Jalankan Program Danantara, Mitratel (MTEL) Gabungkan Anak Usaha demi Perkuat Efisiensi dan Sinergi

Jalankan Program Danantara, Mitratel (MTEL) Gabungkan Anak Usaha demi Perkuat Efisiensi dan Sinergi

Ekonomi | idxchannel | Senin, 10 Agustus 2026 - 07:00
share

IDXChannel - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), berpeluang meningkatkan efisiensi dan profitabilitas bisnis setelah menyelesaikan penggabungan dua entitas anak usahanya, yakni PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT).

Langkah tersebut berpotensi menyederhanakan struktur operasional sekaligus membuka ruang bagi Mitratel untuk mengoptimalkan aset dan memperkuat posisi perseroan sebagai pemimpin infrastruktur digital nasional.

Penggabungan PST dan UMT telah dipublikasikan pada 8 Mei 2026 dan mulai berlaku efektif pada 1 Juli 2026.

Aksi tersebut sebelumnya telah memperoleh persetujuan regulator dan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 Juni 2026.

Manajemen Mitratel menyebut penggabungan ini dilakukan untuk menyederhanakan struktur grup serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional.

Integrasi kedua entitas tersebut juga diharapkan membuat penyediaan layanan infrastruktur digital dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi.

Sebelum digabungkan, PST dan UMT memiliki kegiatan usaha yang masih berkaitan dengan ekosistem telekomunikasi dan layanan digital.

Setelah integrasi, cakupan kegiatan MTEL tidak hanya bertumpu pada bisnis menara telekomunikasi, tetapi juga mencakup bisnis turunan seperti managed service Internet of Things (IoT), power service, dan berbagai solusi terkait lainnya.

Manajemen Mitratel menempatkan aksi tersebut sebagai bagian dari transformasi perusahaan yang sejalan dengan arah transformasi Danantara Indonesia dan Telkom Grup.

Fokusnya antara lain pada penataan portofolio bisnis serta pengembangan ekosistem digital nasional.

Dengan struktur yang lebih ramping, efisien, agile, penggabungan PST dan UMT diharapkan dapat membantu MTEL mengoptimalkan pemanfaatan aset dan kegiatan operasional.

Langkah tersebut juga dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan produktivitas dan menyesuaikan diri dengan perkembangan industri telekomunikasi.

Dari sisi keuangan, konsolidasi kedua entitas membuka peluang bagi perusahaan untuk memperoleh manfaat dari sinergi value, termasuk melalui pengelolaan biaya operasional dan belanja modal yang lebih optimal.

Dampaknya terhadap profitabilitas akan bergantung pada realisasi efisiensi dan peningkatan utilisasi aset setelah integrasi berjalan.

Mitratel juga memperkirakan terdapat ruang sinergi dari peningkatan tenancy ratio, efisiensi biaya, serta penguatan operating leverage. Ketiga faktor tersebut dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan profitabilitas perusahaan dalam beberapa periode mendatang.

Dari sisi skala usaha, penggabungan tersebut mempertahankan posisi Mitratel sebagai pemilik portofolio menara terbesar di Indonesia.

Perusahaan juga masih memiliki ruang untuk meningkatkan utilisasi aset melalui kenaikan tenancy ratio secara bertahap menuju level di atas 1,6 kali (x) dalam jangka menengah.

Hingga semester I-2026, tenancy ratio MTEL tercatat sebesar 1,57x, meningkat dari 1,53x pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peluang tersebut turut didukung oleh kebutuhan infrastruktur telekomunikasi yang meningkat seiring dengan pengembangan jaringan 5G dan layanan Fixed Wireless Access (FWA).

Analis Mirae Asset Sekuritas, Daniel Widjaja dan Wilbert Alfin, dalam riset sebelumnya menyebut FWA dan fiberisasi sebagai sejumlah katalis yang berpotensi mendukung kinerja MTEL, khususnya untuk menopang ekspansi jaringan 5G operator seluler.

“Pengembangan FWA akan menjadi momentum MTEL untuk memanen hasil investasi jaringan menara dan fiber di masa lalu,” kata mereka dalam riset tersebut.

Dalam Info Memo MTEL semester I-2026, perseroan juga menyatakan permintaan terhadap menara yang dilengkapi konektivitas fiber diperkirakan terus bertumbuh.

Kebutuhan tersebut berasal dari operator yang membutuhkan jaringan dengan latensi lebih rendah, kapasitas lebih besar, dan tingkat keandalan jaringan yang lebih tinggi, seiring dengan perkembangan densifikasi 4G, 5G, dan FWA.

Berbagai perkembangan tersebut dapat menjadi faktor pendukung bagi MTEL dalam mengembangkan bisnisnya menuju konsep Next-Generation Tower Company.

Konsep ini mengarah pada pengembangan infrastruktur digital yang lebih terintegrasi, sehingga peran perusahaan tidak hanya terbatas pada penyediaan menara telekomunikasi. (Aldo Fernando)

Topik Menarik