5 Fakta Tren Black Widow di Rusia, Menikah demi Santunan Kematian Rp1,1 Miliar

5 Fakta Tren Black Widow di Rusia, Menikah demi Santunan Kematian Rp1,1 Miliar

Global | sindonews | Kamis, 6 Agustus 2026 - 01:10
share

Ketika Maria diberi tahu oleh militer Rusia bahwa ayahnya yang berusia 59 tahun tertembak di garis depan perang Ukraina dan kemudian meninggal akibat luka-lukanya, ia merasa sangat terpukul dan mengalami guncangan ganda. Ia tidak hanya tidak tahu bahwa ayahnya, Yury, telah mendaftar sebagai tentara, tetapi ia juga diberi tahu bahwa ayahnya telah menikah hanya dua hari sebelum dikirim untuk bertempur.

"Saya masih syok dan belum bisa menerima apa yang terjadi," isak Maria di meja dapur apartemen kecilnya di St. Petersburg. "Awalnya, rasanya seperti mimpi. Bahkan sekarang, terkadang saya terbangun dan berpikir bahwa semua itu pasti hanya mimpi. Namun, ini benar-benar terjadi," tambahnya sambil menangis.

Wanita yang dinikahi ayahnya itu—yang menurut Maria belum pernah ia temui atau bahkan namanya pernah disebut oleh sang ayah—berusia 22 tahun lebih muda dan telah menjadi ahli waris sah ayahnya, sehingga berhak menerima santunan resmi.

"Saya bahkan belum pernah berbicara dengan wanita ini," kata Maria, 37 tahun. CNN hanya menggunakan nama depannya demi alasan privasi.

"Saya tidak tahu harus berkata apa kepadanya karena saya langsung curiga ini adalah penipuan." CNN telah berupaya menghubungi janda Yury untuk meminta tanggapan.

5 Fakta Tren Black Widow di Rusia, Menikah demi Santunan Kematian Rp1,1 Miliar

1. Demi Santunan senilai Rp1,1 Miliar

Ketika seorang tentara Rusia gugur dalam pertempuran, kerabat terdekatnya menerima santunan dalam jumlah besar dari militer, mulai dari 5 juta rubel (USD64.000 atau Rp1,1 Miliar); sebuah kompensasi yang dimaksudkan untuk meyakinkan para rekrutan bahwa jika—dan sering kali ketika—hal terburuk terjadi, orang-orang yang mereka cintai akan mendapatkan jaminan hidup.

Namun, muncul kekhawatiran yang kian meningkat di Rusia bahwa tunjangan tersebut semakin sering disalahgunakan oleh para penipu kejam—yang oleh pejabat dan media pemerintah Rusia dijuluki sebagai "janda hitam" (black widows). Mereka menjebak pria-pria yang rentan ke dalam pernikahan palsu sebelum mengirim mereka ke medan perang, lalu mengklaim santunan jika suami baru mereka tewas, sembari menyingkirkan kerabat lainnya.

2. Tren Pernikahan di Ambang Kematian

Dalam beberapa bulan terakhir, masyarakat Rusia dihebohkan oleh berbagai kisah mengenai tentara rekrutan yang diduga dijebak melalui rayuan asmara ke dalam pernikahan sebelum gugur di garis depan, atau bahkan menikah saat sedang sekarat.

Dalam satu kasus "janda hitam" yang banyak diberitakan tahun lalu, seorang perawat di rumah sakit militer dipecat setelah dituduh menikahi lima tentara yang dirawatnya—sebelum mereka meninggal akibat luka-luka—demi mendapatkan santunan kematian mereka.

3. Picu Kemarahan Publik

Praktik penyalahgunaan ini telah memicu kemarahan publik di tengah kekhawatiran yang kian meningkat mengenai dampak perang yang sedang berlangsung di Ukraina—yang oleh Kremlin masih disebut sebagai "operasi militer khusus"—terhadap kehidupan masyarakat di dalam negeri.

Di tengah situasi ekonomi yang memburuk, kelangkaan bahan bakar, korban jiwa yang terus bertambah, serta serangan Ukraina yang merusak di wilayah Rusia, kecaman terhadap para penipu ini semakin keras, disertai desakan publik agar pemerintah mengambil tindakan tegas secara resmi.

"Keluarga para peserta Operasi Militer Khusus membutuhkan perlindungan dari para penjahat yang nekat, dari sosok yang disebut 'janda hitam', dari penipu keuangan dan telepon, serta dari predator yang mengincar mereka yang telah menerima pembayaran uang santunan," ujar Leonid Slutsky, seorang anggota parlemen terkemuka di badan legislatif Rusia yang biasanya tidak banyak melontarkan kritik seraya menambahkan bahwa "kejahatan" semacam itu kini telah mencapai "proporsi yang serius."

4. Efek Saran Pemerintah untuk Tentaranya Menikah

Setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Kremlin secara aktif mendorong para rekrutan Rusia untuk menikah, mungkin untuk memperkuat dukungan keluarga atau menanamkan motivasi tambahan untuk bertempur. Kampanye pro-pernikahan ini juga sejalan dengan upaya Presiden Rusia Vladimir Putin dalam mempromosikan apa yang disebut sebagai nilai-nilai tradisional, di tengah penurunan demografis di Rusia.Pihak berwenang berupaya memfasilitasi pernikahan kilat bagi tentara yang baru direkrut agar mereka tidak perlu menjalani masa tunggu pemberitahuan seperti biasanya, sementara televisi pemerintah menyiarkan acara pernikahan massal yang diatur oleh pejabat setempat untuk semakin mempercepat proses tersebut.

Menikahi seorang tentara—terutama rekrutan yang akan segera dikerahkan ke garis depan yang dijuluki "penggiling daging" (karena tingkat kematian yang sangat tinggi)—bahkan dianggap sebagai jalan untuk bisa memiliki properti di Rusia.

Dalam sebuah siniar video yang direkam di kota Tomsk, Siberia, tahun lalu, seorang agen properti Rusia memberikan saran yang sangat sinis kepada calon pembeli properti.

"Saya seorang wanita berusia 30 tahun, tapi jika saya ingin membeli apartemen, dari mana saya harus mendapatkan uangnya?" tanya sang pembawa acara, Darya Cherdantseva.

"Sederhana saja," jawab agen tersebut, Marina Orlova. "Cari pria yang sedang bertugas dalam Operasi Militer Khusus, dan saat dia tewas, kamu akan mendapatkan 8 juta rubel (102.000 dolar AS)," ujarnya sambil tertawa."Banyak wanita yang membeli apartemen murah dengan cara seperti itu belakangan ini. Ini bisnis," tambah Orlova.

5. Banyak Penipuan

Pengadilan Rusia juga telah melakukan intervensi dalam kasus-kasus penting lainnya, seperti perselisihan yang menjadi sorotan publik antara ibu dari seorang tentara Rusia asal Ryazan dan seorang wanita setempat yang ia temui serta nikahi saat sedang cuti singkat dari garis depan.

Tentara tersebut, Georgy Kostyrko, bertemu dengan Angelina Varyukhina secara daring dan menikahinya 10 hari kemudian, sebelum kembali bergabung dengan satuannya.

Menurut ibu Kostyrko, sang istri baru tak lama kemudian mulai mengunggah foto dan video dirinya bersama pria lain di media sosial, sehingga putranya mengajukan gugatan cerai. Namun, ia gugur dalam tugas sebelum proses administrasi perceraian rampung, yang menjadikan sang istri sebagai penerima sah santunan kematian.

Varyukhina memberikan keterangan berbeda; ia menyatakan bahwa tuduhan terkait pernikahannya yang singkat itu merupakan upaya untuk "mencoreng" reputasinya, dan bahwa ia serta Kostyrko telah berdamai setelah sempat berselisih. Ia mengatakan bahwa foto-foto dirinya bersama pria lain yang diunggah secara daring itu dimaksudkan untuk membuat Georgy cemburu.

Status Varyukhina sebagai kerabat terdekat yang berhak menerima santunan pada akhirnya dibatalkan oleh pengadilan, namun skandal tersebut memicu kemarahan luas.

Namun, terdapat pula insiden mengejutkan di mana anggota pasukan keamanan Rusia diduga terlibat dalam mengatur penipuan "janda hitam" (black widow); mereka bersekongkol dengan para wanita untuk mengirim suami yang baru mereka nikahi ke dalam misi berbahaya demi mendapatkan bagian dari uang santunan jika suami tersebut tewas.

Dalam satu kasus tahun lalu, media Rusia melaporkan adanya penyelidikan di Primorsky Krai—wilayah di ujung timur negara itu—terkait dugaan skema yang melibatkan seorang perwira muda/bintara tinggi, seorang sersan, dan seorang akuntan militer. Ketiganya dituduh merekrut pria-pria yang rentan—termasuk anak yatim piatu dan mereka yang tidak memiliki kerabat dekat—lalu mengatur pernikahan bagi mereka. Para pria yang direkrut itu kemudian diduga dikirim ke posisi garis depan yang berisiko tinggi, di mana kemungkinan besar mereka akan tewas dalam pertempuran. Sejak saat itu, tidak ada informasi terbaru yang dipublikasikan mengenai kasus tersebut.

Topik Menarik