Kala Kolam Budidaya Lele Jadi Produk Unggulan dan Kampung Eduwisata

Kala Kolam Budidaya Lele Jadi Produk Unggulan dan Kampung Eduwisata

Nasional | sindonews | Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:41
share

Masyarakat Desa Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo melakukan inovasi lele. Di tangan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Tsadewa, lele tidak lagi sekadar ikan yang dipanen lalu dijual kepada tengkulak. Komoditas yang selama ini identik dengan kolam budi daya tersebut mulai “naik kelas” menjadi aneka produk olahan, sumber pembelajaran, hingga embrio destinasi eduwisata yang menyasar masyarakat dan pelajar.

Transformasi inilah yang kini tengah dibangun di Desa Wage. Kolam lele perlahan berubah menjadi ruang inovasi yang mempertemukan budidaya perikanan, teknologi, pengolahan pangan, pertanian, edukasi, dan peluang ekonomi masyarakat. Baca juga: 7 Ikan Lokal Pengganti Salmon yang Bergizi dan Murah Meriah

Jika selama ini pembelajaran banyak berlangsung di ruang kelas, kawasan Pokmas Tsadewa menawarkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan praktik kehidupan masyarakat. Untuk mendukung kegiatan tersebut, Pokmas Tsadewa juga telah memiliki flipchart sebagai media informasi mengenai budidaya dan pengolahan lele. Media edukasi ini dikembangkan melalui keterlibatan mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya).

Transformasi Pokmas Tsadewa merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat – Skema Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek).Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi multidisiplin Universitas Surabaya (Ubaya) dan Universitas Dr. Soetomo (Unitomo).

Tim pelaksana terdiri atas Finna Setiawan selaku ketua tim, bersama anggota Amanda Putri Nahumury, Faizal Susilo Hadi, dan Achmad Kusyairi. Ketua PDB Ubaya di Desa Wage, Finna Setiawan menjelaskan kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah desa diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus mendukung kesehatan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan. “Potensi yang ada di masyarakat perlu dikembangkan agar tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Melalui inovasi, teknologi, dan pendampingan, potensi tersebut dapat memberikan nilai tambah dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” katanya, Jumat (20/8/2026).

Ketua Pokmas Tsadewa, Khoirul Anam, menyambut positif pendampingan yang diberikan melalui program tersebut. “Terima kasih kepada Ubaya, Unitomo, dan Kemdiktisaintek atas dukungan dan pendampingannya sehingga budidaya yang sebelumnya hanya berupa kolam biasa telah berkembang menjadi eduwisata dan menghasilkan berbagai produk inovasi yang siap dipasarkan,” ungkap Khoirul.

Menurutnya, perubahan tersebut membuka harapan baru bagi masyarakat. “Dengan inovasi dan kolaborasi yang terus dibangun antara perguruan tinggi, Pemerintah Desa, dan Kemdiktisaintek, Pokmas Tsadewa memiliki peluang untuk menjadikan lele bukan sekadar komoditas hasil kolam, tetapi sebagai produk unggulan Desa Wage yang memiliki nilai ekonomi, edukasi, dan wisata,” tambahnya.

Selama ini, sebagian besar hasil budidaya Pokmas Tsadewa dijual dalam bentuk lele segar kepada tengkulak. Pola tersebut membuat posisi pembudidaya sangat bergantung pada harga pasar dan nilai tambah produk belum banyak dinikmati masyarakat. Situasi itu kemudian mendorong lahirnya gagasan sederhana tetapi penting: bagaimana membuat lele memiliki nilai lebih sebelum sampai ke tangan konsumen?

Melalui pendampingan dan transfer teknologi, lele mulai dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Diversifikasi tersebut diharapkan dapat memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil budidaya.Bukan hanya ikannya yang dimanfaatkan. Limbah budidaya pun diarahkan agar tidak menjadi persoalan, tetapi justru menjadi sumber daya yang dapat diolah. Sejumlah inovasi telah diterapkan di kawasan Pokmas Tsadewa, mulai dari sistem akuaponik, pengolahan limbah lele menjadi pupuk cair, pembuatan pakan alternatif, wisata petik sayur, hingga pengembangan produk olahan berbahan dasar lele.

Dengan pendekatan tersebut, konsep yang dibangun bukan lagi sekadar “beternak lele”, melainkan menciptakan rantai ekonomi dari hulu hingga hilir. Yang menarik, transformasi Pokmas Tsadewa tidak berhenti pada urusan produksi dan penjualan.Kawasan budidaya tersebut kini dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi. Baca juga:Kementan Bantu Petani Wujudkan Pembangunan Agro Eduwisata di Cianjur

Konsepnya sederhana. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat ikan, tetapi juga belajar bagaimana lele dibudidayakan, bagaimana limbahnya dimanfaatkan, bagaimana pakan alternatif dibuat, hingga bagaimana hasil panen dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.

Sejumlah fasilitas edukasi disiapkan, antara lain kolam pancing anak, pelatihan pembuatan pupuk cair, pelatihan pembuatan pakan alternatif, wisata petik sayur, serta pengenalan berbagai produk olahan lele. Konsep ini secara khusus membuka peluang bagi pelajar untuk belajar langsung dari lingkungan sekitar.

Topik Menarik