Memprediksi Eksistensi Satwa Liar 2026 hingga 2051
Harimau Sumatera dan Badak Sumatera berisiko masuk extinction vortex (punah) sebelum tahun 2051 jika poaching (perburuan ilegal) dan inbreeding (kawin sedarah) tidak diintervensi secara agresif. Hal itu dianalisa berdasarkan teknik menghitung waktu yang tersisa dengan population viability analysis (PVA).
Menurut Kepala Pusat Unggulan Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan Unpad Dr Susanti Withaningsih, pemodelan ilmiah itu untuk memotret eksistensi satwa dalam kurun waktu 25 tahun mendatang.
Ada model lain yang dapat memantau eksistensi satwa liar. Misalnya memakai model Species Distribution yang menunjukan peta kehilangan habitat akibat perubahan iklim. Model Niche Shingkage, yakni adanya penyusutan ruang ekologis akibat kenaikan suhu global. Data menunjukan dengan cara ini, hilangnya habitat yang dramatik.
Baca juga: Manusia-Satwa Liar Hidup Berdampingan secara Harmonis, Mungkinkah?
Prediksi satwa liar lenyap juga dipotret dengan cara mountaintop extinction. Langkahnya memonitor spesies endemic dataran tinggi akan bergeser ke elevasi lebih tinggi hingga sampai pada lokasi yang tidak ada ruang tersisa. Artinya tinggal menungu kepunahan di ketinggian dataran tersebut.Cara lainnya di hadapan peserta Lokakarya Ekoliterasi Konservasi yang diadakan Pramuka Unpad dan Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) pada 28 Juli 2026 di Gedung Fisip Unpad, sering disebut Fragmentasi Datarn Rendah. Maksudnya, suatu saat karena perubahan iklim, maka gajah dan orang utan akan terisolasi dalam pulau-pulau habitat yang memperparah konflik dengan manusia.
Kemudian model Spatial Connectivity & Cirrcuit Theory (memotret isolasi populasi). Pemodelan konektivitas ini untuk mengidentifikasi koridor satwa yang terputus akibat pembangunan infrastruktur linier semacam pembangunan jalan tol, pertambangan dan perkebunan skala besar.
Kondisi ini bisa memutus alur gen etik antarsubpopulasi dan mempercepat akumulasi lethal equivalents (ekuivalen mematikan) sekaligus memperdalam extinction debt (hutan kepunahan yang belum terbayar) yang sudah terjadi.
Empat Pendorong Mematikan
Manusia tidak bisa hidup sendiri, maka manakala habitat atau satwa lenyap sesungguhnya manusia punya utang atas kepunahannya. Pemikiran ini disebut extinction debt (hutan kepunahan yang belum dibayar). Misalnya kepunahan akan terjadi karena living dead population.Maksudnya populasi yang secara genetik terlalu kecil untuk bertahan, meskipun individunya masih hidup sekarang. Misalnya, satwanya tinggal satu ekor, maka siapa pun penjagaannya akan mati juga karena tidak bisa berkembang biak.
Ada lagi yang disebut effective population size. Contoh Harimau Sumatera, Badak Jawa dan orang utan sudah di bawah ambang batas minimal kelestarian genetiknya. Ada aturan 50/500 menunjukkan ambang batas kelangsungan hidup satwa. Minimal 50 individu artinya batas minimum untuk mencegah inbreeding dalam jangka pendek. Sementara harusnya lebih dari 500 individu batas untuk mempertahankan potensi adaptif evolusioner jangka panjang terhadap perubahan lingkungan. Sementara Badak Sumatera kurang dari 80 individu jauh di bawah ambang batas kritis. Artinya populasi ini berada dalam bahaya kepunahan genetik nyata.
Sementara soal proyeksi 2051 bagaimana nasib satwa liar di hadapan para guru SMP dan SMA se Sumedang itu, Susanti menilai tergantung skenario mana yang akan ditempuh. Dia menyebut ada tiga skenario.
Pertama skenario buruk. Artinya ada pembiaran saja, Badak Sumatera akan punah lokal. Harimau Sumatera di bawah jumlah 50 dan orang utan terfragmentasi ekstrem. Semuanya tinggal menunggu kepunahan.
Skenario moderat, yakni dilakukan intervensi parsial. Laju kepunahan memang melambat, namun kurva tidak berbalik. Artinya populasi ditahan stabil saja jumlahnya walaupun tetap tidak viable (hidup layak) jangka panjang.
“Yang terbaik adalah tivitas habitat pulih, intervensi genetic berhasil dan tata kelola ekosentris menstabilkan populasi kritis berjalan,” ujar anggota Asian Raptor Research and Conservation network ini.
Namun, yang pasti semua pihak harus menyadari ada empat pendorong kepunahan yang bekerja bersamaan. Empat hal itu yakni fragmentasi dan degradasi habitat, perubahan iklim global, perburuan dan perdagangan melalui jaringan siber, dan penyakit zoonotik serta invasif.










