Ingin Buktikan Bukan Lagi Proksi Iran, Houthi Ingin Memperjuangkan Kepentingan Sendiri

Ingin Buktikan Bukan Lagi Proksi Iran, Houthi Ingin Memperjuangkan Kepentingan Sendiri

Global | sindonews | Kamis, 17 September 2026 - 01:10
share

Kelompok Houthi beroperasi dengan tingkat otonomi lokal yang semakin menunjukkan sikap menantang dan tidak boleh dipandang semata-mata sebagai perpanjangan jaringan proksi Teheran. Itu diungkapkan Lorenzo Kamel, seorang analis urusan Timur Tengah, kepada Al Jazeera.

Ingin Buktikan Bukan Lagi Proksi Iran, Mengapa Houthi Ingin Memperjuangkan Kepentingan Sendiri?

1. Memanfaatkan Kekacauan Regional

"Mereka bukan sekadar perpanjangan jaringan proksi Teheran, sebagaimana sering digambarkan, melainkan secara aktif memanfaatkan kekacauan regional untuk memperkuat kedaulatan domestik mereka sendiri dan memaksa Arab Saudi memberikan konsesi," ujarnya.

Intervensi militer yang dipimpin Saudi—yang telah meluluhlantakkan Yaman dalam beberapa tahun terakhir—sebagian besar merupakan akibat dari "kebijakan kriminal Arab Saudi di lapangan," kata Kamel.

Dalam konteks yang lebih luas, ia berpendapat bahwa "secara historis... otoritas Saudi tidak bertempur sendiri. Mereka beranggapan bahwa AS akan turun tangan dan bertempur demi mereka."

2. Ingin Melawan Saudi

Ia merujuk pada Pemberontakan Arab tahun 1916—ketika "Dinasti Saud tetap bersekutu dengan Imperium Inggris alih-alih bekerja sama dengan faksi-faksi lokal lainnya"—sebagai bukti adanya pola yang sudah berlangsung lama.

"Menyerahkan urusan keamanan kepada pihak luar (outsourcing), seperti yang sering dilakukan otoritas Saudi dalam beberapa dekade terakhir, tidak akan pernah menghasilkan perdamaian formal yang langgeng di kawasan Teluk maupun wilayah yang lebih luas," katanya. Ia menambahkan bahwa langkah tersebut paling-paling hanya menciptakan "stabilitas bersenjata, atau stabilisasi militeristik, yang sangat berbeda dari perdamaian sejati."

3. Membuka Front Baru

Para pejuang pemberontak Houthi di Yaman telah berhasil keluar dari garis depan pertempuran yang secara umum tidak banyak berubah sejak tahun 2022; mereka bergerak maju merebut posisi-posisi strategis di dekat Selat Bab al-Mandeb yang vital serta membuka front baru dalam perang yang telah mengguncang kawasan tersebut sejak serangan AS dan Israel terhadap sekutu Houthi di Iran pada bulan Februari.Dalam beberapa hari terakhir, pejuang Houthi yang didukung Iran telah menguasai Kepulauan Hanish Besar dan Kecil serta kota pelabuhan Mocha di Laut Merah. Langkah ini memperkuat cengkeraman kelompok tersebut atas salah satu jalur energi utama dunia, di tengah perlawanan dari pasukan yang berpihak pada pemerintah Yaman.

Pentingnya Selat Bab al-Mandeb kian meningkat sejak Iran—sebagai tanggapan atas serangan AS dan Israel—membuktikan kemampuannya untuk membatasi secara signifikan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz; sejumlah analis memperingatkan bahwa pergerakan maju terbaru ini berpotensi semakin mendongkrak harga bahan bakar secara global.

Bagi Arab Saudi, ancaman ini bukan lagi sekadar hipotesis. Serangan pesawat nirawak (drone) terhadap Pipa Timur-Barat—saluran sepanjang sekitar 1.200 km (750 mil) yang mengalirkan sekitar 4 persen pasokan minyak global dari pesisir Teluk ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah—telah memaksa penghentian operasional pipa tersebut, sementara nasib penyaluran di masa mendatang masih belum jelas.

Akibat lumpuhnya pipa tersebut dan semakin kuatnya cengkeraman Houthi di pesisir Laut Merah serta pulau-pulau di dekat Bab al-Mandeb, dua jalur ekspor alternatif utama Arab Saudi di luar Selat Hormuz kini terancam terhimpit secara bersamaan.

4. Mengancam Pasokan Sepertiga Minyak Dunia

Melalui aliansinya dengan Houthi, Iran mengancam hampir sepertiga ekonomi minyak global, kata Baraa Shiban, seorang peneliti dan analis politik mengenai Yaman dan kawasan Teluk di Royal United Services Institute (RUSI).

"Iran tahu mereka tidak bisa memenangkan perang konvensional di medan tempur, jadi mereka melancarkan perang ekonomi terhadap dunia," ujarnya, merujuk pada ketidakmampuan AS untuk mempertahankan konflik yang berkepanjangan dan meluas di Teluk. "Hal terakhir yang bisa dilakukan Trump adalah kembali ke publik Amerika dan mengatakan bahwa mereka perlu terlibat dalam satu lagi front pertempuran di dalam Yaman."

Topik Menarik