6 Fakta China Pimpin Revolusi Mesin Masa Depan, Mampu Kalahkan AS
"Saya tidur siang sebentar, dan dunia pun berubah," ujar Chen Tianyu, dilansir BBC.
Dunia pria itu memang benar-benar berubah. Pria berusia 28 tahun ini terus mengikuti perkembangan teknologi terkini dengan menghabiskan waktu luangnya di pabrik-pabrik yang sedang beralih ke otomatisasi. Dengan begitu, ia tahu apa yang harus diprioritaskan saat mengajar kelas tentang kecerdasan buatan (AI) danrobotika.
Di hadapannya, sekitar 30 mahasiswa sedang mempelajari kode pemrograman. Salah seorang dari mereka mengetik dengan cepat sementara matanya bergerak lincah dari layar ke arah robot: "Idenya adalah robot itu akan mengambil benda berbentuk silinder tersebut dan memindahkannya ke sana."
Deretan robot industri sedang menunggu untuk diprogram, dan di bagian lain ruang kelas, para mahasiswa sedang mencoba mengembangkan instrumen medis berbasis robotika. Saat membimbing mereka, Chen menegaskan: "Jika Anda tidak dibutuhkan oleh dunia AI dan robotika, maka Anda pasti akan termasuk dalam kelompok yang tersingkir."
6 Fakta China Pimpin Revolusi Mesin Masa Depan, Mampu Kalahkan AS
1. Bersaing Langsung dengan AS
Bagi orang-orang di ruangan ini, ini adalah sebuah langkah—atau lebih tepatnya lompatan—menuju masa depan yang sedang dibangun China dengan cermat: rencana Xi Jinping senilai USD20 miliar (£14,7 miliar) untuk menempatkan negaranya di garis depan inovasi dan dalam persaingan langsung dengan AS.Buktinya ada di sekeliling mereka. Mereka berada di Hangzhou Technician Institute, salah satu dari beberapa sekolah kejuruan besar yang dibangun khusus untuk mencetak generasi insinyur yang melek teknologi. Kampus ini terletak di pinggiran Hangzhou, bekas ibu kota kekaisaran yang kini memiliki cakrawala kota futuristik—sebuah pertanda awal perannya sebagai pusat teknologi global.
2. Ada 2 Juta Robot di China
Di seluruh negeri, terdapat lebih dari dua juta robot yang bekerja di pabrik-pabrik China—jumlah terbanyak dibandingkan negara mana pun—dan jumlahnya terus bertambah dengan kecepatan luar biasa.Ketika Demo Partai Kecoa Berhasil Memaksa Menteri Pendidikan India Mundur atas Bocornya Soal Ujian
Ini adalah sebuah komitmen yang pastinya akan mengubah dunia, sama seperti saat ekonomi China mengalami transformasi besar-besaran di masa lalu. Negara ini sudah mengirimkan robot-robotnya ke seluruh dunia: lebih dari separuh robot industri dunia kini diproduksi di China .Hal yang belum begitu jelas adalah dampak dari otomatisasi besar-besaran semacam itu di negara yang menjadi pusat manufaktur, perdagangan, dan inovasi global. Apa dampaknya bagi tenaga kerja manusia di China, misalnya? Dan bagaimana kita bisa benar-benar mengukur biaya dari transformasi ini di bawah rezim yang mengontrol informasi dengan begitu ketat?
Masa depan pekerja China menjadi tidak pasti di tengah revolusi industri yang sedang disaksikan dunia: jaringan tenaga surya yang canggih, suasana jam sibuk yang senyap berkat kendaraan listrik, serta mesin-mesin yang bergerak lebih cepat daripada Usain Bolt. Akhir pekan lalu, Tiongkok menggelar ajang World Humanoid Games edisi kedua, di mana robot-robot bertanding tinju, berlari cepat, dan berbaris.
Iran Klaim Hancurkan 11 Pesawat Militer dan Bunuh 200 Tentara AS, Sebut Data Pentagon Bohong
Di balik tontonan ini, terdapat revolusi lain yang kurang terlihat namun sedang berlangsung di dalam pabrik dan ruang kelas.
3. Membangun Kekuatan Baru
BBC telah mengunjungi berbagai lokasi industri dan melihat robot-robot yang tidak menyerupai manusia, tidak menari, ataupun melompat di atas panggung, melainkan melakukan pekerjaan seperti mengelas, mengecat, mengangkat, merakit, dan bekerja sepanjang waktu tanpa jeda istirahat maupun tunjangan. Beberapa di antaranya bahkan dirancang untuk membuat robot lainnya. Kami juga telah mengunjungi akademi tempat Tiongkok melatih orang-orang yang nantinya akan bekerja berdampingan dengan tenaga kerja robotik tersebut.Ini adalah kesempatan untuk menyaksikan langsung apa yang disebut Xi sebagai "kekuatan produktif baru" China—serta bagaimana hal tersebut dapat mengubah wajah negara itu.
Di lantai pabrik di kota Chengdu, wilayah selatan Tiongkok, teknologi lama dan baru bekerja secara berdampingan.
Di sebuah lini perakitan, sekitar 30 pria dan wanita paruh baya sedang memasang sekrup, mengebor, dan memoles produk unggulan CRP Technology: sebuah lengan robot yang mampu melakukan berbagai tugas industri. Di ruangan yang sama, empat insinyur muda tampak berkerumun di depan konsol, berusaha memecahkan kode untuk sebuah prototipe—robot baru yang mereka harapkan dapat membantu pembuatan robot-robot lainnya.Salah satu dari mereka, Pang Kai (31 tahun), anggota tim penelitian dan pengembangan, mendorong kerangka robot yang tampak ramping itu melintasi ruangan. Sebab, tenaga kerja masa depan Tiongkok ini belum sepenuhnya siap untuk tampil memukau. Untuk saat ini, robot tersebut hanya mampu melakukan gerakan berulang yang sederhana, seperti memindai kode QR. "Mungkin dalam enam bulan lagi, robot ini bisa melakukan tugas lain," ujar Pang sambil tersenyum penuh harap. Perjalanannya masih panjang, dan tim tersebut merayakan setiap keberhasilan kecil yang mereka capai.
CRP Technology, perusahaan yang mempekerjakan sekitar 300 orang, telah memproduksi lengan robot selama sembilan tahun. Setiap lengan robot dapat disesuaikan dengan kebutuhan pabrik untuk membantu perakitan mobil, perangkat elektronik, atau turbin angin. Perusahaan menyatakan bahwa satu lengan robot dapat diprogram untuk mengerjakan lebih dari 90 tugas yang bersifat repetitif.
4. Mengatasi Populasi yang Menua
Para insinyur juga bertanya-tanya apakah suatu hari nanti robot tersebut dapat menggantikan tenaga kerja manusia di perusahaan mereka. "Kami ingin robot baru kami menyerupai manusia. Kami berharap robot ini mampu berpikir secara mandiri." "Kami membutuhkan robot-robot semacam ini karena mungkin dalam 10 tahun ke depan, kami tidak akan memiliki cukup tenaga kerja di China," ujar Pang.Menurunnya jumlah penduduk dan menuanya angkatan kerja menjadi alasan lain mengapa Beijing bergegas merevolusi pabrik-pabriknya. Menurut perkiraan resmi, pada tahun 2035, lebih dari sepertiga populasi Tiongkok akan berusia di atas 60 tahun. Negara ini juga diperkirakan akan kehilangan hampir 60 juta penduduk dalam satu dekade mendatang—jumlah yang hampir setara dengan total populasi Prancis.
Harapannya, peningkatan otomatisasi dapat mengisi celah tenaga kerja yang mengancam ini sebelum dampaknya terasa pada perekonomian yang saat ini sedang melambat. Namun, kecepatan transisi menjadi faktor kunci. Sekitar 120 juta orang masih bekerja di sektor manufaktur. Jika Tiongkok bergerak terlalu cepat, hilangnya lapangan pekerjaan bisa terjadi dan memberikan pukulan telak bagi jutaan orang yang bergantung pada upah pabrik.
"Secara teori, mesin bisa bekerja 24 jam sehari, yang tentu saja merupakan keunggulan dibandingkan pekerja manusia. Namun, mesin juga memerlukan perawatan. Setiap hari kami butuh waktu untuk itu, dan setiap bulan lini produksi juga perlu diperiksa serta diperbaiki," kata Cao Li, wakil presiden produsen kendaraan listrik (EV) Leapmotor.
Mobil-mobil perusahaan ini—yang berharga terjangkau dan mengedepankan teknologi—semakin populer di Eropa dan Inggris; perakitannya dilakukan di pabrik Hangzhou dengan bantuan robot di setiap tahapannya. Di ujung lini perakitan, barulah terlihat lebih banyak pekerja manusia.Perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 25.000 orang, dan ratusan di antaranya melakukan pemeriksaan akhir saat kendaraan-kendaraan baru yang berkilau itu melintas. Akankah tiba saatnya ketika mereka tidak lagi dibutuhkan?
"Hal itu sangat mungkin terjadi," ujar Cao. "Dan mungkin saja terjadi dalam waktu yang relatif singkat." "Di berbagai bengkel kerja—termasuk untuk proses stamping (pembentukan logam), pengelasan, dan pengecatan—kami pada dasarnya telah mencapai otomatisasi 100."
5. Mampu Kalahkan AS
China memiliki keunggulan dibandingkan Amerika Serikat berkat basis manufakturnya yang sangat besar. Motor penggerak, baterai, komponen elektronik, roda gigi, hingga sensor—segala hal yang dibutuhkan untuk merakit bodi robot—tersedia dengan mudah."China juga memiliki gagasan serta rencana yang jelas. Mereka tahu posisi apa yang ingin mereka capai dalam lima tahun ke depan. Mereka menyusun rencana di tingkat pusat, namun kemudian menjabarkannya hingga ke tingkat daerah dan pemerintah kota," ujar Dr. Susanne Bieller, Sekretaris Jenderal International Federation of Robotics.
"Jika Anda ingin membuat robot di Shenzhen, tersedia ekosistem yang lengkap. Anda hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk mendapatkan komponen-komponen yang diperlukan guna merakit sebuah robot." Di Eropa, prosesnya bisa memakan waktu hingga seminggu."
Namun, ia mengakui bahwa meskipun China unggul dalam membangun "tubuh" (perangkat keras), AS masih memimpin dalam membangun "otak" (kecerdasan), termasuk pengembangan AI untuk memprogram robot. Meski demikian, perusahaan-perusahaan Tiongkok—mulai dari DeepSeek hingga Moonshot—telah meluncurkan berbagai model AI baru yang diklaim mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan papan atas AS.
Didorong oleh pendekatan open-source (sumber terbuka), di mana perusahaan rintisan AI saling berbagi kode pemrograman, inovasi China mampu mengejar ketertinggalan lebih cepat dari perkiraan, terlepas dari adanya pembatasan ekspor AS terhadap cip canggih yang krusial. Para analis kini meyakini bahwa tahap selanjutnya dari perlombaan ini tidak akan ditentukan oleh siapa yang memiliki model bahasa terbaik, melainkan oleh siapa yang mampu menanamkan kecerdasan tersebut ke dalam jutaan mesin.
6. Berinvestasi pada Generasi Terdidik
Itulah sebabnya China juga berinvestasi dalam mencetak generasi pelajar yang belajar membayangkan apa yang mungkin terjadi di masa depan.Sebagai contoh, di Hangzhou Technician Institute, para siswa bisa mulai belajar sejak usia 15 tahun. Skala materi yang diajarkan pun bisa dibilang luar biasa. Terdapat satu gedung khusus yang didedikasikan untuk mesin dan aeronautika, serta satu lantai dengan akses terbatas bagi siswa yang dipersiapkan untuk menjaga posisi Tiongkok di garis depan pengolahan logam tanah jarang (rare earth)—komoditas krusial lainnya dalam persaingan melawan Washington.Sebagian pihak memandang hal ini sebagai solusi atas tingginya angka pengangguran kaum muda di China yang sulit diturunkan, di mana satu dari lima anak muda kesulitan mendapatkan pekerjaan. "Siswa kami banyak dicari dan bahkan bisa dipesan lebih dulu oleh perusahaan. Mereka sama sekali tidak perlu khawatir soal pekerjaan, dan kami juga mengadakan kompetisi sebagai bagian dari pelatihan mereka," ujar Chen, seorang guru muda di sana.
"Lebih baik menemukan posisi Anda di tengah gelombang teknologi ini." Dalam proses kemajuan, perubahan struktural pasti akan terjadi, dan justru pada perubahan struktural inilah letak peluang kerja masa depan bagi para mahasiswa."
Namun, China masih menghadapi tantangan ekonomi yang serius, mulai dari krisis properti yang terus berlarut-larut hingga utang pemerintah daerah yang sangat besar dan tingkat konsumsi yang tetap rendah.
Belum jelas apakah dan bagaimana revolusi yang digadang-gadang oleh Beijing akan mengatasi masalah-masalah tersebut, dan sulit untuk mengukur bagaimana perasaan mereka yang pekerjaannya terancam terhadap perubahan yang akan datang. Akankah robot menciptakan kesejahteraan bagi mereka, atau justru merenggut banyak pekerjaan mereka?
"Mahasiswa saya bertanya kepada saya apa yang akan terjadi di masa depan," ujar Chen. "Saya katakan saya tidak tahu. Teknologi sedang berubah begitu cepat. Namun, kita tidak bisa hanya berdiam diri dan tidur di sini. Kita harus melangkah maju untuk melihat apa yang mampu kita lakukan.





