UATAS dan AFPI Ajak Mahasiswa Bijak Kelola Keuangan
PT Plus Ultra Abadi (UATAS) bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengajak mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang (UNISMA) untuk lebih bijak mengelola keuangan di tengah masifnya layanan keuangan digital. Edukasi tersebut disampaikan dalam program Pindar Mengajar bertajuk “Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi” yang digelar di Malang, Rabu (26/6).
"Di tengah kemudahan digitalisasi sekarang, nyatanya juga memberi tantangan pada generasi muda kaitannya dalam pengelolaan keuangan. Salah satunya sikap gengsi dan FOMO, lalu kemudahan akses transaksi digital dan impulse buying termasuk di dalamnya tren flash sale dan paylater," kata Direktur Pengembangan Bisnis UATAS Shintya Maulida dalam keterangan pers, Jumat (26/6/2026).
Baca Juga:Kredit Pintar dan AFPI Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan Digital
Shintya mengatakan generasi Z saat ini menjadi salah satu kelompok penduduk terbesar di Indonesia dengan jumlah sekitar 75 juta jiwa atau hampir 28 dari total populasi nasional berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025. Karena itu, perilaku keuangan generasi muda dinilai akan sangat menentukan kualitas literasi dan kesehatan keuangan nasional di masa mendatang.
Menurut dia, kebebasan finansial tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, tetapi juga kemampuan mengatur pengeluaran, menyusun prioritas, dan mempersiapkan kebutuhan masa depan. Untuk mengendalikan impulse buying, mahasiswa disarankan membuat anggaran bulanan, membatasi pengeluaran, menghindari belanja saat emosional, serta rutin mengevaluasi kondisi keuangan.
UATAS juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menggunakan fasilitas pinjaman digital. Shintya menegaskan keputusan mengambil pinjaman sebaiknya didasarkan pada kebutuhan mendesak dan kemampuan membayar, terutama jika dana digunakan untuk kebutuhan produktif atau pengembangan usaha.
Selain literasi keuangan, perusahaan turut memberikan edukasi mengenai keamanan data pribadi di tengah meningkatnya aktivitas digital masyarakat. Kesadaran menjaga keamanan data dinilai menjadi salah satu aspek penting dalam membangun ekosistem keuangan digital yang sehat dan aman.
"Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, mahasiswa memiliki peluang besar untuk memanfaatkan berbagai layanan digital secara produktif. Namun di saat yang sama, mereka juga perlu memahami risiko yang menyertainya agar dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dan bertanggung jawab," ujar Shintya.
Baca Juga:Adapundi dan AFPI Perkuat Literasi Kuangan Melalui Edukasi 25 Jam
UATAS menyatakan akan terus mendukung berbagai program literasi dan inklusi keuangan bersama industri, regulator, dan institusi pendidikan. Langkah tersebut sejalan dengan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia masih berada di level 66,46, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51.










