Gunung Anak Krakatau Terus Meletus, BMKG: Ada Kembang Api Lava, Lapili hingga Bom Vulkanik

Gunung Anak Krakatau Terus Meletus, BMKG: Ada Kembang Api Lava, Lapili hingga Bom Vulkanik

Nasional | sindonews | Minggu, 6 September 2026 - 13:00
share

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi atau letusan terus menerus sejak Rabu (4/9/2026) pukul 23.07 WIB. Aktivitas ini sebenarnya sudah terpantau sejak Bulan Juli 2026 lalu. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa aktivitas vulkanik ini bertipe Strombolian.

Erupsi tipe Strombolian ini terjadi akibat adanya magma cair dengan tekanan gas sedang, yang memicu letusan-letusan kecil namun berulang secara teratur.

Baca juga: 2 Klaster Abu Vulkanik Letusan Gunung Anak Krakatau Menyebar ke Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu

"Kemudian ini yang memunculkan kembang api lava, bom vulkanik, dan lapili ke udara," kata Fathani dalam konferensi persnya secara daring, Minggu (6/9/2026).

Dia menyampaikan bahwa aktivitas vulkanik dari Gunung Anak Krakatau ini sebenarnya sudah termati sejak beberapa Bulan yang lalu. Sampai akhirnya, gunung ini erupsi pada tanggal 4 September kemarin.

Baca juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Bandara Halim, Soetta, dan Radin Inten II Ditutup Sementara

"Sebenarnya sejak 2 Juli 2026 statusnya sudah ditetapkan PVMBG Gunung Anak Krakatau pada level 3 atau siaga ya. Sehingga sekarang baru di tanggal 4 September pukul 23.07 WIB ini gunung apinya mengalami erupsi yang menerus," ujarnya.

Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani mengungkapkan bahwa Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang bergerak cepat dengan menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET) yang merupakan peringatan dini untuk cuaca penerbangan) pertama sesaat setelah erupsi awal pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB. Hingga saat ini, BMKG telah menerbitkan sebanyak 50 SIGMET secara berkala guna menjamin keselamatan navigasi udara.

“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri, Minggu (6/9/2026).

Lebih lanjut, Andri menjelaskan bahwa abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.

Topik Menarik