Krisis Minyak Global Memburuk, G7 Gelar Pertemuan Darurat
Para menteri keuangan negara-negara G7 bersama Badan Energi Internasional (IEA) menggelar pertemuan darurat untuk membahas lonjakan harga minyak akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Namun, pertemuan virtual tersebut berakhir tanpa kesepakatan konkret mengenai pelepasan cadangan minyak mentah strategis.
Kepala IEA Fatih Birol memperingatkan kondisi pasar minyak global memburuk dalam beberapa hari terakhir akibat gangguan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz serta terhentinya sebagian besar produksi minyak di kawasan tersebut yang menimbulkan risiko signifikan dan terus meningkat bagi pasar.
"Harga minyak mentah Brent sempat mendekati USD120 per barel sebelum kembali turun. Gangguan pasokan terjadi di tengah hambatan pengiriman melalui Selat Hormuz dan pemberlakuan kembali blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap terminal ekspor minyak Pulau Kharg di Iran," kata dia dikutip dari Oilprice, Senin (9/8/2026).
Baca Juga:Warning Jenderal Iran Jika AS Luncurkan Invasi Darat: Kami Akan Lumpuhkan Tentara Mereka!
Dalam pernyataan setelah pertemuan, negara-negara G7 menyatakan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk mendukung pasokan energi global, termasuk kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis. Namun, pernyataan tersebut belum diikuti keputusan bersama mengenai kapan dan berapa banyak cadangan yang akan dilepas.IEA mencatat gangguan pasokan telah mencapai skala signifikan. Produksi minyak global pada Juli berada sekitar 9,4 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum perang, meskipun sempat terjadi pemulihan lebih dari 4 juta barel per hari pada Juni setelah gencatan senjata berlangsung singkat.
Selain produksi minyak, hampir 3 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak di kawasan tersebut juga terhenti akibat serangan dan terbatasnya jalur ekspor yang dapat digunakan. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap rantai pasok energi global dan berpotensi menjaga harga minyak pada level tinggi.Sementara itu, ekspor minyak Iran dari Pulau Kharg dilaporkan terhenti sepenuhnya. Terminal tersebut menangani sekitar 95 pengiriman minyak mentah Iran melalui jalur laut, sedangkan blokade angkatan laut AS membuat aktivitas pemuatan tanker berhenti sejak 31 Juli.
Baca Juga:Bank Sentral China Tambah 20 Ton Cadangan Emas, Terbesar sejak Oktober 2023
Blokade sebelumnya yang berlangsung pada April hingga Juni juga menekan ekspor minyak mentah dan kondensat Iran dari hampir 2 juta barel per hari menjadi kurang dari 300 ribu barel per hari. Kesepakatan sementara sempat memberikan kelonggaran, tetapi kembali runtuh pada pertengahan Juli.
Di tengah gangguan pasokan, sebagian pelaku pasar masih mempertahankan posisi yang mengantisipasi penurunan harga dengan bertaruh pada kemungkinan penyelesaian diplomatik. Harga minyak sempat terkoreksi setelah Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan damai dengan Iran kembali berlangsung, meskipun pejabat Iran membantah adanya negosiasi.
Ketidakpastian pasar juga meningkat setelah parlemen Iran membahas rancangan aturan yang dapat melarang kapal AS, Israel, dan kapal negara lain yang dianggap bermusuhan melintasi Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia sehingga pembatasan lalu lintas berpotensi semakin mengganggu pasokan global.
Para analis menilai perubahan arus perdagangan minyak di Timur Tengah dapat berlangsung lebih lama meskipun konflik berakhir. Pengaturan baru mengenai lalu lintas dan keamanan di Selat Hormuz berpotensi membuat biaya pengiriman meningkat dan menjaga harga minyak tetap tinggi dalam periode pascakonflik.










