Berkat Sholat Istikharah Bocah Bantul Ini Jadi Jenderal Kopassus Bintang 4, Sangat Dihormati Prabowo
JAKARTA – Berkah sholat istikharah membawa remaja asal Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta melesat jadi jenderal bintang empat TNI Angkatan Darat. Anggota pasukan elite Kopassus ini bahkan sangat dihormati Presiden Prabowo Subianto.
Siapa dia? Sosok tersebut tak lain Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadisiswoyo. Dalam sejarah militer Indonesia, Bagyo merupakan komandan jenderal Kopassus (1994-1995) yang kemudian melesat jadi KSAD ke-20 atau periode periode 16 Februari 1998–20 November 1999.
Rasa hormat Prabowo bukan hanya karena kepemimpinan Bagyo, tetapi juga berbagai teladan serta sifat-sifat tentara berkumis lebat tersebut. Salah satu yang diingatnya bagaimana Subagyo HS selalu terbuka dan tidak mencla-mencle.
“Saat Pak Bagyo komandan Kopassus, saya ditarik menjadi wakil beliau sebagai wakil komandan Kopassus. Itu merupakan promosi yang membanggakan saya,” kata Prabowo dalam buku “Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto”, dikutip Minggu (23/8/2026).
“Beberapa hal yang saya belajar dari beliau antara lain sifatnya yang ramah, jiwanya yang loyal dan setia selalu membela anak buah,” ucap Prabowo.
Sejak SMA Ingin Jadi Tentara
Lahir sebagai anak ketiga dari pasangan Yakub Hadisiswoyo dan Sukiyah, sejak remaja Bagyo sangat termotivasi menjadi tentara. Setidaknya terdapat dua alasan mengapa dia begitu termotivasi.
Pertama, ketika SMA Bagyo sering melihat Taruna Angkatan Udara (kala itu disebut karbol) wira-wiri. Maklum, Yogyakarta adalah kota tempat AAU berada. Pikir Bagyo, menjadi tentara sangat gagah.
Alasan lainnya, Bagyo menyadari kehidupan ekonomi keluarga yang sederhana sehingga pilihan masuk sekolah tentara dinilai akan meringankan karena tak perlu membayar. Lebih dari itu, di akademi militer siswa malah dapat uang saku.
“Selain itu setelah lulus bisa langsung mendapat pekerjaan,” kata Bagyo sebagaimana tertulis dalam buku ‘Jenderal TNI Subagyo HS: KASAD di Bawah Tiga Presiden’ yang disusun tim Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat.
Terdapat cerita menarik seputar keinginan Subagyo menjadi tentara. Semula remaja lulusan SMA BOPKRI 1 Yogyakarta itu berniat masuk Akademi Angkatan Laut (AAL) dan Akademi Angkatan Udara (AAU). Tapi, sang ayah malah menyarankan agar Bagyo juga mendaftar di Akademi Angkatan Darat (AAD) yang dulu dikenal dengan Akmil atau Akabri.
“Mbok nyobo-nyobo (coba-coba) daftar Akabri…ra’lamarane isih ono toh (lamarannya masih ada kan?),” ucap Yakub.
Berkah Sholat Istikharah
Dalam perjalanannya, pria yang kerap dijuluki Bima ini ternyata mulus mengikuti semua tahapan seleksi. Namun persoalan datang. Tes akhir AAD di Bandung berbarengan dengan seleksi final AAU di Yogyakarta.
Dilema pun melanda. Bagyo dihadapkan dua pilihan: menjadi tentara Angkatan Darat atau Udara. Di tengah kebimbangan itu, Bagyo kemudian menemui salah seseorang yang dipandang berkemampuan lebih dalam agama.
“Jawaban yang diberikan bukan langsung memilih AAU atau AAD, melainkan sholat istikharah guna meminta petunjuk Allah SWT,” ujar Bagyo.
Setelah melaksanakan nasihat itu, serdadu kelahiran 12 Juni 1946 ini pun mendapat jawaban. Namun untuk meyakinkan, dia kembali menemui sosok yang dipercayainya tersebut dan mengonsultasikan hasil sholat istikharah yang didapat.
Hasilnya? Bagyo disarankan sebaiknya memilih AAD. Tanpa pikir panjang, dia menentukan pilihan masuk pendidikan Angkatan Darat. Naib baik, dia sebagai Taruna diterima berdasarkan Surat Keputusan Menteri Utama Bidang Pertahanan No. Kep-08/I/1967.
Melesat Jadi KSAD
Jalan hidup membawa Bagyo sebagai prajurit pasukan elite Kopassus. Berbagai operasi tempur dan penugasan pernah dijalaninya. Tentara berzodiak Gemini ini antara lain pernah ditugaskan dalam Operasi Woyla.
“Tiga perwira menengah dari Mako Kopassandha yaitu Letkol Sintong Panjaitan sebagai komandan tim antiteror, Mayor Sunarto dan Mayor Isnoor. Tiga orang dari Grup 1/Parako yaitu Mayor Subagyo HS dan dua lainnya,” kata Hendro Subroto dalam ‘Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’.
Operasi itu sukses besar. Nama Kopassus pun harum di dunia. Imbasnya, Subgyo turut menjadi bagian dari tim yang menerima kenaikan pangkat istimewa dari keberhasilan tersebut.
Putaran waktu membawa Subagyo sebagai pengawal pribadi Presiden Soeharto. Setelah itu dia dipromosikan sebagai orang nomor 1 Kopassus.
Karier Bagyo terus bersinar terang. Dia menjadi jenderal paling dihormati dengan statusnya sebagai pemegang tongkat komando tertinggi Angkatan Darat alias KSAD pada kurun 16 Februari 1998-20 November 1999. Sampai purnatugas, sosok pria berkumis lebat ini tetap menjadi teladan.









