Dampak Buang Minyak Jelantah ke Got dan Cara Mengubahnya Jadi Cuan

Dampak Buang Minyak Jelantah ke Got dan Cara Mengubahnya Jadi Cuan

Gaya Hidup | sindonews | Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:30
share

Kebiasaan membuang minyak goreng bekas atau minyak jelantah ke saluran pembuangan dapur kerap dianggap sebagai hal sepele. Praktik tersebut berpotensi besar merusak lingkungan sekaligus mengancam infrastruktur permukiman. Padahal minyak jelantah bisa jadi ladang cuan bagi ibu-ibu rumah tangga.

Praktisi bisnis lingkungan sekaligus influencer, Bang Sap dalam unggahan video di akun Instagramnya membeberkan bahwa minyak jelantah memiliki dua sisi yaitu sisi dampak lingkungan dan keuntungan jika diperlakukan secara tepat.

Baca juga: Sering Bikin Bingung Ngedrop Pasangan? Ini Cara PIM dan Secure Parking Bikin Area Parkir Bebas Ribet

"Minyak jelantah itu bukan cuma kotoran dapur yang harus disingkirkan. Dia punya dua sisi. Bisa jadi bencana kalau dibuang sembarangan, atau bisa jadi rezeki kalau dikelola dengan benar," ujar Bang Sap, dikutip Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, minyak goreng bekas yang dibuang ke got atau tanah tidak akan larut begitu saja. Karakteristik minyak yang mengendap dan mengeras di dalam saluran pembuangan berisiko tinggi memicu genangan hingga merusak daya resap tanah."Coba bayangin, minyak jelantah itu kayak selimut tebal yang nutupin permukaan air. Begitu masuk ke got atau tanah, dia enggak larut kayak air biasa. Dia mengendap, mengeras, dan menyumbat pipa rumahmu. Efeknya, air jadi susah mengalir, banjir kecil muncul di gang-gang perumahan, dan tanah di sekitarnya jadi keras, enggak bisa ngerap air lagi," jelas dia.

Baca juga: Bukan Sekadar Penampilan, Ringgo Agus Rahman Kembali Jalani Transplantasi Rambut

Dampak ekologis dari limbah minyak jelantah tergolong masif. Merujuk data Kementerian Lingkungan Hidup, Bang Sap menyebutkan bahwa satu liter minyak jelantah yang terbuang bebas berpotensi mencemari hingga 1.000 liter air tanah.

Padahal, dibalik potensi pencemarannya, minyak jelantah kini bertransformasi menjadi komoditas strategis. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mulai memperketat regulasi ekspor minyak jelantah, menyusul peningkatannya sebagai bahan baku utama program biodiesel nasional B50.

"Sesuai data resmi Kementerian Lingkungan Hidup, 1 liter minyak jelantah bisa mencemari sampai 1.000 liter air tanah. Tapi di sisi lain, sejak awal 2025, pemerintah justru memperketat ekspor minyak jelantah lewat aturan Kementerian Perdagangan. Alasannya, minyak ini sekarang jadi bahan baku penting buat program biodisel nasional yang tahun ini naik jadi B50," papar Bang Sap.Tingginya permintaan kebutuhan industri ini membuka peluang ekonomi baru bagi sektor rumah tangga. Pengepul kini berani membeli limbah minyak goreng tersebut secara tunai.

"Saking berharganya, sekarang ada pengepul yang berani bayar tunai sampai Rp8.000 per liter buat minyak jelantah rumah tangga," tambah dia.

Melihat potensi ekonomi yang terbuang sia-sia, Bang Sap mengimbau masyarakat untuk mulai mengumpulkan dan menjual limbah dapur tersebut ketimbang membuangnya ke selokan.

"Ironisnya, banyak ibu-ibu yang masih buang sembarangan, sementara pengepul di luar sana nunggu buat beli. Sayang banget kalau minyak jelantah yang bisa jadi cuan malah kita donasikan gratis ke selokan," pungkas Bang Sap.

Topik Menarik