Pengembangan MNK di Blok Rokan Bakal Ubah Indonesia Jadi Raksasa Minyak Dunia?
Langkah PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dalam mengembangkan proyek Migas Non Konvensional (MNK) di Blok Rokan diprediksi bakal menjadi game changer utama bagi peta produksi minyak dan gas nasional.
Terobosan teknologi ini digadang-gadang berpotensi mengulang kebangkitan industri energi Amerika Serikat (AS), yang sukses bertransformasi dari negara pengimpor menjadi salah satu eksportir minyak terbesar di dunia berkat eksplorasi MNK sejak era 2000-an.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro mengonfirmasi, bahwa potensi potensi MNK di Indonesia sangat berlimpah dan menjadi kunci masa depan energi nasional. Baca Juga: Pertamina Libatkan AI Kelola Blok Rokan, Targetkan Efisiensi Rp762 Miliar
“Game changer-nya migas itu MNK. Hal ini seperti di AS, di mana MNK menjadi pembeda karena potensinya cukup besar, sehingga membuat AS tergolong menjadi produsen minyak yang besar di dunia setelah mengembangkan MNK tersebut di tahun 2.000-an,” kata Komaidi kepada media hari ini.
Seperti di AS, MNK menjadi pembeda karena potensinya cukup besar sehingga membuat mereka tergolong produsen minyak besar dunia. PHR dinilai terbukti mampu melakukan perencanaan hingga eksekusi, yang membuktikan keandalan Pertamina memproduksi MNK.Begitu juga di Indonesia, Komaidi menilai bahwa potensi MNK cukup besar. Hanya tantangannya adalah karakteristik batuan yang berbeda dan lebih sulit, sehingga harus menggunakan teknologi yang berbeda dari pengeboran sumur migas biasa.
Baca Juga: Pertamina Setor Rp115,79 Triliun ke Negara Usai Ambil Alih WK Rokan
Konsekuensinya, lanjut dia, adalah biaya produksi. Pasti ada perbedaan sehingga perlu terus dilakukan kajian agar penerapan MNK bernilai ekonomi. Komaidi juga sependapat, bahwa upaya mengembangkan MNK di Zona Rokan menjadi bukti keandalan Pertamina memproduksi MNK.
Hal itu dilakukan Pertamina, antara lain melalui kerja sama dalam menggunakan teknologi migas, mengingat MNK membutuhkan teknologi tinggi dan kompleks.“Kalau tidak salah, Pertamina melakukan kerja sama riset dan pendidikan teknologi MNK dengan perguruan tinggi pertambangan di AS. Jadi, apakah teknologinya milik sendiri atau dengan pihak lain, PHR terbukti bisa melakukan perencanaan, sampai dengan eksekusi. Artinya, PHR memiliki kehandalan memproduksi MNK,” tegasnya.
Jika program MNK PHR berhasil, imbuh Komaidi, tentu membuat rasio cadangan dan produksi migas akan bertambah panjang. Artinya, masa depan bisnis migas di Indonesia, terutama dengan MNK, juga akan lebih panjang.
“Sebab kekhawatiran perusahaan migas adalah jika tidak menemukan cadangan baru. Karena hal itu otomatis membuat usia perusahaan akan segera berakhir,” kata dia.
Jadi, kalau kemudian menemukan cadangan, kata dia, maknanya adalah memperpanjang usia bisnis migas PHR, termasuk Pertamina secara keseluruhan, karena sumur-sumur MNK bisa diproduksi. Sehingga diharapkan potensi-potensi MNK lain di Indonesia juga bisa diproduksi.
7 Fakta Guru PPPK Jadi PNS 2027
“Selain itu, kredibilitas Pertamina dalam produksi migas juga akan meningkat di dunia,” ujarnya.Di tengah tantangan ditemukannya blok-blok migas baru yang mayoritas berada di kawasan laut dalam (deepwater) Indonesia Timur -yang membutuhkan biaya fantastis dan infrastruktur rumit-, MNK Rokan menawarkan keunggulan strategis karena lokasinya yang berada di daratan (onshore).
“Sedangkan MNK, sebagian sumurnya masih ada di daratan. Dengan demikian diharapkan, biaya produksi atau paling tidak secara teknis, tidak sesulit di laut dalam, sehingga memang layak menjadi harapan untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia,” tutup Komaidi.
Sebelumnya, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina melakukan penandatanganan Kontrak Bagi Hasil (KBH) MNK Rokan lewat anak usahanya PT PHE Rokan Nonkonvensional. Momentum merupakan langkan strategis pengembangan MNK dan mempertegas MNK Rokan sebagai pionir proyek pengembangan MNK di Indonesia.
Perjalanan MNK Rokan dimulai dari pengeboran Gulamo DET-1 pada 2023, yang kemudian dilanjutkan dengan Kelok DET-1 pada 2024 sebagai bagian dari upaya studi potensi migas non-konvensional di struktur North Aman.










