Bukan Cuma Kopi, Dokter Ungkap Kebiasaan Ini Bisa Bikin Anak Muda Alami Darah Tinggi

Bukan Cuma Kopi, Dokter Ungkap Kebiasaan Ini Bisa Bikin Anak Muda Alami Darah Tinggi

Gaya Hidup | inews | Kamis, 20 Agustus 2026 - 20:47
share

JAKARTA, iNews.id - Tekanan darah tinggi atau hipertensi kini tidak hanya mengintai orang lanjut usia. Anak muda juga dapat mengalami kondisi ini, terutama jika memiliki kombinasi faktor genetik dan gaya hidup yang kurang sehat.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, mengungkap sejumlah kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko hipertensi pada usia muda. Menurut dia, konsumsi kopi bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.

"Kenapa anak muda sering terkena hipertensi? Jawabannya adalah karena gaya hidup dan lifestyle, dan kedua karena genetik. Nah, lucunya, penyakit-penyakit kardiovaskular yang terkait dengan jantung dan tekanan darah, itu ada faktor genetik," ujar dr Tirta dalam unggahan video di akun Instagram-nya, dikutip Kamis (20/8/2026).

Dia mengingatkan anak muda untuk tidak mengabaikan riwayat kesehatan keluarga. Seseorang yang memiliki orang tua atau anggota keluarga dengan riwayat hipertensi, penyakit jantung, maupun stroke perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatannya.

"Jadi dilihat, kalau kamu lihat bapak, ibumu, atau saudaramu, kakek-nenekmu ada riwayat meninggal dadakan karena penyakit jantung dan stroke, bisa jadi kamu juga harus check-up. Jadi yang pertama genetik," tambah dia.

Selain faktor genetik, gaya hidup menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai. Anak muda saat ini menghadapi berbagai tekanan, mulai dari tuntutan pendidikan hingga beban pekerjaan.

"Yang kedua karena gaya hidup. Pada anak muda ini kan tekanannya berat. Mereka terbiasa dengan konsentrasi karena dulu sekolah kita dari jam berapa? Jam 07.00 sampai jam 01.00. Jadi sudah capek sekolah, les, beban sekolah, dimarahin. Terus sampai kerja, dimarahin lagi, lembur lagi, belum standar sosial, itu akhirnya membuat gaya hidupnya menjadi tekanan psikologis kerja naik. Tekanan psikologis kerja naik, stres, itu akan meningkatkan risiko dari hipertensi, karena kortisolnya naik," ucap dr Tirta.

Kondisi tersebut dapat semakin buruk jika seseorang memiliki kebiasaan tidur tidak teratur dan jarang berolahraga. Pola makan yang tidak sehat serta kebiasaan merokok juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

"Pola tidur berantakan, makan makanan karbo terlalu banyak, enggak pernah olahraga, terus habis itu dia ngerokok, ditambah ngerokok dan kopi. Kopi tok aman. Nah, kopi dikombinasi rokok, naik tuh simpatis. Dua kombinasi ini membuat tekanan anak-anak muda ini menjadi tekanan darahnya di atas rata-rata," katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan kopi tidak selalu menjadi satu-satunya penyebab tekanan darah meningkat. Kebiasaan merokok, terutama ketika dikombinasikan dengan konsumsi kopi, juga perlu mendapat perhatian.

Secara medis, hipertensi dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan hipertensi pada orang dewasa sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih, berdasarkan pengukuran pada dua hari berbeda.

Sementara itu, pedoman American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC) 2025 menggunakan ambang yang lebih rendah untuk kategori hipertensi. Tekanan darah 130-139 mmHg sistolik atau 80-89 mmHg diastolik sudah masuk kategori hipertensi tahap 1.

Sebab itu, anak muda sebaiknya tidak menunggu munculnya keluhan untuk memeriksa tekanan darah. Pemeriksaan secara berkala dapat membantu mendeteksi tekanan darah tinggi lebih awal.

dr Tirta juga mengingatkan pentingnya memperhatikan angka sistolik dan diastolik ketika melakukan pemeriksaan.

"Tekanan darah normal tuh adalah 120 tuh sistoliknya, per 80 mmHg. Di bawah itu masih normal. Di bawah 100 itu hipotensi, bisa pingsan orangnya. Di atas 140 itu hipertensi stage 1. Jadi kalau tekanan darahmu dari 100 sampai 140, ya, sistoliknya, itu masihlah aman. Kalau bawahnya, diastolik, itu yang sensitif. Normalnya kan 80, 70 masih aman. Tapi kalau udah 90 sampai 100 diastoliknya, berarti kemungkinan ada hipertensi," katanya.

Untuk menekan risiko hipertensi, perubahan gaya hidup menjadi langkah penting. Aktivitas fisik secara rutin, tidur yang cukup dan teratur, pola makan sehat, menghindari rokok, serta mengelola stres dapat membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.

"Jadi ubah gaya hidup, rajin olahraga, tidur teratur, dan kurangi stres kerja," katanya.

Mengenali faktor risiko sejak dini, anak muda dapat mengambil langkah pencegahan sebelum tekanan darah tinggi berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin juga penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko atau riwayat penyakit dalam keluarga.

Topik Menarik