Terungkap Dasar Pemerintah Pasang Target Pertumbuhan Ekonomi 6 di 2027
Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN 2027 menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang cukup ekspansif sebesar 6. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menyebut bahwa optimisme pemerintah tersebut berlandaskan pada fondasi pemulihan ekonomi nasional yang kian solid.
Sepanjang semester pertama tahun 2026, Indonesia berhasil mengandalkan pertumbuhan ekonomi di angka 5,45. Kinerja ini diproyeksikan terus menguat pada kuartal III dan IV di atas 5,5, didorong oleh indikator industri manufaktur (PMI) yang konsisten di atas level ekspansif 50, menguatnya daya tahan ekspor, serta belanja negara yang terus terjaga.
"Bapak Presiden memberikan target dan kalau memberikan target itu memang tidak boleh rendah. Seperti bahasa Bapak Presiden, gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang-bintang, kalaupun tidak tercapai kau jatuh di atas awan," ujar Suahasil dalam keterangan resmi, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Target Pertumbuhan 6 dengan Defisit Mengecil, RAPBN 2027 Uji Produktivitas dan Kualitas Eksekusi
Suahasil pun memaparkan upaya pemerintah dalam melakukan orkestrasi manajemen makroekonomi untuk merealisasikan pertumbuhan ekonomi 6 tahun depan. Menurutnya, strategi tersebut dilakukan melalui optimasi seluruh komponen Produk Domestik Bruto (PDB), di antaranya dengan menjaga konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang komponen terbesar pertumbuhan (53-54 PDB).
“APBN adalah salah satu instrumen utama menjaga konsumsi ini. Karena APBN itu memberikan perlindungan sosial, memberikan bantuan sosial, memberikan pengurangan terhadap beban rumah tangga,” jelasnya.
Baca Juga: Fokus 8 Program Kerja Prioritas Prabowo, Belanja Negara 2027 Naik Jadi Rp4.097,2 T
Strategi lainnya dilakukan dengan mendorong investasi melalui peran Danantara. Konsolidasi aset BUMN melalui Danantara difungsikan sebagai pendorong sekaligus katalisator untuk menarik partisipasi investasi swasta nasional maupun asing.
Selain itu pemerintah juga melakukan efisiensi belanja negara dengan memfokuskan belanja pada sektor-sektor yang memiliki dampak pengganda atau multiplier effect tinggi terhadap PDB.Suahasil juga menuturkan strategi pemanfaatan peluang ekspor serta pengawasan Devisa Hasil Ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk mencegah praktik under-invoicing dan transfer pricing.
Ia juga mengutarakan dalam perancangan RAPBN 2027, ada penyesuaian target defisit anggaran yang diturunkan menjadi sekitar 2,4 dari PDB. Kombinasi target pertumbuhan tinggi dan defisit yang menurun mencerminkan efisiensi APBN yang semakin baik.
"Defisit yang lebih rendah tidak menahan pertumbuhan, malah pertumbuhan naik. Ini artinya APBN kita tambah efisien. Taxpayers money memiliki dampak multiplier yang jauh lebih besar bagi perekonomian," jelasnya.
Seturut itu, Suahasil mengungkapkan soal Pemerintah dalam RAPBN mendatang akan memperkuat 8 Klaster Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) dengan meluncurkan 10 Agenda Transformasi Indonesia yang berfokus pada aksi nyata untuk masyarakat.
Agenda ini meliputi renovasi puskesmas, rumah sakit, dan sekolah, pembentukan bursa komoditas strategis, pengembangan Pusat Finansial Internasional, elektrifikasi mobilitas rakyat, kebijakan dwi kewarganegaraan, keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga Danantara Development Management Fund.








