Pasar Preng Sewu Magnet Wisata dan Penggerak Ekonomi Masyarakat
Hutan bambu tak hanya menjadi bentang alam di Desa Belik, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Di tengah rimbunnya Hutan Petung, sebuah pasar unik bernama Pasar Preng Sewu mulai diarahkan menjadi magnet wisata sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Pengembangan kawasan tersebut menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Desa Wisata Berkelanjutan Berbasis Potensi dan Kearifan Lokal yang digagas Universitas Surabaya (Ubaya). Program ini menjadi wujud nyata semangat kampus berdampak dengan membawa pengetahuan, inovasi, dan pendampingan perguruan tinggi langsung ke tengah masyarakat.
Pasar Preng Sewu dan kawasan Petung Park diproyeksikan bukan sekadar tempat berjualan. Keduanya dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem wisata yang menggabungkan keindahan alam, budaya, kuliner, kerajinan, ekonomi kreatif, serta aktivitas masyarakat lokal.
Ketua Tim Program Pemberdayaan Desa (PDB) Ubaya di Desa Belik sekaligus Rektor Ubaya, Benny Lianto, berharap Pasar Preng Sewu mampu memberikan dampak nyata terhadap perkembangan Desa Wisata Belik. “Selain meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, keberadaan pasar unik di dalam Hutan Petung atau hutan bambu ini dapat meningkatkan pendapatan ibu-ibu dan UMKM desa sekaligus mendorong kelestarian lingkungan,” katanya, Kamis (27/8/2026).
Konsep tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dari pertumbuhan destinasi. Wisatawan datang menikmati alam dan atraksi budaya, kemudian berinteraksi dengan produk lokal yang dihasilkan masyarakat.“Yang ingin kita bangun adalah ekosistem. Wisatawan datang menikmati alam dan atraksi budaya, kemudian membeli produk lokal. Masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi, sementara lingkungan tetap dijaga,” lanjutnya.Untuk memperkuat kemampuan pengelola desa wisata, Ubaya mengajak pengelola Desa Wisata Belik melakukan pembelajaran lapangan ke sejumlah destinasi unggulan di Bali dan Yogyakarta. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempelajari tata kelola destinasi, inovasi produk wisata, pelayanan pengunjung, pengembangan atraksi, strategi pemasaran, serta penguatan kelembagaan.
Penguatan pemasaran menjadi salah satu perhatian penting dalam program tersebut. Pengelola desa wisata didorong memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan potensi Belik kepada calon wisatawan secara lebih luas.
Konten kreatif, strategi promosi, dan jejaring dengan berbagai pihak dikembangkan untuk meningkatkan daya jangkau pemasaran. Harapannya, Pasar Preng Sewu dan Petung Park semakin dikenal sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berbeda.
Program ini juga dirancang melalui pendekatan lintas disiplin. Tim Ubaya menggabungkan kompetensi teknologi informasi, teknik industri, manajemen, kelembagaan pengabdian, dan pariwisata.
Direktur BUMDes Mulya Jaya Desa Belik, Naif Santoso, mengapresiasi pendampingan yang diberikan kepada masyarakat. “Atas nama BUMDes dan perwakilan Desa Belik, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ubaya, DPPM Kemdiktisaintek, UPN, dan Pemkab Mojokerto atas kesempatan luar biasa mendampingi desa kami sehingga wisatanya berkembang sangat pesat,” ujarnya.









