Muktamar ke-35 NU, Arwani Thomafi: Lima Mutiara Jadi Pedoman Berkhidmah untuk Kemaslahatan Umat
Khidmah di Nahdlatul Ulama (NU) perlu terus bertumpu pada nilai-nilai yang menjaga ketulusan pengabdian, keseimbangan dalam bersikap, serta memperluas manfaat bagi umat dan bangsa. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting agar perjalanan ber-NU senantiasa berorientasi pada kemaslahatan dan persatuan.
Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Alhamidiyah, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Arwani Thomafi, dalam diskusi bertema “Ber-NU untuk Kemaslahatan Umat” yang digelar di Arena Muktamar NU ke-35 di Jombang, Jawa Timur. Hadir juga Komisaris Utama PT ASDP Achmad Baidowi, Direktur Hubungan Kelembagaan – PTPN IV Arya Sandiyudha dan akademisi UNU Surabaya Mustafa.
Menurutnya, berkhidmah di NU merupakan bagian dari ikhtiar pengabdian yang memiliki dimensi keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Baca juga: Muktamar ke-35 NU: Pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum Digelar Hari Ini
Arwani yang juga Mustasyar PWNU DKI Jakarta, mengatakan terdapat lima mutiara atau Madarij al-Khidmah dalam ber-NU yang penting untuk terus dijaga dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.Kelima nilai tersebut meliputi keikhlasan dalam pengabdian, menjadikan Ahlussunnah wal Jamaah sebagai pedoman dalam beramal, menempatkan ulama sebagai pembimbing umat, menjaga ukhuwah, serta memperkuat semangat nasionalisme atau hubbul wathon.
Nilai pertama adalah ikhlas dalam pengabdian. Arwani menilai keikhlasan merupakan kata kunci dalam setiap bentuk khidmah, baik di lingkungan pesantren, keluarga, masyarakat, pemerintahan maupun ruang pengabdian lainnya. Keikhlasan menjadi energi yang menjaga pengabdian tetap berorientasi pada kebaikan dan kemanfaatan.
Lihat video: Presiden Prabowo Resmi Buka Muktamar ke-35 NU di Jombang
“Ikhlas merupakan niat hati yang murni dan tulus untuk melakukan suatu pekerjaan atau ibadah hanya semata karena mencari ridha Allah SWT,” ujar Arwani, yang pernah menjadi anggota DPR selama tiga periode, dikutip Sabtu (29/8/2026).Nilai kedua adalah menjadikan Ahlussunnah wal Jamaah sebagai pedoman dalam beramal. Setelah keikhlasan menjadi fondasi, prinsip Ahlussunnah wal Jamaah perlu menjadi pijakan dalam menjalankan berbagai aktivitas khidmah agar pengabdian berjalan secara arif dan proporsional.Menurut Arwani, prinsip tersebut tercermin melalui sikap tawassuth atau moderat, tawazzun atau seimbang, i'tidal atau berkeadilan, serta tasamuh atau toleransi. Nilai-nilai tersebut penting untuk membangun kehidupan bersama yang harmonis sekaligus menjaga semangat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.
Nilai ketiga adalah menjadikan ulama sebagai pembimbing masyarakat. Arwani menilai ulama memiliki peran strategis dalam memberikan arah perjalanan dan perjuangan umat, sekaligus menjadi rujukan moral dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
“Al ulama yursyiduna al-masirah, para ulama membimbing arah perjalanan perjuangan umat,” ujar Arwani, yang juga Ketua Ma’arif NU Cabang Lasem, Rembang.
Nilai keempat adalah menjaga ukhuwah. Menurut Arwani, ukhuwah merupakan kekuatan penting dalam membangun kedamaian, memperkokoh persatuan, menumbuhkan kasih sayang, serta membuka ruang kerja sama dalam kebaikan. Semangat ukhuwah juga menjadi modal sosial untuk merawat kebersamaan di tengah perbedaan.
Nilai kelima adalah memperkuat semangat nasionalisme atau hubbul wathon. Arwani menegaskan, kecintaan kepada tanah air dapat menjadi energi untuk memperluas ruang pengabdian sehingga khidmah tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan internal organisasi, tetapi juga masyarakat dan bangsa secara lebih luas.
“Hubbul Wathon Tuwassi'u al-Khidmah,” tegasnya.
Arwani menilai lima mutiara tersebut dapat menjadi pedoman untuk terus menghidupkan semangat ber-NU sebagai bentuk pengabdian yang tulus, moderat, berorientasi pada persatuan, serta menghadirkan kemanfaatan bagi umat, masyarakat, dan Indonesia.










