Lagi, Wakil Menteri Sembunyikan Uang Korupsi Rp193 Miliar di Dalam Drainase Air Hujan
Akal bulus Wakil Menteri Perminyakan Irak untuk Urusan Pengolahan Adnan al-Jumaili dalam menyembunyikan uang dugaan korupsi kembali terungkap. Kali ini, dia menyembunyikan uang tunai dugaan korupsi senilai lebih dari Rp193 miliar di dalam drainase air hujan.
Sebelumnya, dia menyembunyikan uang tunai dugaan korupsi lebih dari Rp361 miliar di dalam 11 galon air minum. Galon-galon berisi uang dan juga perhiasan itu ditemukan di dalam rumahnya oleh petugas dalam operasi anti-korupsi.
Baca Juga: Wakil Menteri Sembunyikan Uang Korupsi Senilai Rp361 Miliar di Dalam Galon Air Minum
Al-Jumaili dipecat pada 2 Juni dan kemudian ditangkap pada 28 Juni atas dugaan korupsi. Dia adalah bagian dari 67 pejabat, termasuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang ditangkap dalam operasi anti-korupsi besar-besaran di Irak.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis, Dewan Kehakiman Tertinggi Irak mengatakan uang tunai 14 miliar dinar Irak (lebih dari Rp193 miliar) tersebut ditemukan setelah para penyelidik melacak hasil keuangan yang diduga terkait dengan pemborosan dan penyimpangan dalam proyek-proyek yang diawasi oleh al-Jumaili dan pihak lain yang sedang diselidiki."Investigasi terus berlanjut untuk mengidentifikasi semua pihak yang terlibat," kata dewan tersebut, yang dikutip The New Arab, Jumat (10/7/2026).Menurut pihak kehakiman, aset yang disita dari al-Jumaili sejauh ini dalam kasus tersebut berjumlah 127 miliar dinar Irak, USD24 juta, serta properti, kendaraan, dan emas.
Skandal korupsi ini semakin meluas pada hari Rabu ketika pasukan keamanan Irak menangkap Hussein Talib, Direktur Jenderal Perusahaan Distribusi Produk Minyak milik negara, hanya beberapa jam sebelum dia dijadwalkan untuk dilantik sebagai anggota Parlemen.
Talib telah dinominasikan untuk menggantikan anggota Parlemen yang akan keluar dari State Forces Alliance (Aliansi Pasukan Negara), yang dipimpin oleh Ammar al-Hakim, tetapi ditahan di Baghdad dan dipindahkan untuk diinterogasi oleh otoritas anti-korupsi sebelum dia dapat mengucapkan sumpah Parlemen.
Talib adalah salah satu dari lebih dari 60 orang yang sekarang ditahan sehubungan dengan penyelidikan kasus korupsi tersebut, menurut sumber-sumber Irak. Mereka yang ditahan dilaporkan termasuk lebih dari selusin anggota Parlemen, pejabat Kementerian Perminyakan, dan mantan penasihat pemerintah.
Al-Jumaili diduga telah mengidentifikasi pejabat lain yang terlibat dalam korupsi setelah penangkapannya bulan lalu, dengan para penyelidik sekarang mengejar apa yang digambarkan oleh otoritas Irak sebagai salah satu kasus korupsi terbesar baru-baru ini di negara itu.Secara terpisah, pejabat Irak juga sedang mencari dua pengusaha, Hassan al-Kurdi dan Mohammed al-Kurdi, yang dituduh melarikan diri dari negara itu dan menyelundupkan sekitar USD500 juta ke luar negeri. Media Irak melaporkan bahwa pemberitahuan Interpol telah dikeluarkan sebagai bagian dari penyelidikan.
Mantan anggota Parlemen Irak, Yasser al-Husseini, mengatakan kepada The New Arab bahwa penangkapan tersebut "hanya permulaan" dari kampanye yang lebih luas melawan korupsi yang mengakar.
"Masyarakat Irak sangat mendukung kampanye ini," katanya. "Jika kampanye ini gagal, pemerintah saat ini akan kehilangan kepercayaan publik. Kampanye ini harus dilanjutkan sampai mereka yang bertanggung jawab atas korupsi dimintai pertanggungjawaban, terlepas dari afiliasi politik mereka," paparnya.





