Kunjungi Pengurus NU se-NTB, Caketum PBNU Gus Salam Dorong Pengembangan Wisata Halal
Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam) menekankan pentingnya wisata halal di Nusa Tenggara Barat (NTB). Hal itu bertujuan untuk membangun kemandirian perekonomian umat.
Di hadapan pengurus PWNU-PCNU se-NTB, Gus Salam memberi sorotan pada gagasan peran dan tanggung jawab NU berdasar potensi dan peluang di daerah. Salah satunya sektor pariwisata sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi masyarakat NTB. NU harus mendorong bahkan memfasilitasi keberdayaan ekonomi warga NU di sektor pariwisata.
“Wisata halal tentunya, namun berkualitas dan inklusif. Karena potensi ekonomi pariwisata di NTB sangat besar. Untuk menjaga agama, urusan dunia menjadi kewajiban umat agar mandiri secara ekonomi. Supaya mereka bisa menopang tegaknya agama melalui fungsi kehadiran jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” ucapnya, Minggu (2/8/2026).
Baca juga: Muktamar ke-35 NU, Masyayikh Sarang Restui dan Doakan Gus Salam Menakhodai PBNU
Pernyataan ini ditegaskan Gus Salam saat silaturahmi dengan jajaran PWNU dan PCNU se-NTB yang juga di hadiri Wakil Rais PWNU NTB, TGH. Munajib Khalil di Aula Mandalika, Hotel Illira Lombok Tengah, Jumat, 31 Juli 2026. “Motivasi utama kami silaturahmi karena kami diperintahkan oleh guru kami Kiai Jazuli atau Mbah Yai Da’ (KH. Nurul Huda Djazuli),” ujarnya. Diketahui KH Nurul Huda Djazuli, dikenal Mbah Yai Da’ adalah sesepuh NU dan Pesantren, menjabat sebagai mustasyar PBNU 2021-2026. Beliau inisiator dan terlibat dalam ishlah konflik PBNU, baik di PP Al-Falah Ploso, PP Tebuireng Jombang dan PP Lirboyo Kediri, Jawa Timur, akhir Desember 2025.
Lihat video: Duduki Kursi Ketum PBNU Lagi, Gus Yahya Angkat Bicara
Mbah Yai Da’, sesepuh pengasuh PP Al-Falah Ploso Kediri, Jawa Timur, juga terpilih sebagai anggota AHWA pada Muktamar ke-34 NU di Lampung, 2021 “Masa kamu membiarkan NU konflik seperti ini. Saya (Mbah Yai Da’-red) prihatin, maka kamu harus ikhtiar di muktamar untuk jadi pemimpin di NU,” ujar Gus Salam menirukan dawuh sang gurunya.Sebagai santri, Gus Salam mengikuti perintah dan nasihat gurunya dan para ulama NU untuk maju dalma pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU. “Saya adalah santri, sendiko dawuh mengikuti arahan, perintah dan nasehat guru-kiai serta masyayikh NU dan pesantren. Ketika saya diperintah untuk ikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU melalui Muktamar ke35, nanti, saya tetap sam’an wa tho’atan,” ujar Gus Salam.
Menurut Gus Salam, ikhtiarnya telah dilakukan di 27 provinsi. Dalam silaturahmi, Gus Salam mengaku berdialog menyerap aspirasi, sekaligus membangun kepercayaan dengan PWNU-PCNU, fungsionaris, dan tokoh-tokoh NU. Baginya, bila ditakdirkan menjadi pimpinan PBNU kelak. Sesungguhnya, dirinya bukanlah pemimpin, tapi santri yang meladeni dan mengurus NU. Pemimpin NU tetaplah Hadratussyeikh Mbah Hasyim As’ari, Mbah Wahab, Mbah Bishri dan Para Pendahulu NU. “Kesimpulannya, karena ini dawuhnya kiai, kita berusaha semaksimal mungkin,” ungkapnya.
Wakil Katib PWNU Jawa Timur 2018-2023 KH Syamsuddin menyatakan Gus Salam tetap konsisten dalam penyampaian visi dan misinya sesuai arahan dan nasehat masyayikh dan sesepuh NU. Mengembalikan kepribadian NU pada semangat perjuangan dalam pergerakan, berperadaban pesantren dan berkhidmah untuk kesejahteraan umat, lahir-batin.“Itu cerminan dari ruhul jihad, ruhul ma’had dan ruhul khidmah. Menyambung kembali penjagaan ilmu agama, peneguh akhlaq, penguat persaudaraan dan persatuan, penggerak ekonomi demi kesejahteraan dan menyiapkan generasi yang sanggup berdiri tegak di tengah perubahan dunia,” kata Ra Uud, panggilan KH Syamsuddin.
“Karenanya dalam pengantar buku Gus Salam, menjaga langit pesantren, dari tradisi menuju peradaban; Nahdlatul Ulama hari ini berada pada titik sejarah yang menghendakinya berperan di semua lini strategis,” tambahnya.
Ra Uud juga menceritakan, sebelum pertemuan, Gus Salam dan para kiai dari PP Al-Falah Ploso dan PP Lirboyo Kediri menyempatkan silaturahmi ke sesepuh NU Lombok Tengah, TGH Ma’arif Makmun Diranse, di kediamannya PP Manhalul Ma’arif Darek.
“Beliau menyampaikan pesan nasihat agar pengurus NU tidak mencari makan di NU. Pesan ini beliau dengarkan langsung dari Mbah KH Bishri Syansuri, salah satu muassis NU, saat berjumpa dalam majelis ilmu di al-makkah al-mukarromah,” paparnya.










