Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
Pemerintah diminta segera merespons berbagai kekhawatiran pelaku pasar untuk memulihkan kepercayaan investor di tengah menguatnya sentimen negatif terhadap aset-aset Indonesia yang belakangan dikenal dengan istilah "Sell Indonesia".
Tekanan jual yang terjadi di pasar modal dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak hanya dipengaruhi faktor fundamental ekonomi, tetapi juga persepsi dan ekspektasi investor terhadap prospek ekonomi nasional ke depan.
"Karakteristik dari pasar saham itu memang sering kali sentimen, faktor sentimen itu mempengaruhi jual beli. Sehingga kalau ada sentimen yang negatif terhadap Indonesia itu sering kali mempengaruhi kinerja saham," ujar Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal dikutip pada Minggu (7/6/2026).
Baca Juga:Heboh 'Sell Indonesia' saat Rupiah-IHSG Terpuruk, Muncul Sosok Lama Bikin Kepercayaan Runtuh
Menurut Faisal, pasar saham memiliki karakteristik yang sangat sensitif terhadap perubahan persepsi. Karena itu, sentimen negatif yang berkembang dapat memicu arus keluar modal dan menekan kinerja pasar meskipun indikator ekonomi makro relatif stabil.Ia menilai pemerintah perlu memberikan respons yang cepat, terukur, dan meyakinkan terhadap berbagai kekhawatiran yang berkembang di kalangan investor. Langkah tersebut penting untuk mengembalikan kepercayaan pelaku usaha dan mencegah tekanan yang lebih besar terhadap pasar keuangan domestik.
"Yang menjadi kekhawatiran pasar harus betul-betul direspons oleh pemerintah secara serius dan dengan langkah yang tepat untuk bisa mengembalikan kepercayaan para pelaku usaha," ujarnya.
Faisal menambahkan bahwa penguatan fundamental ekonomi saja belum cukup apabila tidak dibarengi dengan komunikasi kebijakan yang efektif. Menurut dia, ekspektasi dan keyakinan investor sering kali menjadi faktor dominan dalam menentukan arah investasi di pasar modal.
Baca Juga:Rupiah, IHSG, dan Krisis KepercayaanSementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berkali-kali menegaskan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam posisi yang kuat, ditopang oleh kinerja fiskal yang terjaga dan pertumbuhan ekonomi yang tetap solid.
Purbaya menilai fenomena "Sell Indonesia" lebih banyak dipicu oleh sentimen pasar dibandingkan kondisi riil perekonomian. Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat komunikasi kepada pelaku pasar, antara lain melalui percepatan publikasi data APBN Kita untuk menunjukkan kondisi fiskal dan ekonomi nasional yang tetap sehat.
Menurut dia, penyampaian informasi yang transparan dan konsisten diharapkan dapat meredam sentimen negatif yang berkembang sehingga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia dapat kembali pulih secara bertahap.










