Indoanalgesia Bali 2026 Ajang Kolaborasi Dokter Lintas Negara Dalami Pain Management

Indoanalgesia Bali 2026 Ajang Kolaborasi Dokter Lintas Negara Dalami Pain Management

Nasional | sindonews | Selasa, 15 September 2026 - 07:55
share

Indoanalgesia Bali 2026 sukses diselenggarakan selama tiga hari, 10-12 September 2026 di Prama Sanur Beach Hotel Bali. Mengusung tema “The Next Chapter in Pain Management: Redefining Analgesia through Regenerative Medicine,” kegiatan ini mempertemukan ratusan peserta dari berbagai latar belakang kedokteran.

Konferensi ini juga menghadirkan peserta dan pembicara dari berbagai negara antara lain Kanada, India, Malaysia, Manila, Singapura, serta sejumlah negara lainnya.

Kehadiran para ahli internasional menjadi ruang penting untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan perkembangan terbaru dalam bidang pain management dan regenerative medicine.

Baca juga: Di Konferensi Internasional, Waka BRIN Paparkan Teknologi Modern Ilmu Kedokteran Gigi

Tidak hanya melalui sesi ilmiah, peserta juga mendapatkan pengalaman hands-on training dengan praktik secara langsung yang dimentori para profesional dan ahli pain management. Rangkaian kegiatan juga menjadi momentum memperkuat jejaring dan kolaborasi internasional di bidang kedokteran nyeri. "Pertemuan para praktisi dari berbagai latar belakang membuka peluang pertukaran pengetahuan dan pengembangan kerja sama dalam pendidikan, penelitian, maupun pelayanan kesehatan," ujar Ketua Panitia Indoanalgesia Bali 2026 dr I Wayan Widana.

Melalui kegiatan ini, Indoanalgesia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kemajuan pain management dan menghadirkan pendekatan yang semakin inovatif demi meningkatkan kualitas hidup pasien. "Acara ini diharapkan menjadi wadah dokter memperdalam ilmu pain serta memperluas relasi kedokteran di taraf internasional,"ujar Wayan dikutip Selasa (15/9/2026).

Workshop dan simposium tentang regenerative medicine di mana terapi ini dilatarbelakangi juga dengan teori yang kemudian dilanjutkan pemahaman tentang target terapi regenerative medicine dengan panduan ultrasonografi sehingga target terapinya menjadi presisi.

"Kita ingin mengajak semua dokter di Indonesia belajar terapi regenerative. Ada juga penyakit-penyakit tertentu yang terapi secara konvensional ini tidak memberikan hasil yang memuaskan, hasil yang bagus sehingga kita harus memikirkan terapi-terapi regenerative," katanya.

Wayan mengungkapkan banyak menemukan pasien-pasien dengan nyeri kronis seperti neuropatik dan nosiplastik setelah menjalani terapi regenerative hasilnya cukup bagus. "Peminat-peminat dari terapi regenerative ini sangat banyak sehingga kita mengundang berbagai pembicara dari dalam dan luar negeri ini untuk sharing-sharing ilmu di sini untuk meningkatkan pasiennya supaya mendapat suatu kesembuhan yang bagus," ujarnya.

Salah satu peserta asal Malaysia Dr Muhammad Asyraf Zubir mengatakan materi dari Kanada Dr Pranab menyampaikan materi yang bagus dan dapat digunakan untuk praktik harian.

Sementara dr Sandra Surya Rini menyampaikan keseluruhan kegiatan menarik dan berguna untuk dipraktikkan karena lintas disiplin ilmu. "Kita bisa belajar dari spesialistik-spesialistik yang lain untuk mendalami USG dan di mana kita mengaplikasikan dalam praktik sehari-hari. Saya tidak hanya belajar secara teoritis, jadi langsung praktik, langsung kita megang hands-on. Jadi saya dapat eksperimen yang baru untuk USG ternyata tidak cuma dipakai satu hal saja, jadi banyak hal yang bisa kita lakukan pakai USG," ungkapnya.

Topik Menarik