IHSG Merana, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.840 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (19/8), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah cukup dalam di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter global.
Rupiah menguat 22 poin atau 0,12 menjadi Rp17.840 per dolar AS, sedangkan IHSG merosot 55,70 poin atau 0,86 ke level 6.394. Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan pasar berasal dari ketidakpastian mengenai status Selat Hormuz bagi pelayaran kapal di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
"Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, sebuah pernyataan yang bertolak belakang dengan klaim Iran bahwa jalur air vital tersebut masih tertutup bagi lalu lintas pelayaran," tulis Ibrahim dalam risetnya pada Rabu (19/8/2026).
Baca Juga:IHSG Hari Ini Dibuka Tergelincir ke 6.408, Ada 550 Saham Malas Bergerak
Ketidakpastian meningkat setelah kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran berakhir pada Senin. Seorang pejabat senior Iran mengatakan negaranya beralih ke postur militer yang "sepenuhnya ofensif" akibat kebuntuan diplomatik, meskipun belum terdapat laporan serangan baru dari kedua pihak.Dampak ketegangan tersebut juga mulai memengaruhi jalur perdagangan energi. Kabinet Irak menyetujui mekanisme ekspor minyak mentah melalui berbagai jalur untuk menghindari Selat Hormuz, sementara dua perusahaan pelayaran besar asal China menghentikan pengiriman kapal tanker melalui Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb serta memilih mengambil muatan minyak di luar wilayah Teluk.
Di pasar global, investor juga mencermati risalah rapat Federal Reserve AS pada Juli yang dijadwalkan dirilis Rabu waktu setempat. Pasar mencari petunjuk mengenai pandangan pembuat kebijakan terhadap inflasi dan arah suku bunga, sebelum perhatian beralih pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pekan depan.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18–19 Agustus 2026. Keputusan tersebut diumumkan Pjs. Gubernur BI Destry Damayanti hari ini.
BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 dan Lending Facility sebesar 6,50. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak global, sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 dan mendukung pertumbuhan ekonomi.Selain mempertahankan suku bunga, BI memperluas kebijakan insentif untuk mendorong aliran investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas rupiah, meningkatkan likuiditas, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dengan potensi melemah dalam kisaran Rp17.840–Rp17.900 per dolar AS. Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati arah kebijakan BI, perkembangan konflik Timur Tengah, kondisi harga energi, serta sinyal kebijakan suku bunga AS sebagai penentu pergerakan rupiah dan IHSG.
Baca Juga: 8 Tuntutan BEM Universitas Indonesia
Sementara itu, tekanan lebih besar terjadi di pasar saham. Pada perdagangan hari ini sebanyak 257 saham menguat, 379 saham melemah, dan 327 saham stagnan dengan nilai transaksi mencapai Rp14,2 triliun dari 34,1 miliar saham yang diperdagangkan. Sejumlah indeks utama juga bergerak melemah, dengan indeks LQ45 turun 0,56 menjadi 627, indeks JII melemah 0,83 menjadi 380, IDX30 turun 0,44 menjadi 350, dan MNC36 terkoreksi 0,58 menjadi 271.
Mayoritas sektor berada di zona merah, antara lain energi, konsumer siklikal, industri, konsumer non-siklikal, transportasi, keuangan, teknologi, dan kesehatan. Sektor yang menguat hanya infrastruktur dan properti. Saham yang mencatat penguatan terbesar antara lain PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) sebesar 25 menjadi Rp260, PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA) naik 24,84 menjadi Rp260, dan PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI) naik 24,42 menjadi Rp540.
Sebaliknya, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) menjadi saham dengan penurunan terbesar, yakni 14,72 menjadi Rp452, diikuti PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL) yang turun 11,86 menjadi Rp312 dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) melemah 11,76 menjadi Rp2.700.









