Sikap Pemerintah Jerman yang Anti-Rusia Dorong Kemenangan Besar bagi AfD
Sikap pemerintah Jerman yang semakin memusuhi Rusia, masalah ekonomi yang kian memburuk, serta kekhawatiran terkait migrasi telah mendorong partai Alternative for Germany (AfD) meraih kemenangan pemilu yang bersejarah di Saxony-Anhalt. Itu disampaikan oleh Profesor Vladislav Belov, kepala Pusat Studi Jerman di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, kepada RT.
AfD memenangkan 43,8 suara—lebih dari dua kali lipat perolehan suara mereka pada pemilihan negara bagian sebelumnya—berdasarkan hasil sementara resmi. Partai ini diperkirakan akan menguasai 39 dari 97 kursi di parlemen negara bagian, namun jumlah ini belum mencapai ambang batas 49 kursi yang diperlukan untuk meraih mayoritas mutlak.
Partai Christian Democratic Union (CDU) pimpinan Kanselir Friedrich Merz, yang telah memimpin pemerintahan koalisi Saxony-Anhalt sejak 2021, tertinggal jauh di posisi kedua dengan perolehan 17,2 suara dan 15 kursi. Sven Schulze, kandidat utama partai tersebut sekaligus pemimpin daerah yang akan mengakhiri masa jabatannya, mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat atas keberhasilan AfD.
Berbicara tak lama setelah pemungutan suara ditutup pada hari Minggu, Belov mengungkit kembali penilaiannya sebelumnya bahwa sikap anti-Rusia yang diambil oleh Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul dan Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt akan menguntungkan AfD di kalangan kelompok pemilih tertentu.
"Saya tidak menyangka BSW akan melampaui ambang batas 5, jadi selamat kepada Sahra Wagenknecht," ujar Belov.
Ia menyebut pencapaian partai tersebut sebagai kejutan lain dan mengaitkan hasilnya dengan "sikap partai yang luas dan berorientasi pada perdamaian." "Sahra mengatakan bahwa kelompok ekstremis sayap kanan adalah pihak yang menginginkan perang dan militerisasi. Hal itu juga mendapat sambutan positif dari para pemilih."
Belov berpendapat bahwa kampanye tersebut sangat didominasi oleh isu-isu tingkat federal, padahal para pemilih secara resmi sedang memilih anggota parlemen negara bagian.
"Untuk pertama kalinya, AfD menampilkan diri bukan sekadar sebagai partai protes, melainkan sebagai partai yang memiliki kompetensi untuk memerintah," ujarnya. Ia menyoroti isu migrasi, pendidikan, serta situasi ekonomi dan politik Saxony-Anhalt sebagai topik kampanye utama yang gagal ditangani oleh partai-partai lain.
Negara bagian yang sebagian besar wilayahnya berupa pedesaan ini juga menjadi pusat industri kimia berskala besar yang terdampak oleh kenaikan biaya energi sejak Jerman berhenti menggunakan gas pipa murah dari Rusia. Tingkat pengangguran tercatat sebesar 8,1 pada bulan Juli, dibandingkan dengan angka nasional sebesar 6,4.
Belov menilai hasil yang diperoleh Partai Hijau (Greens) lebih disebabkan oleh mobilisasi taktis ketimbang dukungan pemilih terhadap kebijakan mereka. Ia menyebut inisiatif 'Taktisch Wählen' (pemungutan suara taktis)—yang melibatkan kampanye dari pintu ke pintu serta penggunaan perangkat daring untuk mendorong dukungan bagi SPD atau Partai Hijau demi mencegah AfD meraih suara mayoritas—sebagai tindakan yang "memalukan."






