Berapa Liter Air untuk Satu Foto AI 80-an Anda?

Berapa Liter Air untuk Satu Foto AI 80-an Anda?

Teknologi | sindonews | Jum'at, 11 September 2026 - 08:21
share

Tren pembuatan gambar dan video berbasis kecerdasan buatan (AI) yang kian masif di media sosial kembali memicu perdebatan mengenai "ongkos ekologis" di balik kecanggihan teknologi ini. Di tengah gegap gempita inovasi yang menawarkan kemudahan dan efisiensi, kekhawatiran publik akan ancaman krisis air dan lonjakan konsumsi listrik akibat operasional pusat data AI semakin mengemuka. Berbagai informasi berseliweran di ruang publik, mulai dari proyeksi kekeringan yang mengerikan hingga bantahan dari para petinggi raksasa teknologi yang kerap menyebut isu lingkungan tersebut terlalu dibesar-besarkan. Jadi, mana yang benar?

Proyeksi PBB dan Tingginya Beban Inferensi

Kekhawatiran akan besarnya konsumsi sumber daya AI bukanlah isapan jempol. Laporan Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB (UNU-INWEH) pada Juni 2026 mengonfirmasi bahwa jejak air pusat data AI diproyeksikan mencapai 9,3 triliun liter per tahun pada 2030. Angka ini secara riil setara dengan kebutuhan air domestik dasar seluruh 1,3 miliar penduduk Afrika Sub-Sahara selama setahun. Dari sisi kelistrikan, AI diprediksi akan menyedot 945 terawatt-jam (TWh), hampir tiga kali lipat konsumsi gabungan negara padat penduduk seperti Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria. Laporan ini juga menggarisbawahi fakta krusial yang sering luput dari perhatian publik: 80 hingga 90 persen konsumsi energi AI justru tidak terjadi pada masa pelatihan model, melainkan pada tahap inferensi, yakni saat sistem beroperasi menjawab jutaan permintaan harian pengguna.

Konteks Lonjakan Air yang Hilang

Di ranah perdebatan lain, terdapat klaim valid yang sayangnya kerap kehilangan konteks waktu, seperti pernyataan bahwa kebutuhan air AI melonjak 129 persen. Mengutip riset Xylem dan Global Water Intelligence, lonjakan masif tersebut memang nyata, namun diproyeksikan untuk tahun 2050, bukan dalam kurun waktu dekat. Selain itu, rincian beban penyumbang kebutuhan air tersebut sering kali tidak disampaikan secara utuh kepada publik:Pembangkitan listrik untuk menghidupkan ekosistem AI menyumbang porsi terbesar, yakni 54 persen dari total kenaikan permintaan air.

Fabrikasi perangkat semikonduktor menyusul dengan sumbangan sekitar 42 persen.

Ekspansi fisik pusat data itu sendiri faktanya hanya menyumbang sekitar 4 persen dari total lonjakan.

Konten Visual Jauh Lebih Menguras Energi

Klaim yang menyebutkan bahwa pembuatan konten visual dengan AI berbiaya lingkungan lebih mahal dibandingkan teks adalah fakta yang sangat kuat didukung data. Satu permintaan teks biasa hanya menghabiskan sekitar 0,24 hingga 0,34 watt-jam listrik—setara dengan menyalakan televisi selama 9 hingga 12 detik. Namun, realitasnya berubah drastis pada format visual. Sebuah studi pada 2026 menemukan bahwa memproduksi satu gambar rata-rata menyerap energi 60 kali lipat lebih besar dari pembuatan teks. Lebih ekstrem lagi, pembuatan video dapat melampaui 100 kali lipat energi pembuatan gambar. Eksperimen pada model CogVideoX, misalnya, menunjukkan bahwa satu klip berdurasi lima detik membutuhkan energi yang kira-kira setara dengan 700 kali lipat kebutuhan memproduksi satu gambar berkualitas tinggi.

Bantahan Menyesatkan dan Kedaruratan Transparansi

Di tengah ancaman krisis ini, CEO OpenAI, Sam Altman, sempat berupaya menenangkan publik melalui klaim bahwa isu konsumsi air AI dibesar-besarkan. Dalam sebuah siniar, ia menyebut setiap 38.000 permintaan ChatGPT hanya setara dengan volume air untuk memproduksi satu butir badam (almond). Namun, penelusuran lembaga pemeriksa fakta PolitiFact menilai klaim tersebut sebagian besar salah. Data objektif menunjukkan bahwa 6 liter air (kebutuhan untuk satu butir badam) nyatanya sudah menguap hanya untuk melayani 1.000 hingga 10.000 permintaan AI percakapan.

Para peneliti menyoroti bahwa akar dari kesimpangsiuran ini adalah minimnya transparansi dari perusahaan teknologi terkait volume pasti penggunaan air dan sistem pendingin yang mereka gunakan.

Topik Menarik