Defisit Transaksi Berjalan Tembus 3,3, Ekonomi Indonesia Baik-baik Saja?

Defisit Transaksi Berjalan Tembus 3,3, Ekonomi Indonesia Baik-baik Saja?

Ekonomi | sindonews | Kamis, 3 September 2026 - 21:27
share

Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia mencapai 3,3 pada kuartal II 2026 di tengah tren penyusutan surplus neraca perdagangan barang dan ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut dinilai perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan tekanan terhadap keseimbangan eksternal ekonomi Indonesia apabila tidak diimbangi dengan surplus neraca finansial yang memadai.

"Sebagaimana yang kita ketahui bersama, saya akan highlight bagaimana yang perlu kita hadapi ke depan adalah pelebaran defisit dari current account itu sendiri dimana ketika neraca perdagangan barang kita surplusnya semakin mengecil tentunya tekanannya akan semakin besar kepada current account deficit kita," kata Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro dalam paparan Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga:Purbaya: Kalau Pemerintah Malas Saja, Ekonomi Bisa Tumbuh 6

Andry mengatakan terdapat dua komponen utama yang perlu diperhatikan dalam perkembangan transaksi berjalan, yakni defisit neraca jasa dan neraca pendapatan primer (primary income). Defisit pendapatan primer antara lain mencerminkan pembayaran dividen dan repatriasi pendapatan ke luar negeri yang dalam beberapa periode terakhir menunjukkan peningkatan.

"Jadi kalau neraca perdagangan barangnya kemudian surplusnya mengecil tentu saja belum semakin besar dan semakin tidak bisa menutup yang namanya neraca jasa dan primary income dan akan menghasilkan defisit neraca transaksi berjalan yang semakin besar," ujarnya.

Menurut Andry, pelebaran defisit transaksi berjalan perlu diimbangi dengan surplus signifikan pada neraca finansial melalui investasi langsung (direct investment) maupun investasi portofolio di pasar saham dan obligasi. Arus modal masuk tersebut menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keseimbangan eksternal dan stabilitas nilai tukar rupiah.Di tengah kondisi tersebut, Andry menilai kebijakan Bank Indonesia (BI) telah memberikan bantalan positif terhadap ketahanan rupiah dan arus modal masuk. "Langkah-langkah yang dilakukan oleh Bank Indonesia memang ini kemudian memberikan efek yang cukup positif kepada ketahanan nilai tukar kita ya kemudian bisa mendorong capital inflows juga buat Indonesia," jelasnya.

Baca Juga:Purbaya Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6 di 2027, Jaga Defisit 2,4

Dukungan tersebut antara lain berasal dari kesepakatan swap BI dengan bank sentral negara mitra serta perluasan kerja sama transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Kebijakan tersebut dinilai dapat memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah tekanan global.

Sementara itu, rupiah masih relatif stabil di kisaran Rp17.700 per dolar AS, antara lain didukung pelemahan indeks dolar AS. Namun, menurut Andry, stabilitas nilai tukar tetap perlu diiringi penguatan fundamental neraca eksternal agar potensi pelebaran defisit transaksi berjalan tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar terhadap perekonomian.

Topik Menarik