Iran Klaim Hancurkan 11 Pesawat Militer dan Bunuh 200 Tentara AS, Sebut Data Pentagon Bohong
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeklaim pada hari Sabtu bahwa angkatan bersenjatanya telah menghancurkan 11 pesawat militer dan helikopter Amerika Serikat (AS) di darat selama konflik 15 hari terakhir. Garda Revolusi juga mengklaim data yang benar adalah lebih dari 200 tentara Amerika telah tewas sejak perang dimulai akhir Februari.
Berbicara kepada Tasnim News Agency, juru bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi mengatakan serangan-serangan yang merugikan Amerika tersebut berlangsung antara 8 Juli hingga 22 Juli.
Baca Juga: Korban Jiwa Militer AS Berjatuhan, Trump: Iran Akan Bayar Berkali-kali Lipat!
Mohebbi mengeklaim peralatan militer Washington yang dihancurkan termasuk 17 drone pengintai dan operasional, termasuk delapan yang baru. Sedangkan 11 pesawat militer yang dihancurkan adalah satu jet tempur F-15 di dalam tempat perlindungan yang diperkuat, satu pesawat patroli maritim P-8, satu pesawat angkut militer C-17, dan delapan pesawat pengisian bahan bakar udara.
Dia mengatakan pesawat-pesawat itu dihancurkan saat berada di pangkalan militer AS di Teluk, tetapi tidak menyebutkan lokasi pastinya.Mohebbi juga mengeklaim serangan Iran merusak sembilan pusat komando dan kendali. Sedangkan rincian peralatan militer yang dihancurkan adalah lima sistem komunikasi satelit, enam radar pertahanan udara Patriot, tiga radar pengawasan udara dan laut, delapan radar pengintaian dan peringatan dini, tujuh radar pertahanan rudal udara, lima radar sistem penentuan posisi elektronik (EPS), termasuk dua sistem jarak jauh, lima radar jarak jauh tambahan, dua radar pertahanan udara, dan satu kompleks radar taktis.Selanjutnya, enam hanggar rudal, 17 depot senjata, 12 tangki bahan bakar, tiga pusat logistik, enam pusat perawatan pesawat tempur, enam platform peluncur rudal, empat platform peluncur roket HIMARS, satu dermaga bahan bakar, satu fasilitas penyimpanan kapal permukaan tak berawak, satu pusat data intelijen, empat hanggar pesawat tempur, empat helikopter, dan enam depot rudal.
Lebih lanjut, juru bicara IRGC itu mengatakan bahwa lebih dari 200 tentara militer AS tewas setelah Washington melanggar nota kesepahaman (MoU). Dia menolak data korban militer AS versi Pentagon sebagai "kebohongan mutlak".
Menurut Mohebbi, jumlah personel militer AS yang terluka jauh lebih tinggi daripada jumlah korban tewas yang dilaporkan dan menantang Washington untuk mengizinkan jurnalis mengunjungi lokasi serangan untuk menilai korban secara independen.
Mohebbi juga memperingatkan bahwa Inggris, negara-negara Teluk, atau negara lain yang mendukung operasi militer AS terhadap Iran akan menjadi target yang sah.
Dia mengklaim bahwa pesawat pengebom B-1 AS baru-baru ini beroperasi dari pangkalan udara di Inggris dan memperingatkan bahwa jika London terus mendukung Washington secara militer, London akan menjadi "target yang pasti dan sah".Mohebbi kemudian memperingatkan Israel agar tidak melanjutkan operasi militer, dengan mengeklaim Teheran akan menimbulkan konsekuensi berat jika pertempuran berlanjut.
Dia menuduh Israel berusaha untuk membuat AS tetap terlibat secara militer di kawasan itu dengan memberikan Presiden Donald Trump apa yang dia sebut sebagai intelijen palsu untuk memajukan tujuannya melalui kekuatan militer Amerika.
Menurut Mohebbi, rezim Zionis sudah tahu apa yang menantinya jika Teheran kembali memfokuskan operasi militernya terhadap Israel.
Menurut angka Pentagon, hampir 100 anggota militer AS telah terluka selama dua minggu terakhir. Militer AS juga telah mengonfirmasi bahwa 18 tentara Amerika telah tewas sejak perang dimulai pada akhir Februari, meskipun jumlah korban AS secara keseluruhan masih belum jelas.







