UTA 45 Jakarta Latih Masyarakat RPTRA Dukuh Manis Ciptakan Sabun Eco Enzyme

UTA 45 Jakarta Latih Masyarakat RPTRA Dukuh Manis Ciptakan Sabun Eco Enzyme

Nasional | sindonews | Kamis, 10 September 2026 - 19:52
share

Prihatin dengan persoalan sampah di Jakarta, Universitas 17 Agustus 1945 (UTA 45) membuat terobosan menciptakan sabun eco enzyme. Dengan memberdayakan masyarakat setempat, limbah organik disulap menjadi sabun eco enzyme.

Langkah ini diyakini sebagai salah satu upaya mendongkrak ekonomi hijau . Sebagai lokasi percontohan pembuatan sabun eco enzyme, UTA 45 memilih RPTRA Dukuh Manis di Sempet Barat, Cilincing, Jakarta Utara. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Rabu, 19 Agustus 2026 tersebut melibatkan sebanyak 50 warga terdiri dari ibu-ibu PKK serta perwakilan RT dan RW setempat.

Kegiatan tersebut digagas oleh tim dosen dan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta yang beranggotakan Sisman Prasetyo, Rangki Astiani, dan Yanuar Rahmadan, dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Dana Hibah Program Kemitraan Masyarakat (PKM) 2026.

Baca juga: Kebakaran TPS Kampung Dukuh Tewaskan Petugas Damkar, Pramono Bakal Tagih Ganti Rugi Penimbun Sampah Liar

Ketua Tim Sisman menyampaikan pogram ini lahir dari keprihatinan terhadap beban sampah Ibu Kota yang kian menumpuk. Dosen Fakultas Administrasi Kebijakan Publik UTA 45 Jakarta ini menyebut sekitar 9.000 ton sampah per hari dihasilkan di Ibu Kota. Dari jumlah itu sekitar 49,87 merupakan sampah organik. Di tingkat nasional, data KLHK menyatakan Indonesia menghasilkan sekitar 71 juta ton sampah pada 2025. Lebih dari separuh timbulan (sampah dihasilkan masyarakat) justru berasal dari rumah tangga. "Di Jakarta Utara sendiri, volume sampah organik pada 2025 tercatat mencapai sekitar 1.300 ton per hari. Kondisi ini menurut kami membuat rumah tangga tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai 'penghasil masalah' melainkan titik strategis untuk memulai solusi," kata Sisman, Kamis (10/9/2026).

Sisman mengapresiasi langkah Kelurahan Semper Barat yang telah mendorong warganya memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Kebijakan lokal itu dikatakan Sisman yang menjadi pijakan bagi tim pengabdian untuk turun langsung ke lapangan.

Sisman menceritakan, warga Sempet Barat sangat antusias dalam pengolahan limbah organik menjadi sabun eco enzym. Sebelum praktik pembuatan, masyarakat terlebih dahulu diberikan pemahaman dan sosialisasi perihal eco-enzyme.

Dosen Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta Rangki Astiani memberikan pemahaman yang mengupas konsep dasar eco-enzyme, mulai dari bahan yang bisa digunakan, proses fermentasi, hingga potensi pemanfaatannya. Dipandu oleh Muhamad Amin selaku perwakilan dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Jakarta Utara, masyarakat kemudian diajak mengaplikasikan langsung pembuatan sabun eco enzyme.

Lihat video: DARURAT SAMPAH! Gunungan Sampah Tutup Jalan, Aktivitas Warga Jakarta Lumpuh

"Mulai dari pemilahan bahan organik hingga proses pencampuran dan fermentasi. Peserta tidak hanya menonton, tapi juga ikut mempraktikkan langsung menggunakan alat dan bahan yang telah disiapkan. Tahap berikutnya, masyarakat menghubungkan hasil fermentasi dengan produk yang lebih aplikatif, sabun cair cuci tangan. Di sesi itu, masyarakat dipandu oleh Rangki Astiani untuk belajar meracik formulasi sabun dengan eco-enzyme sebagai salah satu bahan utamanya, hingga menghasilkan produk siap pakai," papar Sisman.Sisman menyebut pengolahan limbah menjadi produk bermanfaat seperti sabun eco enzyme dapat diterapkan di berbagai daerah di Jakarta. Dengan upaya tersebut, sisa buah dan sayuran tak lagi menjadi persoalan yang menimbulkan bau busuk, tapi diubah menjadi bahan dasar dari sabun eco enzyme.

"Langkah ini sangat solutif untuk persoalan di Jakarta yang hampir setengah sampah dihasilkan merupakan sampah organik rumah tangga. Limbah yang tadinya tidak bernilai atau dianggap sebagai masalah diubah menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomis. Di mana inovasi ini menghasilkan produk ramah lingkungan dan alternatif menjaga kebersihan yang memanfaatkan bahan lokal dengan konsep produksi berkelanjutan," jelas Sisman

Dengan pelatihan keterampilan, Sisman optimistis masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga dapat mengembangkan produk yang selanjutnya dikemas dan dipasarkan. Sisman menambahkan, bagi tim pengabdian, keterampilan itu diharapkan bisa dikembangkan menjadi produk turunan lain seperti sabun cuci piring atau sabun mandi, yang berpotensi memberi nilai ekonomi.

Program yang menyasar RPTRA sebagai ruang publik ramah anak ini juga menunjukkan bahwa fasilitas sosial di tingkat kelurahan bisa berfungsi ganda: bukan hanya tempat bermain dan berkumpul, tapi juga ruang belajar dan pemberdayaan warga untuk mengelola persoalan lingkungan dari akar rumput—dimulai dari dapur rumah masing-masing

"Ini menjadikan masyarakat berpeluang mengembangkan usaha mikro berbasis ekonomi hijau. Kami berharap pemerintah dan berbagai stake holder dapat terus mendukung pengolahan limbah menjadi produk bermanfaat dengan melibatkan masyarakat. Melalui pengolahan limbah itu, persoalan sampah yang selalu berulang setiap tahunnya dapat diminimalisir. Masyalarakat pun berpotensi meningkatkan taraf hidupnya dengan mengembangkan usaha mikro dari pengolahan limbah tersebut," tandas Sisman.

Topik Menarik