Pengadaan Kapal Perang PPA Italia Momentum Membangun Teknologi Pertahanan Indonesia

Pengadaan Kapal Perang PPA Italia Momentum Membangun Teknologi Pertahanan Indonesia

Nasional | sindonews | Sabtu, 26 September 2026 - 21:49
share

Kementerian Pertahanan (Kemhan) membeli dua unit kapal Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) atau Offshore Patrol Vessel (OPV) produksi Fincantieri, Italia. Program offset pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) tersebut perlu diarahkan untuk menghasilkan kemampuan teknologi dan produk pertahanan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan oleh industri dalam negeri.

Offset tidak semestinya berhenti pada pemenuhan persyaratan administratif, tetapi harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pemasok asing.

Hal tersebut dibahas dalam podcast Ngobrol Pertahanan Indonesia (Ngopi) yang diselenggarakan Marapi Consulting & Advisory dengan tema “Peluang dan Tantangan Offset dalam Program Akuisisi Kapal Perang”. Diskusi ini menghadirkan Kepala Bidang Ahli Teknologi dan Offset KKIP Yono Reksoprodjo, dan konsultan PT Marapi Tujuh Indonesia (Marapi) Alman Helvas Ali.

Baca juga: Kemhan Ungkap Alasan KRI Ki Hajar Dewantara Diusulkan Dijual

Dalam diskusi tersebut, Yono menegaskan offset merupakan sarana, bukan tujuan akhir dalam penguasaan teknologi. Keberhasilan offset harus diukur dari kemampuan Indonesia menghasilkan sesuatu setelah proses transfer teknologi selesai. “Offset itu vehicle, bukan tujuan akhir. Kalau offset adalah tujuan akhir, selesai offset, selesai sudah permasalahannya. Pertanyaannya, kita dapat apa?” tanya Yono, Sabtu (26/9/2026).Karena itu, setiap program offset harus memiliki blueprint yang jelas sejak awal mengenai kemampuan atau produk apa yang ingin dihasilkan. Untuk pengadaan kapal perang, menurut Yono, proses tersebut tidak cukup hanya dengan kemampuan fabrikasi atau pengelasan badan kapal.

“Indonesia perlu mempelajari keseluruhan proses engineering, mulai dari desain, manajemen produksi, sistem integrasi hingga teknologi yang berada di balik platform kapal,” katanya.

Lihat video: Kapal Induk Garibaldi Tiba di Perairan NKRI, Dikawal 2 Kapal Perang RI

Terkait pengadaan PPA (Pattugliatore Polivalente d’Altura) Italia, Yono melihat adanya keterbatasan karena kapal yang dibeli merupakan produk yang sudah jadi. Karena itu, peluang offset perlu diarahkan pada area yang masih memberikan ruang bagi peningkatan kemampuan industri Indonesia, termasuk simulator dan terutama penguasaan teknologi serta integrasi sistem.

Sementara itu, Alman Helvas Ali menilai offset hanya merupakan salah satu tahapan dalam proses panjang penguasaan teknologi. Pengalaman Indonesia pada masa lalu menunjukkan bahwa manfaat offset dapat menjadi signifikan apabila teknologi yang diperoleh kemudian digunakan untuk mengembangkan produk baru.

“Offset hanyalah salah satu tahapan dalam penguasaan teknologi maju. Teknologi yang didapatkan dari offset harus digunakan untuk mengembangkan suatu produk baru yang buatan kita sendiri,” kata Alman.Alman juga mengingatkan hasil offset tidak akan optimal apabila industri dalam negeri tidak memperoleh kesempatan untuk menggunakan teknologi yang telah diserap. Dalam konteks PPA, ia mencontohkan peluang pengembangan simulator. Transfer teknologi akan lebih bermakna apabila perusahaan Indonesia yang menerima teknologi kemudian dipercaya mengembangkan simulator atau produk sejenis untuk kebutuhan pertahanan nasional.

“Bagaimana perusahaan bisa membuktikan mereka telah menyerap teknologi simulator apabila mereka tidak diberi kesempatan mengembangkan produk berdasarkan ilmu yang mereka dapatkan dari offset,” ujarnya.

Keduanya juga menyoroti pentingnya mengurangi ketergantungan pada indirect offset dan memberikan porsi lebih besar pada direct offset yang berkaitan langsung dengan produk pertahanan yang dibeli.

Yono menilai indirect offset tidak sepenuhnya salah, tetapi apabila terlalu dominan, manfaat teknologi yang seharusnya diperoleh dari produk alutsista yang dibeli dapat berkurang. Yono menambahkan Indonesia sebenarnya telah memiliki kemampuan yang cukup untuk membangun platform kapal. Tantangan yang lebih besar berada pada aspek “what's inside”, yakni teknologi dan sistem yang membuat kapal tersebut menjadi kapal perang dengan kemampuan tempur. Dalam pengadaan kapal perang, peluang direct offset dinilai dapat diarahkan pada desain kapal, sistem elektronika pertahanan, combat management system (CMS), integrasi berbagai subsistem, serta kemampuan engineering dan produksi. Menurut Alman, penguasaan elektronika pertahanan menjadi salah satu pekerjaan rumah penting karena sistem tersebut merupakan bagian penting dari kemampuan tempur kapal perang modern.

Karena itu, program offset PPA maupun pengadaan kapal perang berikutnya perlu ditempatkan dalam peta jalan jangka panjang industri pertahanan. Penguasaan teknologi tidak dapat dipaksakan selesai dalam satu periode pemerintahan. Pengalaman pengembangan industri pesawat terbang menunjukkan pembangunan kemampuan teknologi membutuhkan konsistensi, investasi SDM, laboratorium, sertifikasi, serta kesempatan untuk menghasilkan produk secara berkelanjutan.

“Pembelian PPA Italia perlu dilihat bukan hanya sebagai penambahan jumlah kapal perang TNI AL, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun kemampuan industri pertahanan Indonesia. Offset akan memberikan nilai strategis apabila teknologi yang diperoleh hari ini dapat menjadi dasar bagi lahirnya kemampuan dan produk pertahanan nasional pada masa mendatang,” katanya.

Topik Menarik