Perang Siber Memanas, Hacker China Dituduh Bobol Bank Sentral hingga Infrastruktur Vital AS

Perang Siber Memanas, Hacker China Dituduh Bobol Bank Sentral hingga Infrastruktur Vital AS

Global | sindonews | Kamis, 27 Agustus 2026 - 09:30
share

Pemerintah Amerika Serikat menuduh para peretas China yang disebutnya sebagai "kelompok yang didukung negara” telah membobol jaringan NASA, Federal Reserve (Bank Sentral), dan infrastruktur vital Amerika.

Tuduhan ini muncul hanya beberapa pekan sebelum Presiden China Xi Jinping diperkirakan datang ke Washington untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Donald Trump.

Baca Juga: Iran Puji China karena Berani Melawan Ancaman Sanksi AS

Beijing dengan cepat menepis tuduhan tersebut. Kedutaan Besar China di Washington mengatakan: "China menentang dan memerangi segala bentuk serangan siber.”

Kedutaan itu juga mendesak AS berhenti menggunakan isu keamanan siber untuk mencemarkan nama baik atau mendiskreditkan China.

Departemen Kehakiman dan FBI, sebagaimana dikutip Russia Today, Kamis (27/8/2026), mengumumkan pada Rabu bahwa mereka telah menyita tiga domain internet yang terkait dengan dua platform peretasan yang diduga dioperasikan kelompok peretas asal China yang dikenal sebagai "QTFY". Otoritas AS menyatakan operasi tersebut menargetkan NASA, Federal Reserve, Senat, dan sejumlah departemen pemerintah, serta rumah sakit, penyedia telekomunikasi, perusahaan listrik, lembaga keuangan, dan kontraktor pertahanan.

Washington menyebut serangan siber tersebut sebagai aktivitas yang disponsori negara China dan menuduh perusahaan di baliknya menyediakan layanan peretasan untuk Kementerian Keamanan Negara China dan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Namun, para pejabat Amerika tidak mengungkapkan informasi sensitif apa yang diduga dicuri atau kerusakan apa, jika ada, yang ditimbulkan.

Tuduhan terbaru ini muncul lebih dari sebulan setelah Trump juga menuduh Beijing mencampuri pemilu AS. Trump mengeklaim China secara ilegal memperoleh sekitar 220 juta data pemilih Amerika selama siklus pemilu 2020, yang disebutnya sebagai “kompromi terbesar” terhadap data pemilu dalam sejarah AS.

China menepis tuduhan tersebut sebagai sesuatu yang tidak berdasar dan sepenuhnya dibuat-buat. Klaim Trump mengenai peretasan pemilu bahkan disambut skeptis oleh sebagian pendukungnya sendiri, karena dokumen yang dirilis Gedung Putih hanya menunjukkan ketertarikan China untuk mengumpulkan informasi pemilih Amerika yang tersedia secara publik atau dapat diperoleh secara komersial.

Trump sendiri secara terbuka mengakui setelah bertemu Xi di Beijing pada Mei bahwa Washington melakukan kegiatan spionase secara luas terhadap China.“Kami juga memata-matai mereka habis-habisan,” kata Trump kepada wartawan saat itu. “Kami melakukan banyak hal kepada kalian yang tidak kalian ketahui,” lanjut Trump, yang menggambarkan aktivitas spionase kedua negara sebagai “pedang bermata dua".

Beijing juga melontarkan tuduhan serupa terhadap Washington. Pada Oktober lalu, China menuduh Badan Keamanan Nasional AS (NSA) melakukan serangan siber selama bertahun-tahun terhadap National Time Service Center China, yang mendukung sektor-sektor penting seperti keuangan, energi, transportasi, dan pertahanan. NSA tidak membenarkan maupun menyangkal tuduhan tersebut.

Tuduhan siber terbaru ini muncul menjelang kunjungan Xi Jinping ke AS yang diperkirakan berlangsung pada 24 September. Trump mengatakan dirinya berencana menjadi tuan rumah bagi pemimpin China tersebut setelah pertemuan mereka di Beijing pada Mei.

Kedua negara berupaya mengelola berbagai perselisihan terkait perdagangan, teknologi, dan keamanan siber, serta ancaman sanksi Washington terhadap negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Iran.

Topik Menarik