dapat lebih cepat mengalami kerusakan.

2. Apa yang Terjadi pada Tubuh di Laut?

Pada tahap awal setelah kematian, proses pembusukan mulai berlangsung. Seiring waktu, kulit dapat mengalami perubahan warna dan tekstur, sementara jaringan lunak secara bertahap mengalami penguraian.

Organisme laut juga berperan dalam proses tersebut. Kepiting, ikan kecil, dan organisme pemakan bangkai lainnya dapat memakan jaringan lunak, terutama pada bagian tubuh yang lebih mudah diakses.

Kondisi ini membuat proses perubahan jenazah di laut sangat berbeda dari proses dekomposisi di daratan.

 

3. Air Dingin Dapat Memperlambat Pembusukan

Sejumlah penelitian forensik menunjukkan bahwa jenazah yang ditemukan di perairan dingin dapat berada dalam kondisi relatif lebih baik pada tahap awal dibandingkan jenazah yang berada di perairan hangat.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Legal Medicine pada 2002 mengamati sembilan jenazah yang terbawa arus sejauh ratusan kilometer di perairan dingin sekitar Portugal dan Spanyol. Jenazah yang ditemukan dalam minggu pertama masih berada dalam kondisi yang relatif baik, meskipun tanda-tanda awal pembusukan mulai terlihat pada salah satu jenazah yang ditemukan setelah delapan hari.

Sementara itu, dua jenazah yang ditemukan setelah sekitar 20 hari telah mengalami pembusukan berat. Identifikasi akhirnya membutuhkan pemeriksaan DNA atau catatan gigi.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa waktu bukan satu-satunya faktor. Suhu air, jarak yang ditempuh, kondisi tubuh, dan lingkungan laut juga sangat menentukan.

Di perairan yang lebih hangat, proses penguraian dapat berlangsung lebih cepat. Hal ini dibuktikan dari penelitian yang diterbitkan pada 2008.  Angka tersebut tidak dapat dijadikan patokan untuk semua kasus. Kondisi setiap jenazah dan lingkungan laut dapat berbeda secara signifikan.

4. Peran Hewan Laut dalam Proses Dekomposisi

Selain bakteri dan kondisi air, hewan laut juga dapat mempercepat hilangnya jaringan lunak. Di perairan hangat, hiu merupakan salah satu predator yang dapat memanfaatkan tubuh sebagai sumber makanan. Namun, keberadaan hiu tidak berarti setiap jenazah yang berada di laut pasti akan dimakan.

George Burgess, mantan direktur Florida Program for Shark Research di Florida Museum of Natural History, pernah menjelaskan bahwa hiu merupakan predator oportunistis yang dapat memanfaatkan sumber makanan yang tersedia. Suara berfrekuensi rendah akibat kapal tenggelam atau kecelakaan pesawat juga dapat merambat jauh di bawah permukaan air dan berpotensi menarik perhatian hewan laut.

Meski demikian, anggapan bahwa laut selalu dipenuhi hiu yang siap mendekati setiap kecelakaan merupakan gambaran yang tidak akurat.

5. Mengapa Jenazah di Laut Sulit Ditemukan?

Selain proses dekomposisi, pencarian jenazah di laut menghadapi tantangan geografis yang sangat besar. Arus laut dapat membawa tubuh menjauh dari lokasi kecelakaan. Angin, gelombang, suhu air, kedalaman, serta kondisi cuaca juga dapat memengaruhi pergerakannya.

Itulah sebabnya proses pencarian korban kecelakaan di laut dapat berlangsung selama berhari-hari atau bahkan lebih lama. Jadi, soal berapa lama jenazah bisa bertahan di laut? Tidak ada batas waktu yang berlaku untuk semua kasus.

Dalam air dingin, proses pembusukan dapat berjalan lebih lambat sehingga jaringan tubuh mungkin bertahan lebih lama. Sebaliknya, air hangat cenderung mempercepat aktivitas mikroorganisme dan proses penguraian.

Keberadaan hewan laut, kedalaman, arus, pakaian, kondisi tubuh sebelum kematian, serta faktor lingkungan lainnya juga dapat memengaruhi proses tersebut.

Topik Menarik