Biaya Perang Membengkak, Rusia Pangkas 35 Belanja Nonmiliter
Pemerintah Rusia memangkas sebagian besar belanja nonmiliter hingga 35 untuk menekan tekanan fiskal yang meningkat akibat membengkaknya biaya perang, sementara belanja pertahanan tetap dipertahankan. Pengetatan anggaran tersebut dilakukan ketika defisit federal Rusia terus melebar dan berpotensi jauh melampaui target awal pemerintah untuk 2026.
"Anggaran tidak memiliki masalah sama sekali dan sepenuhnya didukung oleh sumber daya," kata Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov dalam wawancara dengan televisi Rossiya-1, sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Minggu (29/8/2026).
Baca Juga:Muktamar ke-35 NU: Pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum Digelar Hari Ini
Namun, Bloomberg yang mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut melaporkan Siluanov pada April telah memperingatkan Perdana Menteri Mikhail Mishustin mengenai potensi kekurangan kas untuk memenuhi seluruh kewajiban pemerintah sesuai jadwal. Saldo rekening tunggal perbendaharaan federal bahkan dilaporkan mencapai sekitar minus 5,5 triliun rubel atau sekitar USD65,3 miliar.
Sebagai bagian dari penghematan, pemerintah memangkas sekitar 35 sebagian besar belanja nonmiliter dan meminta sejumlah lembaga federal menyiapkan pengurangan jumlah pegawai hingga 15. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengakui adanya tekanan akibat defisit anggaran, tetapi menyebut kondisi tersebut masih dapat dikelola.Data Kementerian Keuangan Rusia menunjukkan defisit anggaran federal pada Januari-April 2026 mencapai sekitar 5,8-5,9 triliun rubel atau 2,5 dari produk domestik bruto (PDB), hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Defisit kumulatif kemudian meningkat menjadi 6,5 triliun rubel atau 2,8 PDB pada akhir Juli dan mencapai 8,654 triliun rubel per 24 Agustus berdasarkan sistem Electronic Budget Rusia, meski angka terakhir belum memperhitungkan penerimaan pajak akhir bulan.Besaran tersebut telah melampaui target defisit pemerintah sepanjang 2026 yang semula dipatok sekitar 3,8 triliun rubel. Perkiraan internal pemerintah kini memperkirakan defisit akhir tahun dapat mencapai 3,2-3,8 PDB atau sekitar 9 triliun rubel.
Baca Juga:3 Kapal dan 1 Helikopter Inggris Buntuti Kapal Perang Rusia selama 72 Jam yang Menegangkan
Tekanan fiskal terutama dipicu tingginya belanja pertahanan dan keamanan. Financial Times melaporkan pembengkakan anggaran untuk kedua sektor tersebut pada 2026 berpotensi mencapai 2-4 triliun rubel, sementara pemerintah tetap melindungi belanja pertahanan, keamanan sosial, gaji sektor publik, dan pembayaran utang yang mencapai sekitar 4 triliun rubel atau 9 dari total anggaran federal.
Di sisi penerimaan, Rusia juga menghadapi tantangan dari sektor energi, meskipun penerimaan pajak minyak sempat mencapai level tertinggi dalam 15 bulan di tengah ketegangan di sekitar Selat Hormuz. Tekanan fiskal diperkirakan berlanjut selama Moskow mempertahankan belanja pertahanan pada tingkat tinggi, sementara ruang perubahan kebijakan fiskal menjelang pemilu parlemen September dinilai terbatas.










