Inovasi Ubah Desa di Lereng Penanggungan Jadi Sentra Peternakan Domba Terpadu

Inovasi Ubah Desa di Lereng Penanggungan Jadi Sentra Peternakan Domba Terpadu

Nasional | sindonews | Minggu, 16 Agustus 2026 - 17:22
share

Desa Kesiman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, terus mengembangkan potensi peternakan domba melalui penerapan teknologi tepat guna dan pemberdayaan masyarakat. Berada di kawasan lereng Gunung Penanggungan, desa ini diarahkan menjadi sentra peternakan domba terpadu yang tidak hanya meningkatkan produktivitas ternak, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui kolaborasi Universitas Surabaya (Ubaya), Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Pemerintah Desa Kesiman, Kelompok Tani Margi Santoso III, dan BUMDes Mitra Warga. Kolaborasi ini menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Tahun Pertama melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

Tim pengabdian Ubaya dipimpin Prof Tjie Kok, dengan anggota Erna Andajani dan Rizky Eriandani. Sementara itu, UWKS diwakili Ratna Widyawati. Baca juga:BPS: Program Makan Bergizi Gratis Dongkrak Sektor Peternakan

Pengembangan Kesiman sebagai sentra peternakan domba berangkat dari sejumlah persoalan yang selama ini dihadapi peternak lokal. Mayoritas peternak masih bergantung pada pakan hijau segar. Kondisi tersebut menjadi kendala ketika memasuki musim kemarau karena ketersediaan rumput menurun drastis.

Keterbatasan pakan dapat menghambat pertumbuhan bobot ternak dan berdampak terhadap kondisi kesehatan serta imunitas domba. Di sisi lain, limbah kotoran ternak juga belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, kotoran domba memiliki potensi untuk diolah menjadi pupuk organik bernilai ekonomi.Program PDB 2026 kemudian diawali dengan sosialisasi bertajuk Sentra Peternakan Desa Kesiman melalui Nutrisi Pakan Sehat, Breeding, dan Pengolahan Limbah untuk Peningkatan Perekonomian Kelompok Peternak dan BUMDes. Kegiatan dilanjutkan dengan penyuluhan nutrisi pakan sehat bagi ternak domba serta evaluasi untuk mengukur tingkat pemahaman peserta.

Tahapan sosialisasi dan penyuluhan tersebut menjadi fondasi sebelum masyarakat mendapatkan pelatihan teknologi tepat guna. Pendekatan dilakukan secara bertahap agar peternak tidak sekadar menjadi penerima bantuan, tetapi mampu memahami, mengoperasikan, dan mengembangkan teknologi yang diperkenalkan.

Tiga Mesin Jadi Penggerak Teknologi PeternakanUntuk menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian menghadirkan sejumlah peralatan yang dirancang untuk mendukung pengolahan pakan dan limbah secara lebih efisien. Tiga unit mesin utama berbasis diesel diserahterimakan untuk dioperasikan oleh masyarakat. Pertama, Mesin Multifungsi Chopper-Grinder (SM-80) yang digunakan untuk mencacah pakan hijau sekaligus meremukkan bahan baku kompos.

Kedua, Mesin Pelet Vertikal (MPM 160) yang digunakan untuk mengolah hasil fermentasi pakan dan formulasi herbal hasil riset perguruan tinggi menjadi pelet pakan yang lebih tahan lama dan bernutrisi. Ketiga, Mesin Penepung Disc Mill (FFC-45) yang digunakan untuk mengolah kotoran domba yang telah dikeringkan menjadi serbuk pupuk organik yang siap dikemas dan dipasarkan.

“Sinergi ini merupakan bentuk nyata komitmen perguruan tinggi dalam mendukung kemandirian pangan dan ekonomi desa. Dengan formulasi pakan sehat berbasis ekstrak herbal dan pengolahan limbah mandiri, peternak tidak lagi khawatir akan krisis pakan saat musim kemarau,” ujar Prof Tjie Kok, Minggu (16/8/2026).Program tersebut tidak berhenti pada penyediaan peralatan. Pengembangan Kesiman sebagai sentra peternakan juga dirancang dengan mengintegrasikan rantai nilai melalui BUMDes Mitra Warga.

BUMDes diarahkan menjadi penyedia pakan pelet fermentasi sekaligus penampung dan pemasar pupuk organik yang dihasilkan dari pengolahan kotoran domba milik peternak. Skema ini diharapkan menciptakan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan antara kelompok peternak dan BUMDes.

Penguatan ekosistem peternakan juga didukung alokasi dana Ketahanan Pangan Desa sebesar Rp 175 juta untuk pengadaan bibit domba unggul. Dengan rantai nilai yang terintegrasi mulai dari penyediaan bibit, pakan, pemeliharaan ternak, hingga pengolahan limbah, pendapatan peternak dan BUMDes diproyeksikan meningkat hingga 25 persen pada tahap awal.

Melalui pendekatan tersebut, Desa Kesiman tidak hanya diarahkan menjadi wilayah produksi domba, tetapi juga menjadi pusat pengembangan produk turunan seperti pakan ternak dan pupuk organik. Baca juga:Mengenal Gunung Penanggungan, Tanah Suci di Era Kerajaan Majapahit yang Mengejutkan

Kepala Desa Kesiman, Helmi Affandi menjelaskan, pengembangan Kesiman Livestock Center merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem peternakan yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Menurutnya, pengembangan tersebut tidak hanya mengandalkan teknologi tepat guna, tetapi juga perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan kelompok peternak, serta pengembangan unit usaha desa melalui BUMDes.

Ke depan, Desa Kesiman diharapkan mampu memenuhi kebutuhan peternak secara lebih mandiri sekaligus menghasilkan produk bernilai tambah yang dapat dipasarkan secara lebih luas. “Program Sentra Peternakan Domba ini terbukti nyata sangat bermanfaat memajukan desa. Melalui kolaborasi dengan UBAYA, UWKS, integrasi BUMDes Mitra Warga, serta dukungan alokasi Dana Ketahanan Pangan Desa, pendapatan peternak kami siap meningkat dan desa kami makin mandiri,” katanya.

Topik Menarik