Wisuda 213 Lulusan, UDN Teguhkan Pendidikan Tinggi Berbasis Tradisi Ponpes Gontor
Universitas Darunnajah (UDN) menyelenggarakan Wisuda ke-27 kepada 213 mahasiswa dari berbagai program studi. Wisuda tahun ini menandai perjalanan UDN dalam memperkuat pendidikan tinggi berbasis pesantren yang mengintegrasikan capaian akademik dengan pembentukan karakter dan nilai-nilai kepesantrenan.
Acara wisuda kali ini dihadiri Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI Ace Hasan Sadzily. Presiden Universitas Darunnajah, KH Hadiyanto Arief, menyambut hangat kehadiran Gubernur Lemhanas bukan hanya sebagai seorang pejabat negara, tetapi juga sebagai seorang santri yang kini mengemban amanah besar dalam menjaga ketahanan bangsa.
KH Hadiyanto Arief menegaskan ketahanan bangsa berakar dari ketahanan moral, dan ketahanan moral membutuhkan lembaga yang kokoh. Menurutnya, pesantren adalah benteng moral bangsa yang hanya akan kuat apabila kelembagaannya solid, tidak bergantung pada satu tokoh, dan tidak mudah terseret oleh kepentingan sesaat.
Baca juga: Wamenag Serahkan SK Pendirian Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah
"Alhamdulillah, kehadiran seorang santri di posisi strategis penjaga ketahanan nasional, bagi saya, menjadi bukti nyata bahwa kokohnya pesantren adalah bagian dari kokohnya ketahanan negeri itu sendiri," ucapnya, Sabtu (26/9/2026).Karakter pendidikan UDN memiliki keterkaitan erat dengan tradisi pendidikan pesantren yang dibawa para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor dalam membangun Darunnajah. Tradisi tersebut kemudian berkembang dalam lingkungan pendidikan Darunnajah dan menjadi salah satu bagian dari karakter pendidikan yang diterapkan hingga jenjang perguruan tinggi.
Hubungan tersebut juga tecermin dalam pandangan Rektor Universitas Darunnajah, Assoc. Prof. Dr. Much Hasan Darojat, yang menyampaikan, Universitas Darunnajah merupakan bagian dari UNIDA Gontor (nahnu min abnai Gontor). Pernyataan tersebut menegaskan adanya keterkaitan historis dan keilmuan antara Darunnajah dengan tradisi pendidikan Gontor yang terus berkembang dalam konteks pendidikan tinggi.
Lihat video: Ribuan Santri Sambut Imam Besar Masjid Nabawi Syekh Ahmad di Pesantren Darunnajah Jakarta
Dalam perkembangannya, UDN dan Universitas Darussalam Gontor memiliki sejumlah kesamaan karakter sebagai perguruan tinggi yang membawa nilai pesantren dalam pendidikan tinggi. Keduanya tidak hanya menempatkan kemampuan akademik sebagai tujuan pendidikan, tetapi juga memberikan perhatian terhadap pembentukan moral, mental, karakter, dan kesiapan mahasiswa untuk berkontribusi di masyarakat.Nilai-nilai seperti kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, kepemimpinan, pengabdian, dan akhlak menjadi bagian penting dalam pendidikan berbasis pesantren. Nilai tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa agar kemampuan yang diperoleh selama menjalani pendidikan dapat diterapkan dalam kehidupan profesional dan sosial.
Penggunaan bahasa Arab dan bahasa Inggris juga menjadi bagian dari tradisi pendidikan pesantren modern yang dikembangkan dalam lingkungan pendidikan UDN dan Gontor. Penguasaan kedua bahasa tersebut memberikan mahasiswa bekal untuk mengakses literatur, berkomunikasi, serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan global.Pendidikan berbasis pesantren juga diarahkan untuk membentuk lulusan yang memiliki kemampuan lebih dari sekadar penguasaan bidang keilmuan. Mahasiswa diharapkan memiliki karakter, kemampuan beradaptasi, keterampilan sosial, kepemimpinan, serta kemampuan lain yang mendukung kiprah mereka setelah menyelesaikan pendidikan.
Momentum Wisuda ke-27 dengan 213 lulusan menjadi salah satu gambaran dari proses pendidikan tersebut. Para wisudawan selanjutnya akan memasuki dunia profesional, melanjutkan pendidikan, maupun terjun ke masyarakat dengan membawa kompetensi akademik dan nilai yang diperoleh selama berada di lingkungan UDN.
Melalui pendidikan yang menggabungkan ilmu pengetahuan dan nilai pesantren, UDN terus mengembangkan model pendidikan tinggi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan global. Wisuda ke-27 menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pendidikan berbasis pesantren tidak hanya berorientasi pada lahirnya lulusan yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga generasi yang berakhlak, disiplin, mampu beradaptasi, dan siap memberikan kontribusi di tengah masyarakat.










