Apple Bikin iPhone Rp56 Juta untuk Pasar yang Cuma 2 Persen
Ponsel lipat baru menguasai 2 persen penjualan ponsel dunia. Dua persen. Ke pasar sekecil itulah Apple masuk, Rabu lalu, dengan iPhone Duo seharga Rp35.582.200.
Samsung, Huawei, Google, Xiaomi, Oppo, semua produsen ponsel lipat digabung jadi satu, hanya 2 persen dari seluruh ponsel yang terjual di dunia.
Ben Wood, kepala analis CCS Insight, punya proyeksi yang lebih pahit lagi. Bahkan dengan Apple ikut masuk dan menyeret perhatian serta permintaan, pangsa ponsel lipat diperkirakan hanya naik ke 4 persen. Dalam sepuluh tahun ke depan. Sepuluh tahun. Untuk naik dua poin persen.
Lalu untuk apa Apple repot-repot? Ben Bajarin dari Creative Strategies memperkirakan Apple bisa merebut 20 sampai 25 persen dari pasar ponsel lipat. Itu perkiraan yang optimistis. Ia bahkan yakin Apple akan menjual habis semua unit yang bisa mereka produksi.
Tapi coba kalikan. Dua puluh sampai 25 persen dari pasar yang besarnya 2 persen. Hasilnya: sekitar 0,4 sampai 0,5 persen dari total pasar ponsel dunia.
Kalaupun pasar lipat benar-benar tumbuh jadi 4 persen seperti proyeksi Wood, porsi Apple hanya sekitar 0,8 sampai 1 persen.
Bandingkan dengan posisi iPhone hari ini: satu produk yang menyumbang lebih dari separuh seluruh penjualan Apple setiap tahun.Angka Duo itu remah-remah.
Tapi Apple memang tidak butuh volume.
Harga jual rata-rata ponsel lipat lebih tinggi daripada ponsel biasa. Marginnya juga lebih tebal. Artinya, Apple tidak perlu menjual banyak untuk mencetak uang.
Duo mulai USD1.999 atau Rp35.582.200 untuk versi 256GB. Varian tertingginya USD3.200 dolar (Rp56.960.000).Sebelum ini, iPhone termahal Apple dimulai di USD900 alias Rp16.020.000.
Jadi satu unit Duo setara lebih dari dua unit iPhone termahal generasi sebelumnya. Jual satu, dapat dua.Dengan hitungan seperti itu, Apple bisa menjual jauh lebih sedikit unit dari siklus iPhone biasa, dan tetap menambah tebal baris pendapatan iPhone. Laporan keuangannya keluar tak lama sebelum Halloween.
Apple datang paling akhir. Sangat akhir.
Samsung merilis ponsel lipat pertamanya tahun 2019. Kini sudah generasi kedelapan. Tahun ini keluar Galaxy Z Fold 8 Ultra berkamera tiga, dan Galaxy Z Fold 8 berkamera dua dengan bentuk paspor yang lebih lebar dan jauh lebih pendek.Google sudah di ponsel lipat keempat: Pixel 11 Pro Fold, tiga kamera.
Xiaomi dan Oppo bahkan sudah main di bentuk eksotis. Tri-fold. Lipat tiga.
Apple? Baru yang pertama. Tujuh tahun setelah Samsung.
Dan justru itu yang membuat CEO AT&T John Stankey menyambutnya dingin. Melihat ponsel-ponsel lipat yang sudah beredar, katanya, ini bukan hal baru. Android sudah punya perangkat lipat yang bagus selama bertahun-tahun. Pengguna Android sama fanatiknya dengan pengguna iOS, porsinya lebih kecil di pasar Amerika, tapi mereka tetap militan.Yang terjadi selama ini, kata Stankey, ponsel lipat cenderung berfungsi sebagai aplikasi ceruk. Bukan sesuatu yang diterima luas.
Pertanyaannya, kata dia: apakah pengguna iOS akan melihatnya berbeda? Mungkin saja. Tapi tebakannya sekarang: ini akan tetap terbatas pada sebagian pengguna yang memang ingin perangkat lebih besar dan bersedia merogoh lebih dalam.
Dua nasib yang mungkin
Dipanjan Chatterjee dari Forrester meletakkan dua kemungkinan di atas meja.Kemungkinan pertama: Duo berakhir seperti Vision Pro. Headset yang dibanderol USD3.699 (Rp65.842.200), dan tidak laku. Chatterjee menyebut ponsel lipat ini berisiko jadi sekadar ornamen berharga premium di dalam portofolio. Memberi gengsi, tapi tidak memberi pertumbuhan.
Kemungkinan kedua: Duo jadi Apple Watch berikutnya. Tidak sepopuler iPhone. Tapi dibeli jutaan orang tiap tahun. Bedanya tipis. Dan Apple sendiri belum tahu jatuh ke mana.
Hambatan yang jarang disebut: kebiasaan
Carolina Milanesi dari Creative Strategies, yang hadir di presentasi Rabu itu, menyoroti hal yang lebih sepele tapi lebih menentukan. Ponsel lipat memang menarik. Banyak orang penasaran. Tapi perangkat lunaknya, dan kurva belajar yang harus dilalui saat pindah dari ponsel biasa ke ponsel lipat, itu nyata sulitnya. Orang sudah terlalu terbiasa dengan cara iPhone bekerja. Selama hampir 20 tahun.Bajarin justru melihat di situlah keunggulan Apple. Menurutnya pembeda Duo bukan perangkat kerasnya. Perangkat keras ponsel lipat lain juga bagus. Yang membedakan adalah perangkat lunaknya, buah dari integrasi vertikal Apple. Termasuk animasinya.Dua analis dari kantor yang sama. Kesimpulan yang berbeda. Menarik.
Pasar modal menunggu
Saham Apple turun 1 persen pada perdagangan Rabu sore. Ditutup di 315,34 dolar AS, melemah 0,28 persen.Ini pola lama. Saham Apple sering melemah sesaat setelah acara peluncuran. Analis Bank of America Wamsi Mohan mencatat, saham itu biasanya pulih dan mencetak kenaikan baru dalam 30 sampai 60 hari sesudahnya.
Jadi rapor pertama Duo bukan yang keluar Rabu kemarin. Rapor sesungguhnya keluar dua bulan lagi.
Kembali ke angka dua persen
Tentu Apple sadar betul pasar ini kecil. Justru karena itu mereka masuk sekarang: bukan untuk merebut volume, tapi untuk memastikan tidak ada kategori ponsel yang tumbuh tanpa mereka di dalamnya.Ada satu kalimat dari Ben Wood yang menurut saya menjelaskan semuanya. Soal pengangkatan John Ternus sebagai CEO, yang persis bertepatan dengan peluncuran iPhone terbesar dalam bertahun-tahun, ia bilang: di Apple, tidak ada yang terjadi secara kebetulan.
Pre-order 16 Oktober. Dijual 23 Oktober. Dua persen itu akan diuji.





