7 Fakta Program PLTS 100 GW Prabowo: Investasi Rp1.140 Triliun hingga Danantara Siap Ambil Alih
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan program strategis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) di Bali. Program ini ditargetkan menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Program PLTS 100 GWp tersebut diluncurkan bersamaan dengan groundbreaking sejumlah proyek PLTS dengan total kapasitas awal mencapai sekitar 5,2 GWp.
Okezone merangkum sejumlah fakta penting terkait program tersebut, Minggu (30/8/2026):
1. Prabowo Resmi Luncurkan Program PLTS 100 GWp
Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan dan melakukan groundbreaking Program PLTS 100 GWp di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026).
Peluncuran ditandai dengan penekanan tombol sirene oleh Prabowo yang didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, serta sejumlah pejabat lainnya.
Program tersebut diawali dengan 14 proyek PLTS di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau dengan total kapasitas 5,3 GWp.
"Pada sore hari ini, hari Selasa, tanggal 25 Agustus 2026, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Besar, saya, Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini secara resmi saya luncurkan program pembangkit listrik tenaga surya 100 gigawatt peak, diawali 14 PLTS di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau, berkapasitas total 5,3 gigawatt peak," kata Prabowo.
Menurut Prabowo, program tersebut menjadi momentum penting untuk mewujudkan kemandirian energi Indonesia.
2. Investasi PLTS 100 GW Tembus Rp1.140 Triliun
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pembangunan PLTS 100 GWp membutuhkan investasi sekitar USD73 miliar atau setara lebih dari Rp1.140 triliun.
Meski membutuhkan investasi besar, program tersebut diperkirakan mampu menghemat pengeluaran negara untuk subsidi energi sekitar Rp73,9 triliun per tahun. Penghematan tersebut berasal dari pemanfaatan listrik PLTS yang dilengkapi baterai dibandingkan pembangkit berbasis gas, uap, atau diesel.
"Salah satu program Presiden adalah mempercepat implementasi 100 GW PLTS. Total investasi dari 100 GW ini sekitar USD73 miliar atau setara Rp1.140 triliun," ujar Bahlil.
Selain itu, program tersebut diproyeksikan menciptakan hingga 5,5 juta lapangan kerja. Jumlah tersebut berasal dari kebutuhan tenaga kerja konstruksi sekitar 3,465 juta orang dan tenaga kerja sektor manufaktur sekitar 2,053 juta orang.
3. Enam Proyek PLTS Siap Masuk Tender
Sebagai tahap awal pelaksanaan program, pemerintah menyiapkan enam proyek PLTS dengan total kapasitas mencapai 4.548,92 MWp atau sekitar 4,55 GWp untuk masuk tahap tender.
Enam proyek tersebut terdiri atas tiga PLTS terapung di Jawa Barat, PLTS yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan energi di Madura, PLTS di Bali, serta PLTS yang memanfaatkan lahan bank tanah di Purwakarta.
Rinciannya sebagai berikut:
PLTS Terapung Jatiluhur di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, berkapasitas 1.688 MWp.
PLTS Terapung Cirata di Waduk Cirata, Purwakarta, berkapasitas 1.250 MWp.
PLTS Terapung Jatigede di Waduk Jatigede, Sumedang, berkapasitas 636 MWp.
PLTS+BESS Klaster Madura di Sumenep, Jawa Timur, berkapasitas 605 MWp.
PLTS Bali untuk eliminasi BBM di Gilimanuk, Jembrana, Bali, berkapasitas 300 MWp.
PLTS Lahan Bank Tanah Purwakarta berkapasitas 69 MWp.
Untuk proyek Madura, pemerintah menyiapkannya sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar minyak.
4. Danantara Bisa Ambil Alih Jika Swasta Tak Berminat
Pemerintah tetap membuka kesempatan bagi badan usaha melalui skema Independent Power Producer (IPP) untuk mengembangkan proyek-proyek PLTS tersebut.
Namun, apabila investor swasta tidak berminat atau menawarkan harga listrik yang dinilai tidak kompetitif, pemerintah menyiapkan opsi untuk mengambil alih pengerjaan melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
"Kalau harganya kompetitif kita kasih IPP, kalau tidak kompetitif dan tidak ada yang mau maka kita akan ambil alih untuk dikerjakan oleh pemerintah lewat Danantara dengan pembiayaan yang sesuai dengan petunjuk Bapak Presiden yang efisien, efektif, dan terjangkau," kata Bahlil.
Skema tersebut disiapkan untuk memastikan program PLTS 100 GWp tetap dapat dieksekusi secara masif sesuai target pemerintah.
5. Proyek Awal Sudah Mulai Dibangun
Selain enam proyek yang disiapkan untuk tender, sejumlah proyek PLTS lainnya telah memasuki tahap konstruksi dan groundbreaking.
Proyek tersebut meliputi PLTS Banyuwangi berkapasitas 130,2 MWp, PLTS Pasuruan 132 MWp, PLTS Terapung Gajah Mungkur 134,2 MWp, PLTS Terapung Karangkates 133 MWp, PLTS Terapung Saguling 92 MWp, serta PLTS Tembesi 46 MWp.
Pemerintah juga memasukkan PLTS Desa Sembur dan PLTS Pulau Rengit dalam tahap awal pelaksanaan program.
Pada tahap awal, total kapasitas proyek yang diluncurkan dan menjalani groundbreaking mencapai sekitar 5.216 MWp atau 5,2 GWp.
6. Ada Tiga Model Pengembangan PLTS
Bahlil menjelaskan pengembangan PLTS 100 GWp akan menggunakan beberapa model sesuai dengan kondisi wilayah dan kebutuhan.
Pertama, PLTS ground mounted yang dibangun dalam skala besar di lahan terbuka. Kedua, PLTS atap dengan memanfaatkan atap bangunan dan fasilitas untuk pemasangan panel surya. Ketiga, PLTS terapung yang memanfaatkan waduk, danau, maupun badan air lainnya.
"Kalau ini semua kita mampu implementasikan semuanya, penurunan emisi sebesar 140 juta ton CO2 per tahun, dengan nilai ekonomi karbon sebesar Rp6,31 triliun," pungkas Bahlil.
7. Program Ditargetkan Rampung dalam Tiga Tahun
Program PLTS 100 GWp ditargetkan dilaksanakan secara bertahap dalam tiga tahun. Pemerintah mendorong percepatan implementasi agar kapasitas pembangkit energi surya dapat segera bertambah.
Untuk tahap awal, pemerintah memulai dengan sejumlah proyek yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas energi terbarukan, tetapi juga mengurangi beban subsidi energi, menciptakan lapangan kerja, dan menekan emisi.
"Indonesia adalah negara yang diberikan Tuhan sumber daya yang luar biasa. Sumber daya yang bukan hanya kita gali di bawah kaki kita, tapi juga di atas kepala kita. Salah satu anugerah Tuhan yang terindah, yang harus kita syukuri adalah mentari yang bersinar sepanjang tahun di atas bumi Pertiwi," kata Bahlil.









