Mahfuz Sidik Prediksi Bakal Terjadi Perang Dingin Baru Antara Amerika vs China

Mahfuz Sidik Prediksi Bakal Terjadi Perang Dingin Baru Antara Amerika vs China

Nasional | sindonews | Minggu, 6 September 2026 - 20:16
share

Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia Mahfuz Sidik menilai rivalitas perebutan hegemoni global antara Amerika Serikat (AS) dan China (Tiongkok) sekarang bukan sekadar persaingan ekonomi atau perdagangan biasa, melainkan perebutan supremasi geopolitik jangka panjang yang berdampak luas terhadap tatanan dunia. Bahkan, rivalitas ini diprediksi akan menimbulkan perang dingin baru antara AS Vs China yang diprediksi akan terjadi dalam rentang waktu 5 hingga 15 tahun.

Hal ini dinilai memiliki efek domino global yang mempengaruhi berbagai sektor vital. Dia menambahkan, Perang Dingin tersebut adalah periode persaingan geopolitik, ketegangan, dan konfrontasi tanpa pertempuran militer langsung antara kedua negara.

Hal tersebut disampaikan Mahfuz Sidik dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertajuk ‘Perang Supremasi AS vs Tiongkok: Skenario Konflik Geopolitik Global’, pada Jumat (4/9/2026) malam. “Kita memprediksi dalam untuk rentang waktu 5 hingga 15 tahun ke depan antara AS vs Tiongkok akan terjadi perang dingin baru,” kata Mahfuz Sidik dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).

Baca juga: Anwar Ibrahim Telepon Jokowi soal Karhutla dan Erupsi Anak Krakatau

Dia menuturkan, selain terjadinya perang dingin baru, yakni fragmentasi ekonomi dan pemisahan teknologi global, juga ada skenario lain yang mengarah pada persaingan AS-China secara geopolitik. Skenario tersebut adalah pembagian area pengaruh secara pragmatis (koesistensi terpaksa, konflik militer langsung secara terbuka dengan titik rawan di Selat Taiwan).

“Lainnya adalah kelemahan domestik, dimana salah satu pihak melemah akibat krisis politik atau ekonomi internal,” kata Mantan Ketua Komisi I DPR periode 2010-2017 ini.

Dia berharap Indonesia diimbau tidak mengambil posisi dikotomis atau menutup diri. Karena, kata dia, Indonesia perlu berperan sebagai bridge builder (pembangun jembatan) hubungan antara AS-China.

Hal ini dilakukan agar Indonesia mampu memanfaatkan peluang ekonomi, politik, dan pertahanan dari kedua pihak sambil tetap mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas-aktif. “Pendekatan realistis ini dinilai krusial agar Indonesia dapat memetik manfaat ekonomi, politik, dan pertahanan dari kedua blok tanpa mengorbankan kedaulatan serta kebebasan politik luar negeri bebas-aktif,” katanya.

Menurutnya, posisi kawasan Indo-Pasifik yang berada di tengah pusaran persaingan ini menuntut kewaspadaan tinggi dari negara-negara Asia Tenggara. “Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi ujian nyata terhadap konsistensi prinsip politik luar negeri bebas-aktif agar mampu menjaga stabilitas nasional serta tidak terkooptasi dalam blok kekuatan mana pun,” ungkapnya.Lebih lanjut dia mengatakan, kekuatan China sekarang dinilai mengancam dominasi kekuatan lama, karena menguasai teknologi canggih. Selain itu, China juga berani melawan ekonomi kapitalisme, serta menguasai jalur lintas laut vital seperti Laut China Selatan dan Selat Malaka.

Mahfuz memaparkan bahwa eskalasi ketegangan antara kedua kekuatan besar tersebut merupakan bagian dari long-term strategic competition atau persaingan strategis jangka panjang. Dia menguraikan ada empat faktor utama yang memicu tajamnya pergeseran kekuatan antara Washington dan Beijing dalam konflik supremasi global ini.

Yakni terjadinya pergeseran hegemoni dan thucydides trap, dominasi teknologi masa depan, benturan model ideologi, serta keamanan maritim dan chokepoint strategis seperti di Laut China Selatan. “Konflik supremasi ini sekarang sudah terbukti berdampak langsung pada rantai pasok energi global, ketahanan pangan, hingga fragmentasi ekonomi dunia,” katanya.

Dia melanjutkan, AS sedang menjalankan strategi operasional kepada Tiongkok yang mencakup pengetatan pembatasan ekspor teknologi, penguatan penangkalan militer di jalur laut vital, pembentukan aliansi pragmatis seperti QUAD dan AUKUS, hingga kebijakan proteksionisme ekonomi yang ketat.

Namun, kata dia, China sendiri tidak berupaya bertarung secara frontal lewat strategi perang terbuka melainkan berfokus pada kemandirian internal dan penataan ulang ekonomi global, utamanya meliputi pencapaian swasembada pangan dan energi, pengembangan pertahanan militer yang efisien, serta percepatan dedolarisasi dan perluasan infrastruktur global (belt and road initiative dan jalur silk road).

Topik Menarik