5 Negara Mitra Dagang Iran yang Ditarget Operasi Ekonomi D-Day, Ada 2 Sekutu Utama AS

5 Negara Mitra Dagang Iran yang Ditarget Operasi Ekonomi D-Day, Ada 2 Sekutu Utama AS

Global | sindonews | Kamis, 27 Agustus 2026 - 03:30
share

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent telah mengumumkan gelombang sanksi baru terhadap Iran yang diberi nama "Operasi Pengucilan Ekonomi" (Operation Economic Outcast) atau lazim disebut dengan Operasi Economic D-Day. Langkah ini menetapkan sanksi terhadap hampir 60 entitas, individu, dan kapal, serta memperluas cakupan sanksi sekunder yang mencakup sektor pelayaran, emas, penerbangan, teknologi, dan aset digital.

Ia menyatakan bahwa tujuannya adalah memutus setiap jalur kehidupan ekonomi yang menopang pemerintah di Teheran hingga negara itu terisolasi sepenuhnya. Ia juga menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump sedang menghubungi para pemimpin dunia dengan permintaan khusus agar mereka menghentikan hubungan dagang dengan Iran, meskipun ia tidak menyebutkan negara mana pun secara spesifik ataupun menetapkan tenggat waktu.

Melansir Al Jazeera, data mitra dagang utama Iran berdasarkan data resmi bea cukai yang dihimpun oleh Trade Data Monitor. Data ini tidak mencakup arus perdagangan tidak tercatat yang menopang sebagian besar ekspor minyak Iran.

5 Negara Mitra Dagang Iran yang Ditarget Operasi Ekonomi D-Day, Ada 2 Sekutu Utama AS

Mitra Ekspor Utama Iran

Iran telah menghabiskan sebagian besar dua dekade terakhir di bawah sanksi Barat; tekanan ini telah menggeser perekonomiannya menjauhi Eropa dan beralih ke kelompok mitra yang semakin terbatas di Asia dan kawasan sekitarnya.

Pada tahun 2024, Iran mengekspor barang senilai sekitar USD56 miliar ke setidaknya 112 negara dan wilayah, menurut data resmi bea cukai. Mitra ekspor utamanya adalah:

1. China (USD14,58 miliar)

Pembeli terbesar minyak Iran, yang menyerap lebih dari 80 persen ekspor minyak mentah Iran melalui jalur laut, menurut analis pelacak kapal tanker. Sebagian besar minyak ini dijual dengan harga diskon dan diangkut oleh kapal-kapal "armada bayangan" (shadow fleet), sehingga hampir tidak tercatat dalam data bea cukai kedua negara.

2. Irak (USD11,7 miliar)

Iran merupakan pemasok utama gas bagi Irak untuk pembangkit listrik dan menjual listrik secara langsung ke provinsi-provinsi di wilayah selatan Irak. Iran juga menjadi sumber utama produk pangan, bahan bangunan, dan barang manufaktur.

3. Uni Emirat Arab (USD7,16 miliar)

Telah lama menjadi jalur vital keuangan dan ekspor ulang bagi Iran, mencakup 13 persen dari total ekspornya. Abu Dhabi memberlakukan embargo perdagangan tanpa batas waktu pekan lalu setelah menuduh Iran menembakkan rudal ke wilayahnya. Teheran membantah tuduhan tersebut.

4. Turki (USD6,1 miliar)

Iran telah lama memasok gas ke Turki melalui Pipa Tabriz-Ankara, serta produk petrokimia, pangan, dan bahan konstruksi.

5. Afghanistan (USD2,3 miliar)

Iran memasok bahan bakar, pangan, dan bahan konstruksi ke negara tetangganya yang tidak memiliki akses laut ini; Afghanistan sangat bergantung pada pelabuhan dan jalur darat Iran untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Mitra Impor Utama Iran

Pada tahun 2024, Iran mengimpor barang senilai sekitar USD68,5 miliar dari setidaknya 87 negara dan wilayah, menurut data resmi bea cukai. Mitra impor utamanya adalah:

1. Uni Emirat Arab (USD21 miliar)

Memasok sedikit di atas 30 persen impor Iran; sebagian besar merupakan barang ekspor ulang (re-ekspor) dan bukan produk asli UEA, yang memberikan akses tidak langsung bagi Teheran terhadap mesin, elektronik, dan barang konsumen dari Barat. Embargo perdagangan tanpa batas waktu yang diberlakukan Abu Dhabi telah memutus jalur tersebut.

2. China (USD17,8 miliar)

Pemasok utama mesin, elektronik, kendaraan, dan komponen industri, serta mitra yang paling diandalkan Iran seiring tertutupnya akses perdagangan dengan Barat.

3. Turki (USD11,1 miliar)

Perbatasan darat bersama dan hubungan dagang yang telah lama terjalin menjadikan Turki sebagai jalur pasokan darat utama untuk pengiriman mesin, bahan kimia, kendaraan, dan barang manufaktur. Volume perdagangan dua arah telah menurun sejak perang dimulai.

4. Uni Eropa (USD6,1 miliar)

Penjualan ke Eropa kini hanya sebagian kecil dari tingkat sebelum tahun 2018, dengan fokus pada produk farmasi, peralatan medis, dan mesin.

5. India (USD1,6 miliar)

Perdagangan telah menurun tajam dalam beberapa tahun terakhir. New Delhi mempertahankan hubungan komersial yang terbatas dan didominasi oleh produk pertanian, termasuk beras, teh, dan farmasi.

Topik Menarik